Di Hadapan Keputusasaan Bapaknya, Keras Kepala Arifin Membawa Asa

0
466

Penulis: Zaenal

Newsdifabel.com – Seorang difabel pertama kali akan menperoleh diskriminasi pada lingkungan keluarga yang tidak bisa menerima keadaan sang anak. Merasa tak bisa menerima takdir hanya akan menghancurkan segala harapan dan menimbulkan rasa malu bagi setiap orang tua yang memiliki anak difabel di tengah masyarakat. Belum lagi kurangnya fasilitas pendukung seperti fasilitas publik yang aksesibel hingga sekolah inklusi yang dapat membantu perkembangan serta kemandirian seorang difabel.

Situasi di atas dialami oleh Arifin yang tinggal di sebuah kampung wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tidak adanya dukungan dari kedua orang tua, membuat Arifin kecil mencoba mendaftarkan dirinya sendiri ke sebuah sekolah dasar di kampungnya. Pada saat itu, jangankan sekolah luar biasa, sekolah inklusi atau pengajar yang paham dengan difabel  pun belum ada. Hal inilah yang membuat Arifin hanya bisa bersekolah selama satu tahun saja. Mengandalkan hafalan saat belajar serta tidak dapat menulis menjadi alasan Arifin harus meninggalkan sekolah yang sangat dia inginkan.

Saya menjadi tunanetra sejak lahir dan saya tidak pernah mengeluh terlahir sebagai tunanetra dan saya tidak pernah kecewa karena tidak pernah merasakan apa yang disenangi oleh orang yang melihat. Pandangan orang tua dan masyarakat terhadap saya, saya sih, cuek-cuek aja, mereka seperti menganggap saya sama seperti orang pada umumnya, tapi jika dihubungkan dengan pendidikan itu 0%. Saya bahkan sering mendapat cemoohan ketika saya mencari informasi tentang pendidikan.” Arifin memulai kisahnya.

Ketika mencari informasi bagaimana bisa kembali bersekolah, Arifin merasa bahwa orangtuanya seperti melarang, meski tak diucapkan secara eksplisit. Termasuk merasa tidak adanya dukungan dari masyarakat. “Kalau masyarakat yang sering ngibulin saya, saya tidak pernah menyerah dan menunduk malu, sebisa mungkin kalau orang mengejek saya, ya, saya hajar. Prinsip saya, kalah itu pasti, kalau tidak berusaha itu namanya konyol, saya nggak mau jadi orang konyol.” ungkap Arifin dengan penuh ketegasan.

Informasi pertama tentang sekolah khusus difabel berhasil diperoleh ketika Arifin berkonsultasi pada seorang dokter mata di Ciranjang. Dokter itu menyarankan untuk bersekolah di sekolah khusus karena penglihatan Arifin sulit dipulihkan, dan butuh biaya besar.

Jika memang Tuhan memberikan umur yang panjang, pasti Tuhan akan menjagaku, jika tidak, maka saat itu aku pasti sudah mati.” Kata-kata inilah yang menjadi keyakinan Arifin dalam mengejar mimpinya untuk bisa menemukan sekolah yang dimaksud. Dan Tuhan pasti menyelipkan tujuan kenapa kita lahir.

Pada saat Arifin mendapatkan informasi dari dokter tentang adanya sekolah khusus, usia Arifin masih belasan tahun. Selain tidak ada dukungan dari orang tuanya, dan juga waktu itu usianya masih terbilang muda, membuat Arifin gagal bersekolah lagi. Setelah beberapa tahun, dengan keyakinan dan tekad kuat, akhirnya Arifin memutuskan pergi ke dokter yang ada di kota dengan berjalan kaki sejauh 5 kilometer tanpa adanya pendamping dengan kondisi mata yang tidak bisa melihat. Setelah mendapat semua informasi tentang dimana dan bagaimana bisa mendaftar, Arifin memutuskan kembali ke rumah untuk mengumpulkan berkas persyaratan.

Perjuangan Arifin belum usai, sampai tulisan ini dibuat, Arifin mengaku belum mendapatkan surat pengantar dari desa sebagai salah satu syarat pendaftaran sekolahnya. “Waktu itu, karena saya terus berusaha dan bapak saya tahu, sampai akhirnya saya bermusuhan dengan bapak saya.” jelas Arifin.

Kegigihan Arifin membuatnya sering bersitegang dengan kedua orangtuanya. Pernah suatu ketika, Bapaknya Arifin bertanya apakah Arifin masih menganggap bapak dan ibunya sebagai orang tua.

