Dua Nama di Udara

0
562

Penulis: Siti Latipah

Semula aku tak pernah menduga, rinduku padamu selalu menghadirkan gema kidung dari sudut jiwa. Lalu, kemarau yang kita nikmati bersama sunyi membuat kita sama-sama memagut sepi. Dunia kampus adalah dunia yang terapung di antara taman-taman yang merekahkan cinta.

Matahari baru keluar dari ufuk timur. Hujan semalam masih meninggalkan dingin yang menusuk tulang. Jika saja Annisa tak ingat hari ini harus kuliah, malas sekali sepertinya dia melipat selimut dan beranjak dari ranjang. Tapi, aktivitas di sekitar kamar kontrakannya memaksa gadis ramping itu untuk segera menyudahi tidur lelapnya.

“Ting, tang, ting, ting.”

Terdengar instrumen piano mengabarkan bahwa ada seseorang yang menghubungi gawainya. Dengan mata yang masih setengah terbuka, Annisa menjawab panggilan itu.

“Halo!” katanya singkat.

“Lo dimana, Nis? Gue dah di kelas nih. Cepetan datang! Pagi ni kan makul Bu Mirna.” Suara nyaring Santi terdengar di seberang.

“Duuuh, gue lupa San. Udah ya, gue lom ngapa-ngapain nih,” Annisa mengakhiri sambungan telefon seraya melirik jam dinding yang asik klak-klik, klak-klik di samping pintu kamarnya.

“Ampuuun, setengah tujuh!” gadis berjilbab itu pun berlomba dengan waktu siap-siap pergi ke kampus, ngebut seperti dikejar anjing lucu tapi galak setengah mati milik tetangga kontrakannya.

Dengan nafas ngos-ngosan, Annisa sampai di depan kelas. Bu Mirna baru datang juga sepertinya. Pintu kelas setengah terbuka. Namun, saat gadis muda itu sampai di ambang pintu, tanpa kata-kata, dosen cantik di hadapannya menutup pintu kelas, seolah berkata, “Udah, lo ga usah masuk!”

Yaaa, sekarang duduklah Annisa di kursi depan kelasnya menunggu sampai dua SKS ke depan. Samar didengarnya Bu Mirna menjelaskan realisme.

“Huaaay!” Annisa menguap. Matanya berat.

Angin yang masih saja dingin membuat matanya mengantuk lagi.

“Woooy,”

Seorang mahasiswa menggebrak meja kursi kampus yang diduduki Annis, biasa gadis itu disapa.

Annisa belum sepenuhnya mengetahui siapa yang menggagalkannya pergi ke alam mimpi itu.

“Lo mau kuliah atau tidur, Neng?” Selorohnya seraya ambil posisi duduk manis di samping Annisa.

“Oooh, lo,” Annisa mengucek mata.

“Gue kira siapa.” Katanya menatap lekat laki-laki berkemeja biru yang sejak ospek sudah menjadi idolanya.

Natan. Mahasiswa yang ideal sebagai mahasiswa tingkat pertama, rebutan kakak senior. Atletis, pintar, kritis, dan dinginnya itu lho, buat meleleh hati Annisa. Hanya saja, nyebelinnya tingkat dewa.

“Eeeh, tugas statistik udah?” Tanya Annisa iseng.

“Udah, lah! Lo mau nyontek kan? Duh, sorry, gue lagi sibuk.” Lanjutnya.

“Uuuh, sibuk apaan, orang dari tadi cuma maenin HP.” Kata Annisa dalam hati.

Bu Mirna dengan tas super mahalnya keluar dari kelas. Annisa buru-buru masuk. Natan, cowok idola yang nyebelin itu nguntit di belakangnya.

“Ih, dieeem,” ada yang narik-narik belakang kerudung Annisa.

“Ih, ngapain siiih,” Annisa memutar badan. Natan nyengir lalu pergi gitu aja.

“Ga sopan, ga punya etika” Annisa nahan marah. Natan entah pura-pura ga denger entah emang ga denger sama sekali. Dia sibuk dengan teman-teman cowoknya.

Mata kuliah kedua dimulai. Natan duduk di samping Annisa. Annisa senang tak kepalang, meski Natan selalu usil.

“Hmm, rumus yang nomor 2 itu gimana sih, Tan?” kata Annisa pasang muka manis.

“Heh, makanya dengerin kalo dosen ngejelasin tuh. Bukannya perhatiin gue.” Ujarnya sambil terus nulis.

“Gue perhatiin lo, ih ga banget! Gue dengerin tau, tapi gue ga ngerti” Kata Annisa kesel.

“Ya salah siapa jadi orang be*o.” katanya. Matanya sama sekali tidak melirik Annisa. Muka manis Annisa sama sekali tidak mempan jadi umpan.

