Di dalam Angkot, Dunia seolah Runtuh

0
419
Foto: jabar.tribunnews.com

Oleh: Latipah

[Bandung, 11 Oktober 2018] Panggil saja aku Nov. Saat itu aku masih mengenakan seragam putih-biru, sebagai murid sebuah sekolah menengah tingkat
pertama di Bandung. Meskipun
sekolahku katagori negeri, namun tidak diinginkan oleh siswa-siswi atau orang tua yang akan menyekolahkan anaknya. Ya
iyalah, mana ada orang yang mau sekolah di Sekolah
Menengah Pertama Luar Biasa? Sebuah sekolah khusus untuk siswa-siswi tunanetra.
Benar, kan? Mana ada yang mau menjadi tunanetra
demi sekolah di sana. Hehe.

Ah sudahlah, yang pasti, SLB Negeri A Kota Bandung adalah sekolah pembuka jalan dan harapan mennuju masa depan bagiku, orangtuaku serta orangtua-orangtua lain yang juga memiliki anak dengan difabel netra sepertiku. Sekolahku ini termasuk sekolah terkemuka di dunia pendidikan luar biasa (pendidikan khusus saat ini). Wow, luar biasa, bukan?

Apanya, sih, yang luar biasa? Metode pembelajarannya, isi materi  belajarnya, atau tujuan pembelajarannya, kah? Pendidikan Khusus adalah pendidikan yang
dirancang sesuai dengan kebutuhan anak. Apa saja kebutuhan anak itu? Makanan, minuman, pakaian, mainan, atau bahkan mungkin rumah? Kebutuhan di atas adalah kebutuhan lahiriah yang dapat menunjang
kelangsungan batiniah. Tapi tidak selamanya kebutuhan batiniah dapat tercukupi
hanya dengan hal itu saja. Perhatian, kasih sayang, cinta, kepedulian, keikhlasan, dan segala perbuatan terpuji terhadap orang
lain merupakan sarana dasar kepuasan batiniah.

Kembali
ke dunia pendidikan khusus yang sangat luar biasa, mengingat pendidikan ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Dalam
pendidikan ini, metode pembelajaran bisa saja berbeda, tetapi waktu, isi meteri, dan tujuan pendidikannya sama dengan pendidikan biasa. Bisa juga metode
dan waktunya sama, namun isi materi dan tujuannya berbeda. Pokoknya, pendidikan khusus adalah pendidikan yang cocok buatku. Di sini, aku dan teman-teman dipersiapkan
untuk menghadapi dunia luar yang sarat akan persaingan.

***

Matahari baru saja bangkit dari peraduannya, yang sampai sekarang aku tidak tahu di mana tepat peraduannya itu. Ya, sudahlah, tak apa-apa. Toh aku hanya bisa merasa hangat-panasnya matahari, yang cahayanya raib di pelupuk mataku. Pagi ini, aku sudah siap berangkat ke sekolah. Tas putih dengan sepatu putih bergaris biru telah siap mengantarku. Diantar kok sama tas dan sepatu. Lho, yang penting, kan, diantar. Mau sama tas, mau sama sepatu, yang penting, aku berangkat ke sekolah dengan selamat. Nah, lho, siapa lagi itu selamat? Nama tasmu, atau nama sepatumu? Ah! yang ini baru tidak penting. Abaikan saja candaan yang garing ini.

Aku turun dari rumah seusai mengecup tangan Ibu. Doa dan nasihat-nasihatnya adalah sarapan penutupku setelah nasi goreng telur ditambah segelas penuh teh hangat. Trotoar panjang yang menghubungkan rumahku dengan terminal pemberhentian angkot tidak dekat. Berbekal tongkat putih, aku berjalan lurus melangkah di sepanjang trotoar. Tukang nasi kuning, tukang bubur, dan tukang gorengan adalah tiga pejuang keluarga yang setia mewarnai kepergianku ke sekolah setiap pagi.

Angkat, Neng?” (Berangkat, Neng?) tanya emang[1] tukang nasi kuning. Suaranya akrab di
telingaku.

Sapaan dari emang
tukang nasi kuning menjadi penanda jarak jalanku, selain karena keramahannya. Aku tahu, jika emang tukang
nasi kuning telah menyapa aku dengan pertanyaannya yang sama setiap hari, itu berarti aku akan melewati sebuah jembatan kecil yang
dibangun di atas sungai kecil melintasi perkampungan tempat tinggalku.

Ada lagi. Selepas jembatan, tukang bubur menyambutku. Biasanya dengan
sebuah nasihat pendek penuh empati.

Aduh, Neng, cing, ati-ati, nya!” (Neng hati-hati, ya) suara
emang tukang bubur . Sebuah nasihat yang sama, yang selalu diucapkan Ibu.  

Nah,tidak jauh lagi aku menuju ke terminal. Sebentar lagi pasti
ada Bu Endah. Seorang
ibu tukang gorengan yang halus budi. Ibu Endah inilah yang rajin menaikkan aku ke angkot.

Neng,
kenapa kok rada telat
, biasanya mah pan jam setengah tujuh teh udah nyampe sini?” kata Bu Endah dalam bahasa Sunda.

Sapaan akrab Ibu itu menambah semangat belajarku. Betapa tidak, dengan suka rela dia
menangguhkan dulu pekerjaannya demi membantu seorang Nov menuntut ilmu. Sebuah
bantuan moral yang didasari kepedulian. Selain itu, saat menunggu angkot, biasanya Bu Endah suka bercerita tentang apa saja. Kali ini, dia
bercerita tentang anaknya yang salah memakai sabun muka. Ini kesalahan fatal. Meski
sama-sama berfungsi sebagai sabun, anaknya Bu Endah ternyata cuci muka pakai
sabun sirih. Ceritanya kali ini membuat aku tidak
bisa berhenti tertawa ngakak.

