Dewi Endah Mayasari Tenaga Pendidik di Sekolah Inklusi

0
221

Oleh: Siti Latipah 

Newsdifabel.com — Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 mewajibkan agar pemerintah kabupaten/kota menunjuk paling sedikit satu sekolah dasar, dan satu sekolah menengah pada setiap kecamatan, dan satu satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib menerima peserta didik berkebutuhan khusus.

Pendidikan inklusif itu sendiri adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kedifabelan untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya, karena setiap anak berhak mendapatkan pendidikan sebagai pelayanan dasar yang wajib diberikan oleh negara.

SMA Negeri 11 mulai menerima peserta didik difabel sejak 2018. Dewi Endah Mayasari, seorang guru mata pelajaran Bahasa Jepang di Sekolah Menengah Atas Negeri 11 Bandung. Sejak tahun itu, dihadapkan dengan hal yang baru. Dirinya harus mengajar peserta didik difabel netra yang bersekolah di SMA tempatnya mengajar. Awalnya, Dewi mengaku khawatir, karena tidak mempunyai keahlian dalaam mengajar difabel netra.

Dewi Endah Mayasari dalam Kegiatan Pembelajaran

“Saya harus membedakan cara penyampaian materi. Tidak bisa hanya menuliskan di papan tulis. Tapi harus lebih banyak menggunakan suara.” Katanya.

Perempuan berusia 39 tahun ini mengupayakan bagaimana materi yang diajarkannya dapat diterima dengan baik oleh siswa difabel netranya. Dewi sering kali duduk di antara mereka. Dia lebih suka bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Jepang sesuai dengan pelajaran yang diajarakannya.

“Saya biasanya duduk di antara mereka. Saya lebih suka bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Jepang. Karena bahasa Jepang tidak hanya sekedar tulisan, tapi bisa juga dengan lisan. Jadi mereka masih bisa mengikuti pelajaran,” Tutur Dewi.

“Setiap guru punya teknik masing-masing dalam penyampaian materi. Teman-temannya juga sangat membantu.” Imbuhnya.

Tidak di SMA Negeri 11 saja, sudah banyak sekolah-sekolah di penjuru Indonesia yang membuka dan mau menerima peserta didik difabel. Dengan pendidikkan inklusif yang semakin merata, diharapkan lahir keseteraan perolehan hak difabel akan pendidikkan.