Edukasi Inklusi, Belajar dari Pengalaman di Yogyakarta

0
185

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 25 Agustus 2020] Pandemi  belum berakhir. Fase new normal atau dibukanya kembali ruang aktivitas luar rumah meski terbatas dan ketat pengawasan serta sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan, belum mampu menurunkan laju pertambahan kasus positiv Covid-19. Data pemerintah hingga Senin (10/8/2020) pukul 12.00 WIB total ada 127.083 kasus Covid-19 terhitung sejak 2 Maret lalu. Ada penambahan 1,687 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Data terbaru kasus Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta pun cenderung ada peningkatan, 862 terkonfirmasi 570 sembuh dan 24 meninggal (Kompas.com). Ada peningkatan dari empat hari lalu yang dikonfirmasi 784 kasus yang sembuh 448 dan korban meninggal 21 (Wikipedia 6/8/2020)

Kondisi tersebut juga mengundang respon masyarakat Yogyakarta dengan membentuk Aliansi Jaga Jogja, Aja Lena, Aja Sembrana.

Sebuah gerakan yang mengajak warganya termasuk kalangan difabel baik warga asli, pendatang, maupun pengunjung untuk tetap patuhi protokol kesehatan meski sudah masuk fase new normal.

Nurul Sa’adah Andriani, Direktur Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA) memaparkan, tingkat kesadaran para difabel terkait protokol kesehatan Covid-19 di Yogyakarta cukup menyadari, terlebih untuk aktivitas di luar rumah atau di ruang publik. “Sebetulnya temen-teman difabel di Jogja cukup sadar dengan protokol Covid-19,” paparnya.

Baca: Hardiknas 2020, Refleksi Pendidikan di Tengah Pandemi

Ia juga menyampaikan peran komunitas yang saling menjaga dan memberikan informasi mengenai perkembangan, bahkan saling memberikan informasi peralatan yang mudah dan aman bagi masyarakat difabel untuk meminimalisir paparan Covid-19. Artinya mereka sadar bahaya dan paham juga dengan mencegahnya.

Namun, disinggung terkait infodemi yang sempat marak di media sosial terkait sebaran virus corona yang dikaitkan dengan jaringgan 5G di negara luar seperti Amerika dan Inggris, masyarakat difabel Yogyakarta belum mengetahui.

Nah itu yang sepertinya belum,” kata Nurul, saat dikonfirmasi sejauh mana para difabel Yogya tahu info hoak dan teori konspirasi yang beredar di medsos tentang virus corona.

Dilansir dari berbagai media, ada tiga jaringan 5G yang dibakar, yakni di Birmingham, Livepool, dan Merseyside. Beredar sebuah teori yang mengklaim wabah Covid-19 yang bermula dari Wuhan, sebab kota di China tersebut baru meluncurkan teknologi jaringan 5G.

Full Fact, nirlaba pemeriksa fakta independen Inggris membantah klaim tersebut. Teknologi 5G tidak menimbulkan risiko bagi manusia, dan virus Covid-19 telah menyebar secara luas ke banyak negara yang tidak memiliki teknologi tersebut.

Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengutarakan, aliansi ini bisa terbentuk karena adanya keprihatinan bersama, Yogjakarta yang menjadi daerah terbaik dalam penanganan Covid-19, dalam beberapa waktu terakhir ini masyarakatnya terlihat berkurang kewaspadaannya. Ditambah dengan kenaikan kasus harian yang menjadi salah satu indikator, kemudian Mafindo mengajak organisasi dan lainnya untuk membuat gerakan bersama. “Semakin banyak yang tidak bermasker di luar, dan juga semakin kurangnya perilaku jaga jarak,” katanya.

Sebuah gerakan non partisan yang tujuannya adalah mengajak masyarakat Yogjakarta untuk mempertahankan praktik baik seperti kepatuhan masyarakat, kolaborasi antara warga, komunikasi dengan pemerintah daerah. Dengan terus melakukan hal baik tersebut relatif dapat bertahan dari dampak negatif selama pandemi ini.

Berkaitan dengan infodemi yang beredar di media sosial, masyarakat perlu mengambil peran dalam situasi ini. Dampak langsung dari sebaran berita hoaks dapat membuat masyarakat jadi berkurang keputusannya tentang aturan protokol kesehatan.

Partisipasi difabel bagian dari literasi dan edukasi

Organisasi difabel sangat penting menjadi bagian gerakan ini. Dalam praktik komunikasi publik selama pandemi, sangat terbatas materi edukasi terkait protokol, kontra narasi terhadap hoaks dan teori konspirasi, dalam bentuk media atau konten yang mudah dipahami oleh masyarakat difabel. “Perlu bersinergi dengan organisasi difabel untuk mengurangi kekurang berimbangan itu,” tegas Septiaji.

