Disabilitas dan Pendidikan Tinggi

0
412
Foto: www.jawapos.com

Oleh: Ravindra Abdi Prahaswara

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah menempuh Sekolah Menengah Atas yang mencakup program fokasi, sarjana, magister, doktor, profesi, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pendidikan tinggi adalah salah satu indikasi kunci kemajuan bangsa karena, pendidikan tinggi merupakan wadah para pemikir yang akan melahirkan kecerdasan intelektual, sosial, emosional, yang siap mengabdi di masyarakat untuk berkontribusi membawa pembaharuan positif. Untuk itu, perguruan tinggi berlomba-lomba menjaring dan mencetak bibit unggul lewat program pengajaran dan penelitian yang semakin berkualitas.

Membeludaknya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi membuat nilai plus bagi perguruan tinggi tersebut membangun kepercayaan publik agar keberadaanya makin diakui di tengah masyarakat. Minat menempuh pendidikan tinggi datang dari segenap lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat dengan tingkat ekonomi kelas bawah, kelas menengah dan kelas atas, ke semua lapisan masyarakat itu terdapat kelompok penyandang disabilitas. Sayangnya minat yang begitu besar ini tidak diimbangi dengan adanya penyediaan sarana prasarana yang memadai di perguruan tinggi.

Dalam tahap seleksi mahasiswa baru misalnya, perguruan tinggi negeri membuka tiga jalur penerimaan yakni jalur SNMPTN (jalur undangan), SBMPTN (jalur seleksi bersama), dan Seleksi Mandiri (seleksi di masing-masing universitas). Dari ketiga jalur tersebut, SBMPTN dan Seleksi Mandiri dirasakan masih belum bisa memfasilitasi penyandang disabilitas untuk maksimal dalam mengikuti ujian. Memang secara teknis mereka mendapatkan pendamping dari panitia untuk membacakan soalnya, namun waktu yang diberikan hendaknya ditambah dan tidak disamakan dengan mereka yang non-disabilitas. Kemudian akan muncul persoalan bagi disabilitas (missal: tunanetra) karena untuk mendengarkan pengawas membacakan soal ujian sudah menghabiskan waktu lama, ditambah dengan waktu yang digunakan untuk berfikir dan menjawab pertanyaan.

Tak jarang juga dijumpai bentuk soal Tes Potensi Akademik (TPA) dan matematika yang di dalamnya terdapat banyak gambar, yang sulit dideskripsikan oleh panitia ketika membacakan soal untuk tunanetra. Maka perlu adanya soal yang aksesibel dalam bentuk braille baik teks maupun gambar agar penyandang disabilitas netra mampu mengerjakan soal secara mandiri tanpa bantuan orang lain.

Banyak dari penyandang disabilitas yang tidak lolos seleksi Perguruan Tinggi Negeri bukan karena mereka tidak kompeten, namun sistem seleksi ujiannya yang memang masih dirasakan kurang aksesibel dan menyulitkan. Namun bukan berarti dengan begitu mereka kehilangan semangat untuk menempuh pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi Swasta menjadi pilihan alternatif berikutnya yang cukup menjanjikan untuk mereka supaya tetap dapat bersaing di bidang akademis dengan orang lain yang non-disabilitas. Pemerintah juga sudah mengamanatkan pada seluruh perguruan tinggi lewat UU No. 8 tahun 2016 dan Permenristekdikti No. 46 tahun 2017 bahwa perguruan tinggi wajib menerima mahasiswa penyandang disabilitas dan menyediakan pendidikan khusus serta memberikan layanan yang dibutuhkan untuk menunjang perkuliahan, dan mobilitas di dalam lingkungan perguruan tinggi.

Pertanyaannya, apakah aplikasi dari peraturan pemerintah itu sudah dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing perguruan tinggi? Jawabanya adalah: Belum. Perguruan tinggi masih banyak yang menolak calon mahasiswa dengan penyandang disabilitas. Alasanya karena program studi yang dipilih belum siap memberikan layanan khusus untuk penyandang disabilitas. Sebenarnya siap atau tidak, itu tergantung ada atau tidaknya kemauan. Jika kemauan itu ada, dan kesempatan itu diberikan oleh perguruan tinggi untuk penyandang disabilitas mencoba masuk dalam sebuah prodi tertentu, maka secara bertahap, semua pihak akan sama-sama belajar memahami disabilitas dan bisa memfasilitasi dengan aksesbilitas yang dibutuhkan. Kemudian yang tak kalah penting adalah sosialisasi dan pelatihan untuk dosen yang mengampu mata kuliah di kelas yang terdapat mahasiswa penyandang disabilitas. Cara mengajar dosen, media yang dipakai, dan cara interaksi dosen hendaknya disesuaikan dengan hambatan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas. Perguruan tinggi hendaknya menyediakan soal ujian dalam bentuk soft file untuk mahasiswa tunanetra agar mereka dapat mengerjakan soal secara maksimal, dan tidak kesulitan saat pelaksanaan UTS dan UAS.