Gajah dan Orang Buta

0
414
Foto: www.onartandaesthetics.com

Oleh: Yayat Ruhiyat

[Cimahi, 25 September 2018] Apakah kita pernah mendapatkan sebuah dongeng tentang gajah dan orang buta? Dongeng tersebut selalu diulang terus dan dijadikan sebagai analogi. Versi yang lebih terkenal bersumber dari Rumi dalam buku Matsnawi dengan judul Gajah di Dalam Rumah yang Gelap.

Sebuah dongeng dari antah-berantah, di seberang negeri bernama Ghor yang menurut legenda, semua penduduknya adalah orang buta. Bermula dari situlah ada empat orang buta berselisih tentang bentuk seekor gajah.

Gajah tersebut adalah tunggangan perang dari seorang raja yang sedang melintas di negeri orang buta. Diceritakan dalam sebuah ceramah seorang ustaz di masjid daerah Cijerah, bahwa empat orang buta penasaran dengan gajah tersebut. Setelah memegang belalainya, orang buta pertama mengatakan, ‘Gajah itu seperti terompet’. Lalu orang buta kedua menyahut, ‘Menurut aku, gajah itu seperti meja’, sebab ia memegang badannya. Orang buta ketiga meraba kaki gajah, kemudian angkat bicara, ‘Menurut aku, gajah itu seperti pohon kelapa’. Setelah meraba ekornya, orang buta keempat meyakinkan kawannya, ‘Gajah itu seperti cambuk’.

Beberapa penceramah memang suka mengangkat dongeng ini, mungkin untuk memecah kantuk atau ingin melucu, mengocok perut para jemaah.

Menurut saya, hal di atas sungguh tidak etis sebab, mengandung pelecehan terhadap tunanetra, sedangkan Allah Swt. berfirman dalam Algujarat, ayat 11 yang artinya ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memperolok-olok suatu kaum,sebab boleh jadi kaum tersebut lebih baik daripada kamu’.

Untuk menjaga ukhuwah antar umat, seyogianya para penceramah dalam menyampaikan tausiahnya berpegang pada etika bahasa, sehingga tidak menyingung orang lain. Bukankah Islam mengajarkan agar sesama mukmin itu bersaudara?

Di era yang semakin modern ini tentu berkembang juga ragam istilah, pembahasaan, dan metode berbahasa. Kita memiliki banyak argumentasi analogi yang lebih manusiawi, dan punya banyak pilihan menggunakan diksi agar tidak menyinggung perasaan manusia lain. Tentu analogi di atas bisa relevan ketika zaman dahulu, tapi bisa jadi sudah tidak relevan untuk zaman sekarang karena pengertian tentang kemanusiaan bagi difabel telah menuntut kita agar menjadi manusia yang tidak diskriminatif, dan punya banyak pilihan dalam memilih pembahasaan.

Baca juga: Memanusiakan Manusia

Kejadian ini dialami oleh penulis ketika mendengar ceramah hari Minggu di salah satu masjid daerah Cijerah, Cimahi.