Difabel Merambah Dunia Seni Peran

0
238

Penulis: Sri Hartanti 

Newsdifabel.com — Dalam indrustri dunia hiburan, khususnya seni peran seperti film, sinetron, dan sejenisnya, mulai sering terlihat penokohan karakter difabel yang diperankan oleh aktor maupun aktris nondifabel. Mereka dituntut secara profesional agar dapat memainkan peran sosok difabel seperti skenario yang telah dibuat.

Beberapa tokoh difabel yang sering muncul antara lain difabel daksa pengguna kursi roda maupun kruk seperti dalam film “Hafalan Shalat Delisa”, difabel netra seperti dalam film “Jingga”, difabel tuli seperti dalam film “Ayah Mengapa Aku Berbeda”, dan ragam judul film lainnya.

Untuk mereka yang memang berprofesi di dunia peran, mempelajari karakter tokoh sesuai skenario mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Berperan sebagai tokoh difabel meski belum terlihat natural, mereka termasuk dapat menguasai peran. Kondisi tersebut dapat dilihat dari kesuksesan sebuah film dengan tokoh difabel yang ditampilkan, selalu mendapatkan penonton membludak.

Lalu, bagaimana dengan para difabel yang mencoba menggeluti dunia seni peran? Seluas apa peluang mereka dalam mengakses dunia seni peran?

Baca:

Dalam meluncurkan karya teater, para difabel pun berkolaborasi dengan masyarakat umum atau nondifabel. Pembedanya adalah lebih dari lima puluh persen tokoh yang ada dalam pertunjukan diperankan oleh para difabel.

Seperti dalam pertunjukan teater musik inklusi yang pernah digelar para difabel di Bandung. Mereka menyuguhkan karya sebuah kolaborasi masyarakat difabel dan nondifabel dalam membawakan kisah hidup dalam gerak, suara, ekspresi, dan rasa. Teater yang diperankan oleh para difabel daksa, cerebral palsy, difabel tuli, difabel grahita, dan difabel netra, sangat apik.

Cintya, akrab dipanggil Tya (difabel daksa), yang pernah mendapatkan tokoh dengan karakter di luar kepribadiannya mengatakan, “Aku pernah diberi peran sebagai orang tua yang bawel tapi perhatian.”

Hambatan yang dirasakannya dalam karya teater yang pernah dilakoninya adalah penguasaan peran. Menurutnya, menyesuaikan peran yang berbanding terbalik dari keseharian cukup menguras tenaga dan emosi. Secara fisik, meskipun ada hambatan pada kakinya, Tya merasakan kemudahan dalam gerakan yang diarahkan. Justru menurutnya, menguasai ekspresi dan intonasi lah yang membutuhkan perhatian ekstra dalam menjiwai karakternya.

Meski baru kali pertama Tya berperan sebagai orang tua, dirinya mengaku senang diberikan peran yang tidak biasa dan tidak sesuai usianya yang masih belia. Harapan terbesarnya, ia ingin mencoba untuk terjun ke ranah hiburan khususnya dunia seni peran. “Aku ingin terus berlatih dan belajar akting, semoga ada peluang bisa main lagi di pentas teater bersama teman-teman,” ucap Tya mengakhiri.