Difabel Masih Kesulitan Mencoblos

0
258

Oleh: Siti Latipah

[Bandung, 19 April 2019] Pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2019 telah usai digelar. Namun, kemeriahannya masih menjadi perbincangan hangat masyarakat. Pun demikian dengan teman-teman difabel. Mereka memiliki cerita tersendiri saat memberikan hak pilih masing-masing di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Iman Santosa (difabel daksa) bercerita bahwa, dirinya tidak mengalami kesulitan saat memilih di TPS 18, Jatayu, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Laki-laki bertongkat itu merasa nyaman, karena TPS tempatnya mencoblos tidak bertangga-tangga.

Berbeda dengan Iman, Jumono (difabel daksa) mengatakan, “Di TPS 27, Kelurahan Ciateul, Kecamatan Regol, Kota Bandung gak begitu nyaman. Kelandaian buat kursi roda terlalu curam, tempat tunggu pemilih sempit, meja bilik suara pencoblosan kecil, dan tempat meletakkan kotak suara tinggi. Ke depannya saya berharap, PPK, PPS, dan KPPS bisa lebih memahami kebutuhan, kemudahan, kemandirian, dan kenyamanan pemilih difabel saat di TPS.”

Anwas (difabel netra) menuturkan bahwa, dirinya memilih dengan didampingi pendamping. Tidak ada hambatan berarti saat berada di dalam bilik suara.

“Template atau alat bantu memilih tunanetra di TPS 98 Cimahi, Pondok Cipta Mas Leuwi Gajah hanya ada untuk surat suara Pilpres saja. Sedangkan untuk surat suara DPR RI, dan 3 lainnya tidak ada. Ya, mungkin karena ukuran surat suaranya segede-gede pintu lemari, jadi sulit untuk dibuatkan templatenya.” Selorohnya.

“Masih ada beberapa hal yang menjadi catatan sebagai masukan untuk penyeleenggara Pemilu. Ada 5 surat suara, tapi yang diberikan template atau alat bantu memilih hanya 2 saja. Artinya, untuk 3 surat suara lain, difabel netra masih tergantung kepada orang lain. Padahal, cita-cita kita (difabel netra) dalam UU No. 8 tahun 2016, adalah untuk mencapai suatu kemandirian bagi kaum difabel. Saat ini, kendala teknis masih menjadi alasan KPU dalam pembuatan template. Seharusnya kendala teknis itu dapat diperhitungkan dan dipertimbangkan, sehingga pemenuhan hak difabel tercapai sesuai amanat undang-undang.” tutur Suhendar (difabel netra) yang menjadi salah satu pemilih di TPS 7, RW. 03, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.

Senada dengan Suhendar, Riyan, Sofi, Mia, dan Suryanto (seluruhnya difabel netra) yang juga memilih di TPS 7, mengeluhkan hal yang sama bahwa, untuk 3 surat suara yang tidak ada alat bantunya, mereka mengalami kesulitan sehingga harus didampingi.

Hal yang fatal dialami oleh Rafindra, mahasiswa difabel netra salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini gagal memberikan suaranya untuk Pilpres dan DPD RI. Rafindra mengaku bahwa, saat datang ke TPS, petugas KPPS memberinya 5 surat suara dan 1 template Pilpres, serta 1 template DPD RI. Rafindra tidak diberitahu oleh petugas KPPS bagaimana cara menggunakan template tersebut. Sehingga Rafindra beranggapan bahwa, template itu adalah surat suara Pilpres dan DPD RI yang di braillekan. Akhirnya, dia coblos kedua template tersebut tanpa mencoblos surat suara Pilpres dan DPD RI yang diberikan.

“Saya gamang, merasa tidak tenang. Sehingga ketika sudah sampai rumah, saya hubungi teman dan menanyakan bagaimana cara menggunakan template. Saya terkejut saat mendengar penjelasan teman. Karena yang saya coblos bukan surat suara Pilpres atau DPD RI yang harusnya dijepit oleh template lalu dicoblos pas bolongnya, tapi malah dicoblos template-nya saja. Gagal saya memberikan hak suara untuk presiden dan DPD RI. Saya hanya memilih DPR RI, provinsi, dan kota saja. Calon presiden yang pokok malah saya enggak pilih. Nyesek banget sih. Harusnya, petugas KPPS langsung saja nempel itu surat suara di template-nya.” ujar Rafindra berapi-api. Akhrinya, Rafindra berharap agar penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU, seharusnya memberikan bimbingan teknis masif kepada PPK, PPS, dan KPPS terkait penggunaan template sehingga hal yang dialaminya tidak terulang.

Itulah sedikit oleh-oleh pesta demokrasi serentak pemilihan Capres/Cawapres, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD RI. Semoga apa yang dicita-citakan oleh teman-teman difabel tidak hanya tercantum dalam undang-undang, tetapi dapat terrealisasi dalam pelaksanaannya.

(Foto: Muslim)