Setelah bapaknya berhenti berbicara dan memarahinya, Arifin berkata, “Demi Allah, dunia-akhirat, Ibu dan Bapak adalah orang tua saya. Tapi sebaliknya saya bertanya, sebenarnya saya anak siapa?

Pak, saya sudah bosan bertengkar dengan Bapak. Saya kalau terus bertengkar dengan Bapak, seperti menebas musuh dengan pedang yang masih terbungkus sarungnya. Berbeda dengan Bapak, seperti menebas musuh dengan pedang yang sudah telanjang. Artinya kata-kata Bapak itu makbul, sedangkan jika saya terus melawan dan berontak justru dosa yang semakin banyak untuk saya. Agar pertengkaran ini berakhir, yang saya minta dari Ibu dan Bapak bukan harta, tapi doa. Kalau perlu dicatat, suatu waktu nanti Bapak meninggal, terus saya tidak kebagian harta warisan dari Bapak, saya tidak akan menuntut. Tapi tolong doakan, supaya cita-cita saya terkabul dan hidup saya tidak susah.” sambung Arifin.

Konflik antara anak dan orang tua terkadang menjadi hal yang biasa, pemicunya tentu saja adanya perbedaan pendapat dari kedua sisi akibat dari rasa egois, merasa paling benar, tidak mau mengalah dan tidak mau mengerti satu sama lain. Namun, tiap masalah harus bisa mendewasakan pikiran kita agar lebih bijak dan berlaku adil, selain tegas demi kebaikan. Kata-kata tulus yang diucapkan Arifin itu justru membuat bapaknya, yang seorang veteran tentara, menjadi luluh, sehingga mau membantu Arifin masuk ke sekolah khusus difabel.

Keesokan harinya, secara kebetulan, ketika bapaknya Arifin menemui komandannya yang dahulu satu perjuangan, bercerita tentang keinginan anaknya sekolah di sekolah khusus difabel. Tak disangka, anak dari sang komandan bekerja di lembaga sosial yang ada di kabupaten sebagai pencari anak berkebutuhan khusus untuk dilatih dan disekolahkan di lembaga sosial. Inilah yang menjadi jalan pembuka untuk Arifin bisa bersekolah di lembaga sosial yang dahulu bernama PSBN Wyata Guna.

Setelah mengikuti pelatihan selama empat tahun, selain pelatihan pijat, Arifin sempat mengikuti pendidikan keseteraan Sekolah Dasar, tapi tidak bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi mengingat usia Arifin yang saat itu sudah 22 tahun. Fakta itu membuat Arifin kembali bersedih, terkenang tentang dirinya yang sejak kecil ingin sekolah tapi tak kesampaian. Ucapan Arifin sebelumnya yang mengatakan bahwa dia hanya menginginkan doa orang tuanya, membuatnya benar-benar menjadi orang mandiri, dibuktikan selama pendidikan di Wiyata Guna, Arifin tidak menerima sepeserpun uang dari orangtuanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di PSBN Wyata Guna, pada tahun 1992, Arifin memutuskan merantau ke pulau Sumatera, tepatnya di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Setelah beberapa tahun di sana, hubungan Arifin dengan keluarga, terutama bapaknya, berangsur membaik dan harmonis kembali. Di sinilah Arifin bisa tersenyum lebar, karena berhasil menunjukkan bahwa apa yang dia perjuangkan selama ini tidak sia-sia. Meskipun bukan di kampung halaman, Arifin bisa hidup mandiri, menikah, dan memiliki tiga buah hati.

Secercah gambaran hidup Arifin di masa lampau menunjukkan sulitnya seorang difabel dalam mencari dan menuntut ilmu sebagai modal kehidupan. Dibandingkan dengan kehidupan difabel masa kini, Arifin berpesan agar setiap difabel yang saat ini telah berpendidikan tinggi bisa lebih bersyukur dengan adanya kemudahan dari kemajuan teknologi, akses informasi, dan banyaknya sekolah khusus difabel ataupun sekolah inklusi.

Bagi teman-teman yang saat ini menganggap hidupnya sulit dan banyak masalah, manusia hidup itu memang banyak masalah, sedangkan hidup itu sendiri merupakan bagian dari masalah. Justru Tuhan memberikan masalah pada kita, agar kita bisa berhasil hidup. Dengan masalah, kita bisa menjadi orang yang bijaksana, cerdas, sukses, dan semakin dekat dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Bahkan tanpa adanya masalah itu juga merupakan masalah. Untuk itu, kita hidup jangan jadi masalah, kalau belum bisa menjadi atau memberi solusi bagi orang lain, minimal jangan jadi bagian dari masalah.” Arifin mengakhiri kisahnya.