Difabel-Normatifitas: Bayangkan Semua Manusia di Dunia adalah Difabel

0
508

Penulis: Barra. 

Newsdifabel.com – Normatifitas adalah norma atau kaidah yang berlaku dalam pengetahuan/alam pikir masyarakat. Jika ditautkan dengan kata difabel/nondifabel maka bermakna sebuah norma atau kaidah tentang yang-difabel atau yang-nondifabel.

Beberapa waktu lalu, saya menyelinap masuk ke panel pencarian di Instagram. Lalu menemukan unggahan sebuah poster (saya lupa nama akunnya) yang sudah didesain dengan gambar ikon manusia (seperti penanda di toilet umum untuk membedakan letak toilet laki-laki dan perempuan). Pada gambar poster yang saya temukan isinya adalah semua ikon manusia itu berkaki satu, namun hanya ada satu ikon yang berkaki dua.

Saya akan mengajak berlogika lalu berimajinasi. Pada logika ini (sebelumnya saya meminta maaf) anggap saja “kenormalan” manusia adalah yang berkaki dua, dan jumlahnya mayoritas sehingga membuat definisi normal adalah manusia yang berkaki dua. Sehingga, yang berkaki dua itu sudah menjadi fenomena umum.

Sekarang, kita balik logikanya, mari kita berimajinasi, bagaimana jika seluruh manusia di dunia sejak lahir sudah berkaki satu, lalu ada jumlah yang lebih sedikit yang berkaki dua, maka, yang menjadi fenomena umum adalah yang lahir dengan satu kaki, sehingga yang berkaki satu itulah yang dijadikan sebagai definisi “kenormalan” manusia.

Kesimpulannya bagaimana? Apakah karena mayoritas dan menjadi fenomena umum maka bisa menentukan dan ditentukan bahwa dirinya sebagai yang-normal? Tentu tidak.

Lalu, darimana manusia mendapatkan pengetahuan bahwa yang-normal adalah yang berkaki dua? Jika ada yang menjawab “Ya karena memang begitu adanya” maka itu adalah jawaban orang bingung.

Dan inilah problem yang berlarut-larut ketika kita mempelajari logika. Seolah-olah yang sudah jadi fenomena dan diyakini oleh mayoritas, maka itu pasti benar, dan logikanya harus diikuti oleh semua, termasuk yang minoritas.

Fenomena dan Noumena

Saya akan menyinggung sebuah pengetahuan filosofis yang saya ambil dari pemikiran filsuf besar dari Jerman bernama Immanuel Kant. Dalam salah satu gugus pemikirannya, cara pandang Kant mengenai dunia dibagi dalam dua hal: fenomena dan noumena.

Fenomena, menurut Kant, secara singkat adalah segala sesuatu yang bisa kita ketahui. Sebuah persepsi yang datang dari manusia tentang keberadaan benda-benda/objek atau gejala fisik yang dapat kita alami dan rasakan. Kaitan dalam pembahasan ini, nondifabel-normativitas (singkat saja menjadi nondif-norma) yaitu sebuah kesimpulan bahwa yang-normal adalah yang nondifabel. Itu adalah kesimpulan fenomenologis.

Fenomena nondif-norma ini telah beroperasi dalam pengetahuan manusia secara sadar atau tak sadar. Hasil dari operasi pengetahuan itu bisa dilihat dari masih adanya pengetahuan bahwa yang-normal adalah yang nondifabel.

Dampak nondif-norma ada pada persoalan cara pandang terhadap difabel yang ekspresinya menjadi diskriminatif, charitybased, dan menganggap bahwa difabel adalah penyakit (medically-based).

Tentang noumena; dalam teori Immanuel Kant, noumena adalah sesuatu yang hadir sebelum menjadi fenomena (noumena ada terlebih dahulu sebelum fenomena). Ambil saja contoh: jika ada seseorang yang berkaki satu, tidak dapat melihat dan mendengar, itu disebut difabel. Dari mana itu bisa disebut difabel? Sekarang coba bayangkan, bagaimana jika dalam pikiran kita tidak mengenal kata difabel atau “cacat”, apakah seorang yang berkaki satu, tidak dapat melihat dan mendengar, masih disebut difabel? Dengan demikian, ketika segala sesuatu (benda-benda/objek) yang bisa kita indrai (dilihat, diraba, didengar, dicium) sudah kita persepsi maka segala sesuatu (benda-benda/objek) itu sudah menjadi fenomena.

Sedangkan noumena adalah bentuk murni dan independen dari benda-benda/objek sebelum dipersepsi oleh pengetahuan kita. Immanuel Kant menyebut noumena sebagai das ding an sich yaitu benda/objek pada dirinya sendiri). Objek pada dirinya sendiri, menurut Kant, tidak pernah bisa diketahui oleh manusia.

Noumena bersifat independen dari pengetahuan atau persepsi manusia. Sebagai contoh, kursi adalah objek yang telah dipersepsi manusia sehingga itu dinamakan kursi (telah jadi fenomena). Dan pengetahuan kita tidak bisa mengetahui apa objek kursi sebelum pengetahuan kita menyebut itu adalah kursi?

Noumena mustahil diketahui manusia, dan sesuatu yang-apa-adanya itu tak mungkin ada.

Sehingga, manusia sebagai subjek pengetahuan hanya bisa mempersepsikan benda/objek. Klaim pengetahuan manusia bersifat subjektif, tidak tetap, dan berubah-ubah. Begitu juga dengan sebuah pengetahuan yang menyimpulkan tentang kondisi difabel.

Sopir dan Penumpang Bis

Tahun 2018 di Porte de Clichy, Paris, Prancis, seorang supir bis marah besar ke penumpangnya lalu meminta semua penumpangnya untuk turun. Kemarahan sopir bis itu disebabkan para penumpang tak ada yang bergeming (memberi ruang) ketika ada seorang laki-laki berkursi roda bernama Francois Le Berre ingin naik bis.

Dilansir dari Daily.co.uk, laki-laki dengan multiple sclerosis itu bercerita, ketika bis tiba, pintu terbuka, tapi tak ada seorang pun yang memberinya ruang untuk masuk. Melihat situasi itu, meski bis belum tiba di tujuan, lalu sopir bis berteriak, “Terminus! Everybody (off).” [(Ini) stasiun terakhir! Semuanya (turun)!].

Setelah semua penumpang turun, Francois Le Berre masuk bis, dan kemudian bis berjalan ke tujuannya, meninggalkan para penumpang di pinggir jalan.

Bayangkan, jika seluruh manusia berkaki satu, tidak dapat melihat dan mendengar, lalu ada yang terlahir dengan jumlah lebih sedikit yang berkaki dua, bisa melihat dan mendengar, manakah yang jadi fenomena?

Akankah yang lebih sedikit itu membuat klaim bahwa mereka lah yang-normal?