Difabel Berlayar dengan Kapal Theseus

0
387

Penulis: Barr

Newsdifabel.com — Kali ini, kita akan berbicara tentang entitas, sebuah keberadaan yang mendefinisikan wujud sebuah objek. Tentu ini berbicara tentang entitas manusia dalam konsep filosofis. Saya akan menggunakan sebuah bangunan teori filsafat yang disebut dengan Paradoks Kapal Theseus. Apa itu kapal Theseus? Adalah sebuah eksperimen berpikir filsafat yang mempertanyakan apakah ketika suatu objek, semua atau sebagian komponennya diganti, objek tersebut masih sama? Dalam diskursus ini, saya ambil contoh sebuah kapal bernama Theseus. Ketika bersandar, lalu sebagian besar komponen-komponennya diganti, apakah itu masih kapal Theseus yang sama? Atau sudah menjadi kapal yang berbeda?

Jawaban dari pertanyaan itu telah memunculkan perdebatan filsafat yang seru sejak zaman filsuf Heraclitus dan Plato hidup, hingga Thomas Hobbes, seorang peletak pondasi teori kontrak sosial yang menjadi referensi konsep trias politika (pembagian eksekutif, legislatif, yudikatif).

Kapal Theseus adalah sebuah pertanyaan untuk menjawab apakah keberadaan objek tergantung dari komponen pembentuk objek tersebut. Contohnya kapal Theseus tadi.

Logika-Sebab Aristoteles

Aristoteles dikenal oleh para pemikir sebagai filsuf yang membangun dasar konsep logika berpikir. Salah satunya adalah konsep teoritik tentang kausalitas (sebab-akibat). Dari konsep inilah sebenarnya pertanyaan eksperimen pikiran klasik tentang telur dulu atau ayam dulu bisa terjawab.

Teori logika Aristoteles untuk membuat identifikasi sebuah objek terdiri dari: penyebab materiel yaitu komponen penyusun objek; penyebab formal yaitu pola penyusun komponen pembentuk objek; penyebab efisien yaitu proses penyusun suatu objek, dan penyebab akhir yaitu tujuan pembentukan sebuah objek.

Sekarang, saya akan mengganti contoh dari kapal Theseus ke manusia. Meskipun pergeseran contoh dari kapal (benda mati) ke manusia (benda hidup) tak seimbang (tak apple to apple), saya hanya ingin mendorong analisa berfikir. Dengan pertanyaan yang sama, apakah jika manusia (sebagai objek) komponen-komponen pembentuknya diganti, ia masih bisa disebut manusia?

Mari kita periksa logikanya. Terhadap identifikasi sebuah objek, kita perlu membangun perspektif bahwa sebuah pembentuk objek adalah komponen dan tujuannya. Dua pembentuk tersebut berwatak setara, tak bisa dihilangkan satu sama lain.

Karena itulah, ada kubu filsuf yang menganggap bahwa kapal Theseus itu masih kapal yang sama karena tujuannya ke suatu tempat yang sedang dituju kapal tersebut. Meskipun komponennya diganti, tak membuat tujuan kapal tersebut berubah juga. Namun sebagian lagi berpendapat itu sudah bukan kapal Theseus karena ia telah kehilangan komponen orisinilnya.

Maka, teori Aristoteles telah menjawab bahwa identifikasi sebuah objek harus komprehensif, tak boleh dilakukan sepotong-sepotong hanya dari komponen pembentuknya saja.

Problem dalam Identifikasi

Problem identifikasi inilah yang membuat difabel selama berabad-abad hidup dalam diskriminasi, pengabaian, bahkan pelecehan sebagai manusia. Orang-orang yang berpikir cupet akan memandang difabel sebagai suatu “kekurangan” karena ia hanya memandang objek hanya dari komponennya saja, namun tak memandang apa tujuannya untuk hidup. Memandang tujuan dari hidup seorang manusia akan membawa kita pada kesetaraan karena siapapun ia, jika berperilaku jahat tetaplah jahat. Tindak kejahatan tak mengenal kondisi ketubuhan, gender, ras, agama, atau suku. Seorang profesor yang melakukan korupsi, ia tetaplah bodoh dan jahat. Dan membangun diskriminasi berbasis apapun, tetaplah kejahatan dan melawan keadilan.

Teori filsafat ini penting untuk membangun perspektif bagaimana kita mengakui keberadaan difabel sebagai entitas manusia yang tentu melengkap di dalamnya hak-hak dasar. Itulah sebabnya, para pengambil kebijakan wajib mempelajari filsafat kapal Theseus dan Aristoteles agar, ketika melihat entitas difabel, harus komprehensif, melekat di dalamnya asasi manusia. Konsekuensinya, hak-hak dasarnya perlu diberikan sepenuhnya. Undang-undang dan Perda hanya tulisan di atas kertas, tetap akan menjadi sampah kertas jika tak pernah diwujudkan.

Sehingga, jika ada manusia yang telah kehilangan tujuan jiwanya dengan berlaku diskriminatif, maka ia telah menjadi benda, bukan lagi sebagai manusia.