Difabel Pelestari Musik Tradisional

0
438

Penulis: Agus Maja

Newsdifabel.com — Gamelan Sunda diperkirakan mulai berkembang sekitar akhir abad ke-18 atau awal abad ke 19. Naskah Sang Hyang Siksa Kanda Ng Karesian, menyebutkan bahwa gamelan mulai masuk ke tanah sunda sekitar abad ke-16. Dalam perkembangannya gamelan sunda mengalami perubahan seperti penambahan nyanyian dalam permainannya.

Gamelan sunda atau degung adalah ansambel musik tradisional asal Jawa Barat. Terdiri dari suling degung, rebab, kecapi, bonang, kulanter, jengglong, saron, gambang, panerus, gong, dan kendang. Penambahan suling, kendang dan rebab dikarenakan adanya kebutuhan musikal. Dibandingkan gamelan Jawa yang memilki tempo lebih lambat, dan gamelan Bali yang lebih dinamis, suara mendayu-dayu dari alat musik suling dan rebab yang lebih mendominasi dari gamelan menjadi ciri khas gamelan Sunda.

Edi Sundara salah satu pelaku seni tradisioanl yang sekaligus guru di SLB A N Padjajaran Bandung sudah tak terhitung berapa banyak siswa binaannya yang berhasil menguasai alat musik tradisional ini. Awal ia mengenal musik gamelan sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, namun ketika mempelajarinya saat di bangku SLTP kelas tiga.

Kesulitan mempelajari alat musik ini ialah kemampuan intelgensi akademik dan intelegensi musik selain itu jadi tidak ada alasan kesulitan dalam mempelajari musik tradisional meski tidak melihat. Guru yang pertama kali mengajarkan Edi Sundara adalah Pak Darmin.

Kesulitan Edi Sundara dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik adalah beragamnya tiap angkatan belajar namun Edi memiliki beberapa metode yaitu memperbanyak alokasi praktik dari pada teori di dalam kelas. Jika peserta didik yang mempunyai kemampuan dasar maka Edi akan memberikan praktik yang tidak begitu rumit dan cukup memberikan praktik mengiringi lagu dengan rumus yang telah diberikan.

Kata Edi, “Jika peserta didik yang memiliki intelegensi di atas rata-rata maka mereka saya bimbing untuk menirukan tanpa bimbingan langsung dengan materi rumus bermain gamelan yang sdah diajarkan.”

Anak didik Edi Sundara banyak yang berhasil, contohnya pernah berkolaborasi dengan SMK 1O Bandung dalam pembukaan Peparnas 2017, mengisi dalam acara hajatan, acara resmi pemerintah, bermain di hotel baik dalam kota ataupun luar kota.

Selanjutnya Edi mengatakan, “Banyak suka duka yang saya alami di antarnya bagi peserta didik yang tidak mampu menguasai alat musik tradisional. Selain itu, saya merasa senang jika anak didik saya berhasil menguasai alat musik tradisional, oleh sebab itu, saya berharap sekolah dapat bermitra dengan lembaga yang konsen dalam bidang seni, sebab hal ini sangat diperlukan untuk menyalurkan kemampuan peserta didik”.

Semoga suatu saat nanti seni budaya tradisional daerah lebih banyak lagi yang mengapresiasi pelaku seninya terkhusus pelaku seni tradisional dari kalangan difabel netra. Hargai para difabel sesuai kemampuannya dan jangan pernah mengatakan difabel tidak mampu sebelum menyaksikan sebuah karya yang dihasilkan.

(Dilansir dari Ensiklopedia Jakarta)