Disabilitas Netra Berjalan Mundur

0
131

Oleh: Latipah

[Bandung, 1 Februari 2019] Kemarin (31/1) puluhan penyandang disabilitas netra menggelar aksi berjalan mundur. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan akan kebijakan pemerintah yang dipandang belum memihak terhadap disabilitas netra. Mereka tergabung dalam Forum Akademisi Luar Biasa. Aksi dimulai dari depan Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, yang sekarang nama dan konsepnya berubah menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) di Jl. Pajajaran No. 52 Bandung. Aksi kemudian berlanjut menyusuri Jl. Cihampelas, Wastukencana dan berakhir di Jl. Diponegoro. Mereka menempuh jarak sekitar empat kilometer.

Sebagian besar peserta aksi adalah penerima manfaat BRSPDSN Wiyata Guna yang didukung atlet paralympic Jawa Barat, Perkumpulan Barudak Netra, Gerakan Pilihan Sunda, dan stakeholder lainnya.

Berbagai lagu nasional yang mereka nyanyikan di sepanjang jalan mengobarkan semangat. Semangat mereka mencuri perhatian warga yang juga melintasi jalur-jalur yang mereka lalui. Koordinator aksi, Karisma Nurhakim menyatakan bahwa, aksi ini digelar sebagai ungkapan kekecewaan kepada pemerintah yang terkesan tidak memberi perlindungan kepada penyandang disabilitas. Contohnya saja, “Sampai saat ini, tidak ada satu badan resmi yang dibentuk pemerintah khusus menangani masalah disabilitas.” katanya.

Banyak kebijakan yang tumpang tindih, minimnya perlindungan kepada disabilitas karena sampai saat ini belum ada badan pemerintah resmi yang membawahi disabilitas,” imbuhnya, saat diwawancari di sekitar Jl. Pajajaran Kota Bandung.

Nurhakim mengungkapkan bahwa, aksi jalan mundur dipilih sebagai gambaran mundurnya sistem untuk masalah penyandang disabilitas di Indonesia. Salah satu contohnya pengubahan Panti Wyataguna menjadi balai yang tentunya merugikan. “Panti Wyata Guna yang telah berubah menjadi balai tadinya menampung sekian banyak orang untuk kegiatan pendidikan dan lain-lain, sekarang diubah (atau dibatasi) menjadi 50 orang saja. Jadi, ini satu kemunduran bagi kami,” tuturnya.

Selain itu, Aris, begitu dirinya akrab disapa, menambahkan bahwa, dalam debat perdana capres-cawapres beberapa waktu lalu juga dinilai belum ada komitmen yang kuat dari masing-masing pasangan calon untuk penyandang disabilitas. “Debat kemarin tetang HAM hanya sedikit menyinggung masalah disabilitas. Tapi tidak ada komitmen untuk disabilitas dalam menanggulangi masalah yang ada,” tambahnya.

Aris meminta para calon pemimpin itu bisa memberi perhatian lebih terhadap nasib penyandang disabilitas yang selama ini acap kali dipandang sebelah mata. Dilansir dari detik.com.