Edukasi Risiko Bencana Secara Dini untuk Difabel

0
740

Penulis: Zaenal

Newsdifabel.com — Dalam penanggulangan bencana, kita harus melibatkan semua orang, termasuk difabel. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam merespon apa yang terjadi sebelum, saat, dan setelah bencana. Bencana merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya jumlah difabel di seluruh dunia.

Berdasarkan penelitian yang ada menunjukkan difabel lebih rentan meninggal dua hingga empat kali dibandingkan populasi umum ketika bencana terjadi. Indonesia adalah sebuah negara yang rentan bencana seperti gempa bumi dan gunung meletus karena terletak di wilayah cincin api. Populasi difabel mencapai 8,56% dari populasi penduduk Indonesia atau sekitar 21 juta jiwa.

Akan tetapi, difabel masih sering dilupakan ketika terjadi bencana. Penelitian menunjukkan difabel kesulitan untuk mengakses peringatan dini dan informasi-informasi keselamatan bencana karena mereka dikucilkan secara sosial.

Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) jarang mempertimbangkan difabel dalam respon bencana. Rendahnya kesadaran akan difabel pada masyarakat menciptakan stigma bahwa difabel adalah kelompok rentan. Stigma ini membuat mereka sulit mengakses bantuan dan pelayanan ketika terjadi bencana.

Mendorong salah satu difabel untuk menjadi pemimpin atau wakil yang dapat memberikan informasi dua arah serta dapat mengajak semua kalangan difabel untuk terlibat dalam kegiatan respon bencana bisa mengurangi jumlah korban meninggal atau orang yang menjadi difabel karena bencana.

Dikutip dari Theconversation.com, melalui sebuah kerangka kerja internasionalnya, PBB telah menyerukan pemberdayaan difabel agar mereka tidak hanya dapat terlibat secara aktif, tapi juga memimpin. Kepemimpinan difabel juga penting agar respon bencana dapat secara efektif memenuhi kebutuhan difabel itu sendiri.

Pusat studi disabilitas dan kemanusiaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menerangkan dari UNCRPD (United Nations Convention of the Rights Persons with Disabilities) tahun 2011, mengatakan bahwa negara-negara sepihak perlu mengambil langkah untuk memastikan perlindungan dan keselamatan bagi difabel pada kondisi berisiko termasuk di dalamnya bencana. Dikaitkan dengan kebijakan di tingkat nasional, pada Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 Pasal 20, terdapat ayat yang mengatakan perlunya perlindungan terhadap difabel apabila terjadi bencana untuk mendapat hak informasi, juga akses jika terjadi bencana. Difabel juga perlu mendapat pengetahuan tentang pengurangan risiko dampak bencana.

Upaya mitigasi bencana yang tertera pada Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, terdapat serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana yaitu dengan pembangunan fisik seperti penghijauan, reboisasi, dan arsitektur bangunan anti gempa. Selain itu, perlu adanya peningkatan kesadaran dan kemampuan difabel dalam penanggulangan ancaman puncak sebuah bencana.

Masih minimnya latihan atau pendidikan tentang risiko bencana bagi difabel membuat pentingnya pendidikan respon penanggulangan bencana dilakukan dari usia dini. Meskipun telah dilakukan melalui beberapa lembaga pendidikan namun belum menyeluruh, mengingat jumlah pulau di Indonesia mencapai 16 ribu lebih yang terdapat banyak anak-anak.

Dengan melakukan konsentrasi pendidikan risiko bencana usia dini, mulai dari tingkat sekolah dasar, dan lebih spesifik di tingkat menengah secara berkelanjutan dipastikan dapat mengurangi risiko dampak bencana. Pembelajaran materi risiko bencana pada ranah pendidikan dapat dilakukan melalui dua cara alternatif yang dapat ditempuh yaitu menjadi mata pelajaran yang dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran atau menjadi kegiatan ekstrakurikuler.

Jika materi dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran membutuhkan waktu dan penyesuaian kurikulum yang ada sebelumnya, sedangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler bisa dimasukkan ke dalam kegiatan pramuka. Dari sini juga diperlukan sarana dan prasarana media pendukung pembelajaran risiko bencana. Dengan konsep permainan atau bernyanyi diharapkan mampu membuat suasana sosialisasi menjadi menyenangkan meskipun dalam proses mempelajari bagaimana bisa menyelamatkan diri atau melakukan perlindungan saat terjadi bencana.