Guide Dogs For the Blind: Bisakah Diterapkan di Indonesia?

0
464
Foto: https://www.zinc96.com.au

Oleh: Agus Maja |

[Bandung, 2 September 2018] Alat bantu tunanetra untuk berjalan sangatlah penting dimiliki karena, dengan alat bantu seperti tongkat ataupun guide manusia begitu membantu bagi tunanetra melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, apakah bisa penerapan guide dogs (anjing pendamping) diterapkan di Indonesia? Jika berperspektif kebhinekaan tentulah bisa, selain itu ditinjau dari konteks HAM pun tidak berbenturan. Lalu di manakah sesungguhnya letak masalahnya? Maka jawaban ini pasti mengerucut pada agama. Mayoritas warga muslim Indonesia banyak yang ketat terhadap keberadaan anjing karena menjadi salah satu binatang yang digolongkan najis air liur, mulut, dan kotorannya. Juga dilarang untuk dikonsumsi menurut ajaran Islam. Sebenaranya, bukan hanya Islam yang melarang tapi, para pencinta binatang (terutama anjing), kaum vegan (vegetarian), dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh[1] juga melarang memakan anjing dengan alasan dari keyakinan dan perspektifnya masing-masing.

Namun, apakah kita mengetahui seperti apa hukum yang benar-benar dijadikan pedoman? Tengok saja Malaysia, Negara yang mayoritas muslim sudah menerapkan guide dogs untuk tunanetra di sana. Ini adalah hal yang sangat sensitif dibahas, dan perlu melibatkan seluruh unsur mulai dari tokoh agama dan pelaksana negara, yang jelas, guide dogs adalah sebuah simbol kebebasan hak dan kemajuan cara pandang terhadap disabilitas.

Guide dogs terbukti efektif sebagai alat bantu bagi manusia (untuk kepolisian dan disabilitas). Persoalan najis sebenarnya bisa lebih mudah disiasati. Seharusnya demi kemudahan bagi penyandang disabilitas (di tengah situasi minimnya fasilitas publik bagi disabilitas), guide dogs tidak perlu dipermasalahkan. Kita hanya perlu menggunakan pemikiran empati, solidaritas, dan humanisme.


[1] Denominasi Kristen yang beraliran evangelikal. Gereja ini berasal dari Gerakan Miller yang muncul di Amerika Serikat pada pertengahan abad 19.