Hak Memperoleh Pekerjaan Bagi Difabel

0
332

Oleh: Chicilia Inge

[Kab. Bandung, 15 Maret 2020]  Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat memenuhi hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak. Hal ini dikarenakan keterbatasan pada fisik menjadikan penyandang disabilitas di pandang sebelah mata.

Salah satu tujuan yang akan dicapai negara Indonesia ialah peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat, tidak hanya dalam arti material akan tetapi juga dalam semua bidang kehidupan karena secara langsung menyakut harkat dan martabat manusia. Adapun, keadilan sosial yang meliputi kesenjangan, peningkatan kecerdasan bangsa, perolehan pekerjaan yang layak, pelayanan kesehatan yang memuaskan dan terhindarnya rakyat dari kelaparan serta berbagai bentuk jaminan sosial. Dalam hal ini tujuan keadilan sosial adalah mencakup seluruh masyarakat dan seluruh rakyat bangsa Indonesia, termasuk masyarakat penyandang disabilitas. Perlindungan terhadap penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang No 8 tahun 2016. Meskipun demikian, kenyataannya, akses terhadap pilihan pekerjaan bagi penyandang disabilitas masih sangat terbatas.

Dalam studi mengenai relasi antara media massa dan penyandang disabilitas di Inggris, Penyandang disabilitas memang sangat kurang berpatisipasi dalam kehidupan sosial sebagai dampak langsung dari kondisi fisiknya yang seringkali menghalangi aktivitas mereka dan membuat disabilitas cenderung tersingkirkan dalam masyarakat (Woods 2006). Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 10% dari total jumlah penduduk (WHO, 2011). Oleh karena itu, lapangan kerja dan akses fasilitas publik bagi penyandang disabilitas masih sangat terbatas (Jurnal Perempuan, 2010, p.65).

Baca juga:

Namun media massa cenderung tidak mengadaptasi perubahan cara pandang yang mengutamakan keseteraan ini. Oleh karena itu, minimnya representasi disabilitas dalam media massa, khususnya proses produksi, menyebabkan konten yang ditampilkan dalam wacana media massa mengenai penyandang disabilitas terus melanggengkan diskriminasi terhadap disabilitas dalam kehidupan sosial (Woods, 2006).

Media massa seringkali menempatkan disabilitas sebagai kelompok minoritas yang dianggap menyimpang dari normal. Ketidakadilan dalam penggambaran disabilitas di media massa ditunjukkan dengan stereotip dan representasi negatif media massa terhadap kelompok disabilitas. Berdasarkaan identifikasi terhadap berbagai stasiun televisi di Kanada yang dilakukan oleh organisasi, dapat diketahui tiga karakter umum stereotip terhadap kelompok disabilitas yaitu korban yang patut dikasihani, superhero yang memiliki kecacatan fisik, dan penjahat yang kejam (Media Awareness, 2010).

Di Indonesia, kecacatan fisik masih dimaknai sebagai suatu ketidaksempurnaan, sesuatu yang abnormal, bahkan terkadang dipandang aib yang memalukan (Masduqi & Thohari, 2010). Dari sudut pandang agama, penyandang disabilitas yang diciptakan dengan ‘ketidaksempurnaan’ adalah seseorang yang patut dikasihani dan kemudian berhak mendapatkan amal sedekah dari orang yang ‘sempurna’ (Ghaly, 2010). Dalam media massa, penyandang disabilitas dianggap sebagai objek kasihan dan lelucon (Muhammadun, 2011). Kondisi disabilitas tersebut sesuai pertanyaan bahwa masih terdapat bias dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas di Indonesia.

Kesempatan dalam memperoleh pekerjaan bagi penyandang disabilitas tidaklah banyak. Terdapat tiga kendala utama terkait kesempatan bagi penyandang disabilitas yaitu prasangka komunitas, presepsi negatif, serta keterbatasan dana perusahaan dalam penyediaan akses bagi tenaga kerja penyandang disabilitas (Fuller, 2006, p.1).

Adapun faktor eksternal yang menyebabkan sedikitnya tenaga kerja penyandang disabilitas yang terserap yaitu stigma negatif yang ada di masyarakat. Kurangnya pemahaman pelaku usaha mengenai potensi serta keuntungan memperkerjakan tenaga kerja penyandang disabilitas menimbulkan keraguan pelaku usaha dalam mengambil keputusan untuk merekrut tenaga kerja penyandang disabilitas dan faktor internal yang sering ditemui adalah masalah psikologis seperti rendah diri (Hernandez et al, 2011).

Selain itu, adapun pelaku usaha yang mempekerjakan penyandang disabilitas disabilitas hanya dipandang sebagai amal (charity). Oleh karen itu, sebagian besar tenaga kerja penyadang disabilitas yang bekerja hanya memegang posisi sebagai pekerja tingkat pemula dan musiman (Hernandez et al, 2011).

_________
Mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara, Jurusan Jurnalistik.