Mata kuliah kedua beres. Sama sekali tidak menyenangkan. Annisa keluar kelas dengan hati jengkel. Dalam pikirannya menari-nari Natan yang dia idolakan tapi setengah mati menyebalkan. Annisa terus melamun hingga tak sadar di depan ada got cukup dalam.

“Shrak, brug!”

Annisa pun dengan mulus mendarat di dalam got. “Huuuh, sakiiit! Mana ga ada orang lagi.” Umpatnya dalam hati. Susah payah Annisa naik. Tapi di dalam got begitu licin.

“Heeeh, bukannya naik malah maen ski dalam got.” Suara seseorang yang benar-benar tidak Annisa harapkan terdengar.

“Haduh, Nataaan, kenapa sih harus lo orang pertama yang ngeliat gue? Cacian apa lagi yang bakal gue terima dari lo?”

Lalu ada tangan kuat yang menarik Annisa ke atas. Posisi Natan di belakangnya. Setelah Annisa ada di atas, Natan tidak melepaskan tangannya. Dia lanjut membersihkan jeans blue black Annisa yang sekarang sudah jadi black betulan, dan hmm, sedikit berbau.

“Gak usah, Tan.” Katanya menghindari tangan Natan dengan tisu basah yang siap meluncur lagi ke kemeja panjang Annisa.

Kemeja putih itu seperti baru dibatik, kerudung putih motif kupu-kupu pun sudah tidak cantik lagi. Lumpur di sana-sini.

Annisa diam. Natan pun demikian.

Sepersekian detik di antara diam mereka menyelusup sebentuk rasa. Tunduknya mata Annisa dan tegasnya pandangan Natan menjadi simbol kekakuan mereka.

“Kosan lo dimana, sih? Gue anterin mau, ya?” kata Natan memecah kebisuan mereka.

Annisa tidak menjawab. Dia hanya memberi isarat kecil dengan tangannya. Beriringan mereka menyusuri gedung tinggi FMIPA, FIP, FPOK, dan lalu keluar gerbang belakang kampus. Mata orang-orang yang melirik janggal pada Annisa tak dihiraukannya. Yang berkecamuk dalam hatinya hanyalah Natan yang dengan suka rela mengiringinya dari belakang.

Annisa keluar kamar dengan terusan spandek halus warna-warni, biru, merah, hitam, putih, pink, dan kuning. Kerudung putihnya dibiarkan menjuntai begitu saja tanpa pin atau asesoris lain. Bukan karena Annisa tidak modis, tapi lebih karena dia takut terlambat masuk kelas lagi setelah tragedi got satu jam yang lalu.

Dari kejauhan dia menangkap sesosok laki-laki yang berdiri di samping kiri gerbang kosannya. Laki-laki itu melambai kepadanya.

“Natan?” fikirnya. Senyum kecil Annisa mengembang begitu saja.

“Dia nunggu aku ganti baju?” fikirnya lagi.

Annisa mempercepat langkahnya mendekati gerbang kosan. Dan benar saja. Natan dengan senyum khasnya menghampiri Annisa.

“Ngapain di sini?” Tanya Annisa basa-basi. Dalam hatinya, uuuh tentu saja bahagia luar biasa.

“Heeeh, ga tau diri, ya. Udah ditolongin, dianterin, ditungguin, bukannya bilang makasih malah nanya ngapain?” kata Natan seraya menyejajarkan dirinya dengan Annisa. Kini mereka berjalan berdampingan dengan jarak, hmm, mungkin hanya satu langkah saja.

“Ooh, trims.” Jawab Annisa singkat.

“Trims, hmm, akronim ‘terimakasih sayang’ apa, ya?” Natan nyengir ke arah Annisa.

“Kali.”

Kata Annisa menyembunyikan senyumnya.

“Kali, sungai, laut, akan kuseberangi demi seorang peri hati.” Kata Natan dengan gaya seorang penyair.

Kali ini Annisa benar-benar senyum. Senyum yang mencairkan suasana. Natan yang tadi pagi menyebalkan, menjelma menjadi seorang pangeran dambaan Annisa. Dan bagi Natan, kepura-puraan itu sudah tak harus lagi.

Di taman yang ramai itu mereka duduk berhadapan. Di antara mereka bukan meja, melainkan kolam kecil berisi ikan-ikan munggil.

“Aku usil ke kamu soalnya aku suka sama kamu.” ujar Natan datar. Sapaan lo-gue di antara mereka sirna sejak peristiwa got. Sebagai gantinya, aku dan kamu yang jauh lebih manis sebagai sapaan. Pandangan Natan tidak terarah kepada Annisa.

“Hmm,” gumam Annisa.

