Dompet Digital untuk Difabel

0
560

Penulis: Delia 

Newsdifabel.com — Ingat nggak sih kalian karena takut uangnya hilang, orang tua atau nenek kita sering menyimpan uang atau perhiasannya di bawah bantal dan lemari pakaian. Itu semua karena mereka merasa paling aman dan bisa diambil kapan saja jika diletakkan di sana. Tapi hal tersebut memiliki risiko yang besar apabila terjadi perampokan atau pencurian. Wah, pasti bisa berabe urusannya. Kemudian dari cara primitif ini berpindah lokasi penyimpanan uang melalui jasa perbankan, berapapun jumlah uang yang dimiliki konglomerat tuan tanah yang uangnya nggak bisa habis tujuh turunan, bisa disimpan dengan aman karena semua kantor perbankan memiliki fasilitas keamanan 24 jam, baik manusia ataupun ruangan dengan brankas besi yang kuat.

Mungkin maling amatiran yang masih menggunakan linggis untuk mencuri tidak bisa membobol brankas bank. Saldo uang yang disimpan tertulis rapi di kolom buku tabungan dan kita bisa melakukan pembayaran menggunakan kartu ATM dan juga penarikan uang tunai melalui mesin ATM. Tapi tetap saja masih ada nilai minus di sini, yaitu adanya potongan administrasi setiap bulan, meskipun kecil tapi cukup mengikis saldo kita yang cukup membeli satu mangkok baso malang favorit kita. Pada saat menabung dan mengirim uang pun kita harus mengantre dengan nasabah lain sesuai bank tempat kita menabung, belum lagi kalau kita mengirim uang ke bank lain, sudah pasti ada biaya tambahan lagi.

Tapi semua itu berubah saat aku menemukan bentuka baru menabung, salah satu syarat penunjangnya adalah jaringan internet beserta perangkat seluler canggih. Sekarang uang kita bisa disimpan ke dalam dompet digital. Apa, sih, dampaknya dompet digital ini bagi difabel? Tentu sangat banyak.

Dilansir dari Tekno.kompas.com, ada 5 aplikasi dompet digital milik lokal dengan pengguna terbanyak, secara berurutan, masih diduduki oleh Go-Pay, Ovo, Dana, LinkAja, dan Jenius.

Pada 4 Januari 2021 kami berhasil menghubungi salah satu konsumen dompet digital yang sudah cukup lama menggunakan transaksi cashless ini. Namanya Angga Nugraha (30), seorang terapis pijat shiatsu yang juga difabel netra di tempat kerjanya di Jalan Pajajaran, Bandung. Ia mengenal dompet digital dan memakainya dari tahun 2018.

Menurut Angga, tingkat literasi digital dan pemahaman IT untuk difabel netra masih belum merata. Menurutnya hanya berkisar 70 sampai 80% saja difabel netra yang dia kenal menggunakan aplikasi dompet digital.

“Sebagai difabel netra saya sangat terbantu menggunakan dompet digital, selain simpel dalam menyimpan uang, dompet digital ini banyak terhubung dengan aplikasi berbasis daring, baik transportasi atau e-commerce. Mengisi saldonya pun mudah, bisa di kantor pos, minimarket, konter berlabel dompet digital dan banyak lagi lainnya. Tidak harus mengantre serta tidak ada potongan bulanan dan biaya administrasi pada saat transfer ke sesama dompet digital ataupun ke rekening bank, alias gratis.” tutur Angga.

Tak hanya itu saja, manfaat dompet digital dinilai memudahkan Angga, katanya, “Dengan adanya dompet digital ini, sangat membantu semua orang, tidak hanya difabel, apalagi masih dalam suasana pandemi seperti ini kita dituntut untuk tetap di rumah. Biasanya saya sering pakai dompet digital untuk pesan makanan, transportasi, dan kadang-kadang belanja kebutuhan pakaian atau peralatan elektronik di toko daring. Selain mudah menggunakan, dompet digital juga sering memberikan diskon dan juga cashback bagi penggunanya setiap kali transaksi di platform aplikasi daring.”

Tentu saja setiap aplikasi yang berhubungan dengan sistem daring dan komputerisasi memiliki risiko dan beberapa kelemahan seperti sistem yang tiba-tiba error atau ada hacker yang mencoba membobol uang yang ada di akun dompet digital kita. Meskipun jarang terjadi karena setiap aplikasi dompet digital sudah dilengkapi dengan keamanan yang canggih tapi baiknya kita tetap waspada. Sedangkan dari segi aksesibilitas yang ada di ponsel cerdas masih belum sepenuhnya akses karena masih ada beberapa tombol tak berlabel seperti gambar dan icon tertentu yang tidak dibacakan, meskipun tidak semua dan tergantung dari merek ponsel cerdas itu sendiri.

Beberapa merk ponsel cerdas memang ada yang mendukung penuh dalam pengaplikasian pembaca layar ini pada semua aplikasi. Selain itu pada saat proses pendaftaran menjadi akun premium bisa melakukan transaksi transfer dari dompet digital ke akun rekening bank, pengguna harus mengunggah foto KTP dan foto diri bersama KTP-nya. Untuk difabel netra hal ini tentu saja sangat sulit dilakukan dan harus dibantu oleh orang lain. Jadi ke depannya diharapkan semua platform dompet digital bisa mengkaji ulang agar aplikasinya dapat mendukung aplikasi pembaca layar untuk difabel netra. Satu hal yang perlu anda perhatikan dalam penggunaan dompet digital ini, siapapun anda, difabel ataupun non difabel, jangan pernah gunakan dompet digital jika tidak ada dana yang harus anda simpan alias kantong kering.