Di Gunung Menelusuri Sebongkah Rasa Meniti Setapak Jalan

0
73

Oleh: Sri Hartanti 

[Malang, 23 Oktober 2020] Akan tiba satu waktu kita menemukan sesuatu yang telah lama dinantikan. Entah itu berupa pengalaman, kesempatan, kenyataan, maupun hal lain yang pernah hanya ada dalam bayangan atau impian. Teringat pesan bapak proklamator Ir. Soekarno menasihati para penerus bangsanya, termasuk kepada kita masyarakat difabel, ‘Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, maka engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.’

Rupanya nasihat keramat itu betul menjadi nyata. Saat rombongan yang beranggotakan 12 orang dari ragam difabel serta pendampingnya bertekad melakukan pendakian ke Gunung Butak yang ada di Malang, Jawa timur. Bukan untuk menaklukkan maha karya Sang Pencipta yang berdiri kokoh pada ketinggian 2.868 mdpl. Melainkan hanya ingin mengikis paradigma negatif terhadap masyarakat difabel, mereka memberikan sebuah pengalaman olahraga untuk menguatkan imunitas di masa pandemi.

Inilah, momen mereka yang dikenal sebagai difabel netra menyusuri terjal jalan yang nyaris tanpa aksesibilitas laiknya guiding block, mereka hanya mampu mengikuti gaung suara sebagai petunjuk arah. Begitu pula dengan para difabel tuli, mereka merasakan keindahan hutan pinus Anjasmara maupun area lain yang terlewati dengan berselancar mata, namun harus tetap patuh pada isyarat sebagai komando agar tidak tertinggal dari rombongan. Para difabel daksa juga menggeliatkan raga untuk menyusuri setapak jalan di tepian lembah curam sepanjang kisaran 500 meter, mendaki tebing batu berketinggian 300 meter dengan kemiringan 75 derajat.

“Kami melakukan pendakian ini dalam dua hari saja, tepat memulainya di momen hari jadi TNI ke-75,” penuturan Kertaning Tyas yang akrab disapa Ken, sebagai ketua dalam tim khusus pendaki lingkar sosial Indonesia.

Dua hari dalam pendakian, para difabel diajak menikmati hutan lumut yang dingin, hutan pinus dan sabana. Setara sama rasa, tinggal bagaimana cara mereka mengolah paduan antara sentuhan alam dengan jiwa yang berbeda tingkat kepekaan. Bukan, kah, setiap anugerah Tuhan tidak mengenal kata perbedaan?

Terkadang kita dibiaskan oleh makna anugerah yang dikemas oleh hal-hal yang indah. Ada kalanya, kenyataan dibenturkan pada sebaliknya.

Seperti Elin yang kini menjadi difabel netra. Dirinya bercita-cita mendaki gunung sejak fungsi penglihatannya masih bagus, ia tidak perlu berimajinasi untuk membedakan warna langit atau pepohonan, tidak perlu membayangan hutan, sabana yang akan dilalui. Namun, kesempatan itu baru tiba saat cahaya pada kedua bola matanya meredup dan padam. Ditemani Kholil sang suami, impian mendaki gunung pun nyata ia dirasakan bersama tim.

Atau seperti Erick, difabel netra yang tetap pada tekadnya untuk mendaki gunung-gunung tertinggi di Indonesia. Ia tidak lagi memperdulikan cacian orang yang kerap mempertanyakan gelap atau terang, seperti kedua sisi mata uang yang dilempar lalu menjadikan sebuah tebakan. Ini soal rasa. Tidak ada larangan untuk difabel netra menjadi seorang pendaki gunung.

‘Kita setara,’ Priyo Utomo meneriakan itu dalam hatinya. Difabel daksa dengan disfungsi kaki dan tangan kanan ini, untuk mendaki gunung bahkan ia tidak pernah membayangkannya. Dan kini berdiri di puncak stratovolcano 9,409 kaki. Sedangkan, Sumiati diafbel tuli yang sebelumnya pernah mendaki Gunung Semeru bisa lebih mandiri dan tetap berhati-hati.

“Sepanjang jalan mereka tak henti bercerita untuk menggambarkan situasi dan kondisi lingkungan,” papar Ken. Komando itu diserahkan pada Sri Ekowati, Widi Sugiarti, dan Fuji Rahayu para pendamping difabel netra. Sementara Cakrahayu mendamping difabel daksa.

Pemandu perjalanan pendakian Gunung Butak bersama rombongan difabel, Agung dan Kristina dari anggota komunitas pendaki Indonesia yang sudah lebih dari sepuluh kali mendaki pun, turut merasakan untuk yang pertama ini mendampingi kelompok difabel.

Layak diteriakkan berulang, ‘Kita setara,’ dan wujudkanlah impian itu menjadi nyata.