Difabel Berdandan ala Karina Amagia

0
529

Penulis: Zaenal 

Newsdifabel.com — Menjaga penampilan untuk terlihat menarik bagi setiap orang yang melihatnya sudah jadi kebutuhan, untuk kepentingan apapun, konten medsos, penampilan atau gaya hidup. Tak jarang, bersolek juga menjadi tuntutan bagi kaum difabel yang bekerja di perkantoran dan dunia entertaiment. Untuk membentuk sebuah kebiasaan atau hobi dalam menjaga kebersihan dan kerapihan baik penampilan diri ataupun lingkungan tempat tinggal, membutuhkan kesabaran dan proses latihan panjang.

Karina Amegia (24), seorang penyandang low vision dari usia 3 tahun mampu menjaga penampilannya tetap cantik saat bekerja ataupun bepergian. Perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi ini mengaku mulai mengenal berdandan sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Aku dari kecil emang suka nyanyi di panggung-panggung gitu, jadi sebelum manggung aku biasanya didandanin dulu. Tapi kalau mulai dandan sendiri, dandan yang sederhana aja kayak pakai bedak dan lipstik, itu dari SMA.” tutur Karin.

Menurut Karin, dandan itu sangat penting, selain untuk meratakan warna kulit agar tidak terlihat pucat, juga menjadi penunjang penampilan sehingga kita bisa lebih menghargai diri kita sendiri dan orang lain yang melihat kita.

Perempuan cantik yang berdomisili di Tangerang Selatan ini awalnya belajar berdandan secara otodidak, tapi setelah mengikuti pelatihan dandan yang dilaksanakan Komunitas Lipstik Difabel pada tahun 2018 akhir, Karin menjadi lebih tahu banyak bagaimana cara merias wajah yang benar atau full make up. Di sanalah Karin diajarkan bagaimana tahap demi tahap dandan yang benar, nilai dari cara menggunakan pondasi, alis, eyeshadow, lipstick, maskara, dan bedak.

Karena Karin masih memiliki sisa penglihatan, membuatnya sangat aktif dan senang mengikuti kegiatan semacam ini. Berkat modal ilmu itulah Karin terus mengasah kemampuan dandannya.

Dalam pengaplikasian alat rias pada wajah itu pasti ada kesulitan. “Setiap difabel netra mempunyai kesulitan yang berbeda-beda dalam merias wajah, kalau aku sendiri ada kesulitan saat aku merias wajah bagian kiri, seperti memakai maskara dan alis. Itu karena penglihatanku lebih jelas di sebelah kiri. Jadi, pada saat merias bagian mata sebelah kiri, otomatis matanya kan harus ditutup, sedangkan mata kanan aku tak bisa melihat dengan jelas sehingga kembali menggunakan perasaan dan perabaan. Kalau untuk bedak itu tidak terlalu sulit karena hanya perlu diratakan saja, berbeda dengan alis yang harus lebih teliti karena menggores detilnya yang sulit.” jelas Karin.

Pada prosesnya, Karin mempunyai pengalaman unik dan menjadi pusat perhatian orang yang melihatnya. Karena mungkin belum bisa membedakan dan memilih warna yang tepat untuk menyatukan warna kosmetik yang dipilih untuk wajahnya, baik pada lipstick atau eyeshadow.

“Karena senang terhadap dandan, setiap kali aku pergi main ke rumah teman, aku suka menggunakan eyeshadow dengan warna yang terang seperti hijau atau biru, hal ini membuat aku menjadi pusat perhatian orang. Beberapa orang awas pun bertanya-tanya, kamu tunanetra tapi kok bisa dandan? Aku, sih, hanya senyum membalasnya.” sambung Karin.

Karin senang berdandan, selain menjaga penampilannya yang bekerja di dunia entertainment sebagai penyanyi, faktor pendorong seorang difabel dalam menjaga penampilannya adalah bagaimana dia bisa menemukan motivasi dan tujuan. Menurut Karin, masih banyak teman difabel netra yang belum memerhatikan penampilan contohnya seperti menggunakan pakaian yang sama di setiap kegiatan. Hal ini seharusnya tidak boleh dilakukan, seperti pakaian yang dipakai di rumah harusnya beda dengan yang dipakai jalan-jalan seperti ke mall atau liburan, juga pakaian yang digunakan pada acara formal. Tapi semuanya kembali kepada diri pribadi yang menentukan.

Dalam merias wajah, difabel netra tentu saja lebih banyak menggunakan indera perabaan, untuk itu penting mengetahui struktur wajah kita, seperti dimana dan bagaimana bentuk tulang pipi, seperti apa bentuk hidung, kelopak mata, dan bibir. Setelah hafal bagian-bagian wajah kalian, tinggal membiasakan diri dan banyak berlatih untuk merias wajah. Dengan begitu kalian pasti akan terbiasa dan hasilnya akan semakin baik. Jangan lupa meminta orang lain untuk mengomentari bagian mana yang kurang atau terlalu tebal, dengan begitu kalian akan mendapat porsi pas untuk wajah kalian.