Gempa di Majene dan Mamuju Menghidupkan Lagi Trauma

0
721

Penulis: Indra Rukmana 

Newsdifabel.com — Awal tahun 2021 Indonesia kembali diguncang gempa bumi berkekuatan besar. Dilansir dari akun resmi BMKG, gempa magnitudo 6.2 kedalaman 10 km terjadi pada 15 Januari 2021 di timur laut Majene, Sulawesi Barat. Kekuatan gempa yang terjadi cukup besar hingga terasa di Kota Palu, salah satunya di kota Palu, Sulawesi tengah.

Saat gempa terjadi, salah satu difabel netra ikut merasakan guncangnya. “Saat gempa terjadi, aku lagi bermain laptop di kamarku. Tiba-tiba lampu kamarku mati, nyala, mati, nyala dengan jarak hitungan detik. Karena kondisi penglihatanku yang masih tersisa sedikit, dapat dilihat lampu tersbut bergantian mati dan menyala. Karena lampu di kamarku, jika ada guncangan terjadi dia akan otomatis mati sendiri. Lalu aku segera mengambil ponsel dan turun ke lantai dasar rumahku.” unar Tiara Ramadhani (19) seorang siswi SLB Muhamadiyah Kota Palu saat dihubungi via telepon (16/1). Ketika gempa terjadi, dirinya langsung membangunkan seisi rumah saat itu.

Tiara masih masih trauma saat gempa 2018 lalu terjadi di Palu. “Reflek, sih, langsung teriak-teriak. Langsung seisi rumah terbangun dan mengecek pusat gempa terjadi di daerah mana. Saat dicek rupanya terjadi di Mamuju dan Majene, Sulawesi barat.” imbuhnya.

Tiara menceritakan betapa takutnya jika gempa besar kembali hadir di Kota Palu, tentu dia belum dapat memulihkan rasa trauma pasca gempa 2018 lalu.

“Takut, sih, ketika merasakan ada goncangan, terkadang suka teriak dan langsung mengucap istighfar jika ada goncangan yang dirasa, mudah-mudahan bukan gempa besar terjadi. Tapi gempa 6,2 di Sulbar membuka kembali luka yang belum kering dalam benakku. Masih trauma dan gak tau pokoknya campur aduklah yang dirasakan.” pungkas gadis yang memiliki hobi bernyanyi itu.

Tiara pun kembali membuka kenangan saat gempa 2018 terjadi, dan dirinya sedang berada di dalam rumah. “Pas gempa di Kota Palu 2018 lalu, aku sedang mandi dan orang-orang di rumah teriak-teriak ada gempa. Langsung dari dalam kamar mandi aku kenakan pakaian seadanya dan langsung keluar rumah dengan hati-hati dan berpegangan benda di sekitarnya dengan dibantu oleh saudaraku.”

Rumah Tiara mengalami kerusakan sedang saat gempa terjadi, dan keluarganya selamat. Dirinya berharap “Semoga teman-teman difabel yang di Majene juga Mamuju dapat mengevakuasi diri dengan selamat dan semoga bisa berkumpul dan dalam kondisi sehat bersama keluarga tercinta. Meski di tengah bencana yang terjadi tak lupa banyak memohon perlindungan kepada Allah Swt. agar dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.”

Tiara juga berpesan kepada Pemerintah, juga masyarakat Indonesia pada umunya, “Semoga dapat langsung mengevakuasi warga yang terdampak dari bencana tersebut, serta langsung menyalurkan logistik yang dibutuhkan oleh warga di pengusian.

Sampai saat ini, Newsdifabel.com belum dapat tersambung oleh teman-teman difabel di Majene dan Mamuju.

Mitigasi Bencana untuk Difabel

Dalam pelaksanaannya, proses mitigasi bencana bagi difabel perlu diprioritaskan, alasannya sudah jelas bahwa difabel lebih kesulitan untuk mengevakuasi diri sehingga sangat terpapar risiko ketika terjadi bencana. Persoalan berikutnya adalah upaya pencegahan. Sejauh mana keseriusan pemerintah dalam membuat mitigasi bencana untuk difabel. Edukasi masif memang penting meskipun tidak cukup tanpa ada pengadaan infrastrukturnya, baik itu akses bangunan dan pengelompokan data persebaran difabel.

Tentang edukasi atau penyuluhan mitigasi bencana jangan sampai mulai marak ketika telah terjadi gempa di suatu tempat. Harus secara berkala dan masif. Begitu juga dengan akses bangunan, dan ini pekerjaan rumah yang tak selesai-selesai. Jangankan tentang akses bangunan yang memudahkan evakuasi difabel, trotoar untuk difabel, bahkan di depan lembaga yang menaungi difabel, saja masih tak aksesibel.

Tentu kita semua berharap bahwa pemerintah pusat dan daerah serius memperhatikan difabel. Benar bahwa takdir adalah urusan Sang Pencipta, tapi ikhtiar adalah kewajiban manusia.