Pandangan mereka jatuh pada objek yang sama, ikan cantik perak dan ikan manis merah. Ikan-ikan mungil itu mengapung tak terarah. Mereka tak bernyawa karena mereka ikan-ikan plastik hiasan.

“Mereka indah kan, Nis?” tanya Natan. Matanya mengisyaratkan pada kedua ikan perak dan merah yang mengapung berdampingan. Annisa tidak menjawab. Dia hanya mengangguk saja.

“Perasaan, kita juga indah, Nis, tapi keadaan kita beda. Sama kayak warna ikan itu. Kontras banget.” lanjutnya.

Annisa mulai menggigit bibir. Dia menahan air matanya. Lalu mereka hening. Tak ada kata. Tak ada bahasa. Yang ada hanya rasa yang hampa. Mereka saling mencinta. Tapi mereka tak berdaya. Mereka tak punya kuasa. Berjam-jam mereka dalam bisu. Siluet senja yang menyadarkan mereka. Dengan enggan mereka beranjak dan berpisah di tengah jalan.

Mata Annisa berkaca-kaca di atas sajadah. Ingatannya akan terlarangnya cinta lintas agama menjadi buah durian yang tajam. Annisa pasrahkan dalam doa rayuan kepada Sang Maha Pemilik Cinta. Agar Tuhan membuka cahaya terang kepada Natan.

Dirinya tidak mempedulikan deringan notifikasi whatsapp dan telepon dari gawainya yang tergeletak di pinggir sajadah. Tak beberapa lama, embun di matanya singgah di pipi. Ratapan doa Annisa menghampiri Natan yang secara bersamaan berdoa juga.

Di malam itu, Natan melelehkan mutiara-mutiara matanya sendirian saja di dalam kamar. Bibirnya menggumamkan doa. Dipeluk dan dipandanginya rosario dalam genggamannya. Natan berharap, agar diberi petunjuk antara agama dan cinta. Annisa dan Natan beriringan doa dengan cara yang berbeda.

Malam telah hilang ditelan kilatan raja siang di ufuk timur. Annisa terjaga. Dirinya masih di atas sajadah. Annisa terbangun dan langsung memegang gawai yang dari semalaman belum disentuhnya. Panggilan tak terjawab didapatinya belasan kali atas nama Natan. Pesan teks dan voice note whatsapp pun muncul masih atas nama Natan. Mata Annisa membuncah, senyum tipis mengembang ketika untaian kata dari whatsapp Natan membawanya hanyut dalam gelombang arus sajak-sajak cinta. Dalam isi whatsapp itu pula Natan berdoa meminta jalan yang terbaik agar diberikan pilihan. Kemudian Annisa diam. Hatinya mendesir entah oleh luka atau tawa.

Dan, di sini, di bandara internasional Soekarno-Hatta, kisah cinta Natan dan Annisa benar-benar akan terpisahkan dimensi religi, ruang, dan waktu.

Tiga hal yang membuat mereka mengambil keputusan untuk mengakhirinya. Dengan berat hati Annisa harus melepas Natan yang memutuskan untuk berpindah kuliah ke Amerika, tempat ayahnya bertugas. Begitu pun dengan Natan, dia dengan enggan meninggalkan Indonesia, sebuah negeri paling puitis yang telah menumbuhkan perempuan seindah Annisa.

Biarkan kisah mereka hanya tersisa dalam angan-angan saja. Annisa dan Natan berpisah tanpa jabat tangan, tanpa kenang-kenangan, mereka hanya saling bertatapan lalu menenggelamkan diri dalam tangisan dan lambaian tangan.

Di hati mereka, masing-masing saling menitipkan doa pada Tuhan yang esa. Mereka biarkan semuanya mengalir begitu saja. Sakit memang, tapi inilah jalan hidup.

Annisa dengan takzim merapal doa, “Ya Allah Swt. sumber segala cinta-kasih, yang menentukan arah hati ditambatkan, lindungilah Natan. Allah Swt. yang maha pengasih dan penyayang, jauhkan Natan dari segala marabahaya.”

Dalam hati dan jiwanya, seolah mereka terus bertautan, Natan lirih berbisik pada Tuhan, “Tuhan dikuduskanlah namaMu, yang bertahta di kerajaanNya berlimpah cinta-kasih. Bawakan seribu cinta dari murninya kasih Bunda Maria pada Annisa. Lindungi dan selamatkanlah dia. Amin.”

Pesawat yang membawa Natan pergi dari Annisa, membuncahkan debu-debu kota. Lalu debu itu membentuk dua buah nama di udara: Natanael Kristian, Annisa Fitria Nurani.

Kita adalah pertemuan dua lautan, masih maukah kau mengecup keningku ketika tiba di samudera?

Lalu pertanyaan yang datang bagai gema dari langit itu pudar. Meninggalkan dua luka di belantara jiwa mereka.