Difabel Mendandani Difabel

0
276

Oleh: Dera Sofiarani

[Bandung, 17 Maret 2019] Sebuah pengalaman yang berarti atau baru pertama kalinya untuk sebagian besar manusia sulit, bahkan mungkin tak bisa terlupakan. Termasuk pengalaman yang baru pertama kalinya aku rasakan, tapi untuk sebagian orang, pengalaman ini mungkin terdengar konyol atau lebay. Entahlah bagaimana mereka menyebut istilahnya. Latar belakang diriku adalah difabel netra low vision.

Dalam keseharianku sebagai mahasiswa sebuah universitas yang ada di daerah Bandung, keseharianku di luar, bersama teman-temanku yang lain membuat aku jadi tahu bahwa penampilan itu perlu diperhatikan. Dari situlah aku belajar memperbaiki apa yang ada pada diriku, termasuk belajar ber-make up melalui teman ataupun menonton langsung tutorial di youtube. Setelah sekian lamanya aku mempelajari ini semua, membuat aku merasa pede untuk beraksi. Sampai akhirnya di hari itu, aku benar-benar tak menyangka jika aku diminta untuk me-makeup-i tiga teman difabelku dalam sebuah acara besar. Aku bingung karena ini baru pertama kalinya, dan aku pun tak membawa persiapan apa-apa. Saat itu yang aku bawa hanya yang biasa aku pakai saja, dan entahlah bagaimana hasilnya. Awalnya aku berpikir keras bahwa aku harus melakukan apa dengan alat make up yang seadanya ini. Tapi setelah aku berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk memakaikan sedikit concilar pada setiap bagian wajah tiga teman difabelku, kemudian aku memakaikan translation powder, juga blush on kepada mereka. Untuk sentuhan akhir, kupoleskan lipstick pada bibir mereka.

Setelah selesai, aku meminta tolong pada pendamping dalam acara tersebut, dia hanya melakukan penambahan polesan lipstick karena “kurang tebal,” katanya. Perlu diketahui, ketiga temanku itu sama seperti aku yaitu difabel netra. Kami semua diminta untuk mengisi salah satu konser Yura Yunita yang dilaksanakan di Teater Tertutup Dago Tea House, Kota Bandung.

Tapi aku senang bisa melakukanya untuk teman-temanku, dan aku yakin akan ada banyak pengalaman yang lainya yang bisa membuatku sedikit berkhayal. Seperti saat acara, aku sempat berkhayal bahwa aku sedang menjadi MUA (Make Up Artist). Aku memang seorang difabel netra tapi itu semua tidak membuatku merasa benci atau tidak bersyukur dengan diriku sendiri.