Sambil tertawa karena
terbayang lucunya, angkot
yang ditunggu tiba. Aku pamit pada Bu Endah dengan ucapan ‘terima kasih’. Ucapan basa-basi yang sudah basi namun tulus. Jika bukan ucapan ‘terima kasih’, apa yang
harus aku berikan pada seorang Ibu seperti Bu Endah yang super baik padaku.

Aku sudah mengambil posisi nyaman di angkot itu.
Posisi tepat di belakang sopir,
sejajar dengan dua siswa salah satu SMA di daerah Pajajaran yang secara kebetulan sering bersamaan denganku. Aku sudah mengenal suara
dua siswa SMA itu, tapi, aku tidak kenal siapa mereka, yang pasti mereka berdua
laki-laki. Aku tidak mengerti.

Cilakanya, aku masih
terus membayangkan cerita Bu Endah. Tiap kali teringat, tiap kali aku tersenyum
sendiri. Namun kali ini aku di dalam angkot. Gawat.

Rasanya bibir ini selalu menentang perintah otak yang memerintahkannya untuk berhenti tertawa.
Aduh, bagaimana, dong! Aku malu, nih.  

Tadi aku tertawa berdua sama Bu Endah, tetapi, sekarang, aku hanya sendiri. Tertawa sendiri? Wah, tidak bisa begitu, ini terlalu
konyol! Pasti orang mengira, sudah tunanetra, gila, lagi. Atau, mungkin dikira kesurupan. Ah, kekhawatiran yang berlebihan.

Kutundukkan kepalaku dan ku putar otakku untuk mencari ide menutupi bibirku agar tidak terlihat
tertawa sendiri. Sibuk aku mengaduk-aduk isi tas, berharap mendapat ilham dari situ. Benar saja.
Aku baru ingat, hari ini aku diminta membawa buku paket fisika yang kemarin baru saja dibeli dari toko
buku terkemuka di kota tercintaku ini. Buku itu adalah buku milik kelas karena
uang untuk membeli buku itu berasal dari uang kas kelas. Sepersekian detik setelah
aku ingat buku fisika itu, aku juga ingat, menurut pernyataan orang-orang, aku tidak begitu terlihat seperti seorang tunanetra. Atas dasar itulah, tanpa pikir panjang lagi, aku tarik buku fisika yang kutemukan di dalam tas.

Perlahan tapi pasti, kututupi wajahku dengan
buku itu agar aku terlihat seperti
sedang membaca untuk menutupi bibirku yang tak berhenti tertawa kecil. Setelah aku merasa aman untuk tertawa sendiri, aku pun tertawa
tanpa suara. Namun, tidak pernah kusangka, dua siswa SMA itu sepertinya
memperhatikanku.
Aduh, jadi salting, nih. Aku pun tidak lagi bernafsu tertawa. Meski aku sudah tidak ingin lagi tertawa, aku
masih bertahan dengan gaya membaca buku. Entah mengapa aku merasa bahwa perhatian dua siswa SMA itu ada karena
posisiku yang sedang membaca seperti ini. Keren kali, ya? Perlahan tapi pasti, kurasakan ada tangan seseorang yang menyentuh tanganku. Lalu orang itu menyapaku.

Dik!

Aku tidak meresponnya. Bukan karena tidak
mau, tapi aku bingung dengan sapaannya yang mendadak itu.  

Dik, Dik! Emm…” kembali dia menyapaku.

Dik, itu!” tangannya kembali menyentuh tanganku, kali ini sedikit lebih keras. Tangan itu sepertinya tangan milik salah satu siswa SMA yang duduk sejajar denganku.
Aku tahu bahwa siswa SMA itu ingin sekali menyampaikan sesuatu. Tapi mau menyampaikan
apa, ya. Pikirku dengan
penasaran. Dan mengapa, ya,
jantung ini mendadak berdetak tidak seperti biasanya. Dag dig dug
jauh lebih kencang dari yang seharusnya. Tidak salah jika kukatakan bahwa
jantungku ini sedang melonjak-lonjak di dalam dadaku.

Yaa.” aku meresponnya.

Kutengokkan kepalaku ke arahnya dengan seulas
senyum. Bukuku masih dalam posisi yang sama.

Itu, Dik,” dia
jeda sebentar. Aku membiarkan jeda itu berlalu.

Itu,”
jeda lagi.

Lalu, tanpa kusangka, dia menyentuh bukan lagi
tanganku melainkan bukuku. Dan satu kalimat darinya seolah meruntuhkan dunia ini, “Itu, Dik, bukunya kebalik.”

Oh, my gosh! Seketika aku ingin turun saja dari angkot ini, tapi aku tahu, jika aku turun sekarang, aku akan terlambat datang ke sekolah. Kalau begitu, aku ingin
menyusut sajalah, menjadi kecil. Atau ingin melesak saja ke dalam mobil ini. Atau aku
melebur saja lalu bergabung dengan debu- debu di jalan. Aku ingin tidak
terlihat. Ingin menghilang, jadi Hollow Man. Niat ingin menutupi rasa malu, aku malah
mempermalukan diri sendiri. Ini ironi, sungguh ironi.

Kurasa jalan menuju
sekolah berasa sangat lama, sepertinya jauh sekali. Sepanjang perjalanan, tak
karuan perasaanku. Entah bagaimana mengisahkannya.


[1] Emang adalah panggilan
orang sunda yang berarti paman.