Guru adalah Sumber Inspirasi

0
147
Teacher in front of chalkboard

Oleh: Dera Sofiarani

Ini adalah cerita pengalaman personal tentang seorang guru. Kisah pendek ini juga salah satu ungkapan terima kasih pada seorang guru.

[Bandung, 15 Juli 2019] Inti terpenting dalam pendidikan adalah keberadaan seorang guru. Sehebat-hebatnya profesor, mereka pernah menjadi murid dari seorang guru sejak mereka belum bisa mengeja huruf. Dan kita semua berutang pada guru. Menurut George F. Kneller dalam Pengantar Filsafat Pendidikan, guru adalah seseorang yang pekerjaanya mengajar orang lain dalam aspek menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain secara kognitif, melatih keterampilan jasmani kepada orang lain (psikomotorik), dan menanamkan nilai & keyakinan kepada orang lain (afektif).

Meskipun hingga kini banyak nasib guru yang belum sejahtera, dan itu pekerjaan rumah yang harus diprioritaskan oleh negara. Sangat miris melihat kabar bahwa di pedalaman masih ada guru honorer yang sebulan digaji 300 ribu rupiah. Penghormatan pada guru adalah nilai luhur yang perlu dihidupkan karena guru juga menjadi sumber inspirasi.

Sumber inspirasi adalah sebuah bentuk kewajaran yang ada pada semua orang, sumber inspirasi yang menyebabkan kehidupan orang lebih baik dari sebelumnya. Sumber inspirasi juga ada dalam berbagai macam, bisa saja berbentuk kata-kata bijak, puisi, cerita bahkan seseorang yang tentunya dijadikan sumber inspirasi.

Kunjungan yang saya lakukan kepada seseorang yang dari dahulu saya jadikan sumber inspirasi untuk saya, dan membuat kehidupan saya sebagai penyandang disabilitas netra menjadi lebih baik. Beliau adalah guru saya yang bernama Indah Setyaningrum.

Sedikit kembali pada cerita masa lalu, saat saya duduk di kelas dua SMP, hubungan saya dengan Bu Indah lebih daripada sekedar murid dan guru, maksudnya adalah kedekatan kami sampai kepada kedekatan keluarga. Hal ini menyebabkan saya juga sangat mengenal suami dari Ibu Indah yang bernama Bapak Agung Wibowo, berikut tiga anak perempuan mereka yang cantik.

Mengisi momen lebaran, berkunjung ke rumah Ibu Indah adalah rencana yang sudah jauh-jauh hari saya inginkan, dan akhirnya dengan bantuan salah satu teman saya yang bersedia mengantar, sampailah saya di rumah Ibu Indah.

Saya merasa lebih senang karena saat saya datang, saya bertemu dengan teman-teman penyandang tuli atau teman tuli. Mereka terkejut dengan penampilan saya saat ini begitupun sebaliknya. Akhirnya tak sengaja momen itu sekaligus dimaknai sebagai sebuah reuni kecil.

Banyak yang kami ceritakan sore itu, mulai dari dukungan penuh yang dberikan Ibu Indah dan Pak Agung terhadap kesukaan saya dalam bidang menulis. Kemudian tentang bagaimana perkembangan kepedulian antar difabel dan non difabel di Kota Bandung, sampai pada pembentukan lembaga yang dilakukan oleh Ibu Indah dan Pak Agung yang memang bergerak untuk kemajuan dan kesetaraan masyarakat disabilitas di Kota Pekalongan.

Terwujud dalam pembagian kursi roda gratis, pembagian tongkat gratis, pembagian mesin jahit gratis untuk teman tuli. Bahkan pembagian alat pencuci motor untuk teman disabilitas yang berminat pada pekerjaan itu. Usulan lowngan kerja untuk teman-teman disabilitas yang memiliki kemampuan, sampai kepada usulan untuk beberapa universitas yang bisa menerima disabilitas untuk melanjutkan kuliah.

Ibu Indah dan Pak Agung memberikan nasihat kepada saya bahwa menjadi disabilitas itu bukanlah hal yang sulit jika kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan. “Bunda sangat bangga memiliki murid seperti Dera, tetap bermitra dengan semua orang serta membangun relasi untuk kemajuan.”