Gugum Si Kaki Besi Bobotoh Difabel Kuningan

0
402

Oleh: Latipah

[Selasa, 9 Desember 2018] Kasubag Analisis Informasi Bagian Humas Setda Kabupaten Kuningan, Wibawa Gumbira yang akrab disapa Gugum ini dikenal sejak tahun 1996 sebagai perintis berdirinya komunitas suporter ‘Balad Persib’ bersama Sigit Nugroho seorang wartawan bola di Bandung.

Ketika ‘Balad Persib’ pasif karena Sigit Nugroho diangkat menjadi Ketua Asosiasi Suporter Sepak Bola Indonesia, Gugum kemudian bergabung dengan ‘Viking Persib Club’ di bawah pimpinan Heru Djoko. Skripsi Gugum (S1 Fakultas Komunikasi Unpad) mengangkat tentang pengaruh suporter viking terhadap prestasi Persib Bandung di Liga Indonesia menunjukkan kecintaannya kepada Persib.

Sosok Gugum ini adalah salah seorang perintis berdirinya Viking Persib pada tahun 2004 di Kuningan. Viking Persib dikenal sebagai salah satu bobotoh atau suporter sepak bola terbesar di Indonesia bahkan masuk 5 besar di dunia (Sumber: www.viva.com).

Hobi Gugum mendukung dan menonton Persib berlaga di lapangan hijau masih dilakukannya sampai sekarang, terutama saat hari libur atau akhir pekan. Di hari kerja tentu saja tidak bisa dilakukannya, karena ia sudah menjadi salah satu pejabat struktural yang telah memengang janji sebagai ‘Abdi Praja’ di pemerintahan Kabupaten Kuningan.

Menurut Gugum, menjadi suporter setia Persib adalah hal terindah dalam hidupnya. Momen paling berkesan baginya adalah ketika Liga Indonesia VIII tahun 2003. Saat itu, suporter Viking Persib mengikuti acara kuis Siapa Berani di salah satu stasiun televisi nasional. Tanpa diduga, saat itu terjadi pertikaian yang nyaris mengorbankan nyawa dari dua supporter.

Wibawa Gumbira lahir di Bandung, 17 Juli 1976. Pria gemuk berkacamata ini juga pernah menduduki jabatan sebagai Ketua Viking Soreang Kabupaten Bandung (2000-2003). Bahkan Ketua Umum Viking Persib Club Indonesia, Heru Djoko menjulukinya ‘Gugum Si Kaki Besi.’

Mengapa demikian? Karena ternyata Gugum adalah seorang difabel daksa. Ketika usia 6 tahun kaki kirinya diamputasi, sehingga sejak saat itu ia memakai alat bantu kaki kiri palsu. Kekurangan secara fisik tersebut membangkitkan motivasi Gugum untuk bisa membuktikan bahwa dirinya bisa berprestasi melebihi yang lainnya.

Terbukti, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, Gugum selalu menjadi juara satu di kelasnya. Bahkan Gugum dapat meraih IPK 3,79 (cum laude) saat lulus dari Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran. Dukungan keluarga menjadi salah satu motivasi berprestasi dalam hidupnya. Gugum mulai terjun dalam dunia organisasi mahasiswa pada tahun 1996. Saat itu ia bergabung bersama KAMU (Komite Aksi Mahasiswa Unpad) pimpinan saudara Moeradi (Guru Besar Ilmu Politik Universitas Padjadjaran)

Berjuang bersama pada puncaknya menjadi saksi hidup tahun 1998 saat berdemontrasi bersama jutaan mahasiswa seluruh Indonesia menggulingkan rezim orde baru di Jakarta. Pada tahun 1996, Gugum bertemu dengan Elon Carlan dan Hendar yang merupakan aktivis difabel. Mereka sering berkumpul dan berdiskusi tentang bagaimana cara memperjuangkan hak-hak para difabel dalam memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

Biasanya, mereka berkumpul dan berdiskusi di sekitar PSBN Wyata Guna. Mereka mengaplikasikan hasil berkumpul dan berdiskusi dengan melakukan kegiatan audiensi ke berbagai pihak, salah satunya dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Mereka disambut baik, sampai akhirnya lahirlah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

Elon Carlan salah seorang aktivis difabel yang berasal dari Kabupaten Kuningan adalah idola yang mempengaruhi perjalanan hidup Gugum. Sejak tahun 2004, berkat jasa Elon Carlan, Gugum resmi diangkat menjadi tenaga honor di Bagian Kesra Setda Kabupaten Kuningan. Berjuang bersama Elon Carlan yang menjadi salah seorang pejabat struktural di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan dalam organisasi KPPC (Komisi Pemberdayaan Penyandang Cacat) memperjuangkan sebanyak 20 orang difabel menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan.

Gugum juga aktif sebagai salah seorang pengurus teras di Dewan Pengurus Korpri Kabupaten Kuningan. ‘Nikmati hidup dengan bersyukur dan jadilah diri sendiri’ adalah motto hidup Wibawa Gumbira. Seorang difabel daksa yang tidak pernah minder dengan kondisi fisiknya.

Hal ini dibuktikan oleh dirinya saat menjadi bintang tamu di acara ulang tahun Viking Persib  di Taman Balai Kota Bandung. Gugum yang juga sebagai vokalis grup band ‘Tola-Toli’ tampil satu panggung bersama PAS Band, Puppen, Pure Saturday, Burger Kill, dan lainnya.

Gugum tampil memakai celana pendek sehingga kaki palsunya terlihat jelas oleh ribuan penonton. Dalam orasinya Gugum mengajak seluruh difabel se-Indonesia untuk tidak minder dan harus eksis membuktikan diri, layak dihargai dan bukan dikasihani.

(Sumber: Pikiran Rakyat)