Dari pantauannya sejauh pengetahuan tim Mafindo, dari interaksi bersama masyarakat difabel, mereka sudah melakukan protokol yang dianjurkan pemerintah. Namun, di kalangan difabel masih belum banyak mengetahui tentang seluk beluk hoaks dan teori konspirasi yang berpotensi menghambat penanganan pandemi tersebut. Kondisi inilah yang menjadi salah satu hal yang ingin dibagikan, yaitu memudahkan masyarakat difabel membedakan mana kabar bohong dan mana fakta terkait isu-isu seputar pandemi.

Edukasi infodemi yang mulai disampaikan pada masyarakat difabel belum mengalami hambatan. Selama ini komunikasi yang belum intensif saja, dapat memberi nilai cukup optimis, ke depan diharapkan bisa saling gethok tular tentang pengetahuan infodemi yang berhubungan dengan Covid-19.

Pesan dari gerakan aliansi ini ingin menyampaikan cintai Yogjakarta, begitu juga untuk masyarakat luas di daerah lainnya agar tidak mengendorkan protokol kesehatan. Tetap waspada ketika bekerja atau beraktivitas diluar rumah. Juga Aja Sembrana atau jangan sembarangan, tetap disiplin menjaga jarak, selalu menggunakan masker saat di ruang publik, rajin mencuci tangan, dan tidak membuat keramaian.

Masyarakat juga jangan segan untuk menasehati orang yang ditemukan tidak mematuhi protokol kesehatan. Ajakan ini juga diserukan kepada para difabel.

Menciptakan literasi inklusi

Valentina Sri Wijiyati Relawan Mafindo, memiliki peran dalam membantu menghubungkan Mafindo Yogyakarta sebagai pemrakarsa dengan organisasi-organisasi difabel seperti: SIGAB, SAPDA, Gerkatin DIY, Gerkatin Kabupaten Sleman, Pusbisindo Yogja, serta lembaga peduli hak anak (SAMIN) dan perempuan (Rifka Annisa) dalam berkegiatan juga memberi pasilitas Juru Bahasa Isyarat (JBI)

Harapannya ingin gerakan ini inklusif, tidak meninggalkan kelompok rentan seperti kalangan anak, masyarakat difabel, dan perempuan,” kata Wiji.

Disadari Wiji, dengan melibatkan mereka akan menambah informasi secara tepat terkait persoalan yang sedang terjadi di masyarakat, sehingga mereka tidak tertinggal mengakses informasi yang berkaitan dengan perkembangan covid-19.

Masyarakat nantinya akan memiliki kesadaran sendiri untuk mengetahui hal apa saja yang mesti dilakukan, sebagai upaya mencegahan dan perlindungan diri dimasa pandemi. Pihak Mafindo terutama, sebagai penyedia debunk atau klarifikasi atas infodemi hoaks yang marak di sosial media.

Mafindo memang kerja intinya literasi digital terkhusus antihoaks,” pungkasnya.

Era Normal Baru

Nurkholis Majid, korwil Mafindo Yogyakarta, juru bicara aliansi menerangkan, saat berdiskusi, semua pihak yang tergabung dalam gerakan tersebut sepakat mendukung. Kendati di sisi lain masih ada masyarakat luas termasuk dari kalangan difabel yang kurang memahami secara utuh tentang covid seiring fase new normal diberlakukan.

Belum dapat informasi apakah di Yogya terdapat kasus Covid-19 yang dialami difabel,” katanya.

Aliansi ini dibangun bersama, dan salah satunya yang dibangun terkait infodemik yang sempat beredar di media sosial. Sebagai langkah awal, termasuk penguatan kebersamaan dalam mendukung gerakan tetap menjaga protokol kesehatan di masa new normal.

Saat ini menyampaikan berita benar perlu usaha, di lain sisi perlu usaha juga untuk mampu melawan berita hoaks,” tutur Nurkholis.

Masyarakat diminta saling mendorong, saling bantu antar anggota aliansi untuk melakukan kegiatan yang terus-menerus secara komprehensif baik melalui media umum maupun media sosial. Baik kegiatan anjuran protokol kesehatan, berita anti hoaks terkait infodemi, keduanya dapat dilakukan bersama-sama. “Mari bersama-sama mendukung dan membuat gerakan serupa di kota lainnya, semoga kita semua terlindungi,” pungkasnya.

Pesan pada masyarakat luas terkait pandemi yang belum berakhir, agar tetap menggunakan masker untuk melindungi diri sendiri, keluarga, maupun orang lain, serta tetap menjaga jarak saat beraktivitas di luar rumah maupun saat berada di ruang publik.

Bukan hanya untuk wilayah Yogyakarta, untuk wilayah lain di seluruh tanah air juga berharap tetap ikuti aturan protokol kesehatan meski sudah memasuki fase new normal.