Dengan Menggambar, Beasiswa Dalam Genggaman

0
480

Penulis: Siti Latipah

Newsdifabel.com — Eprisa Nova Rahmawati namanya. Seorang gadis difabel asal Banjarnegara, Jawa Tengah, mendapat durian runtuh. Dirinya berkesempatan untuk mengenyam pendidikkan di bangku perkuliahan secara cuma-cuma alias gratis. Buah karyanya melukis dan menggambar di atas kertas sempat viral. Kreativitasnya itulah yang mengantarkan Rahma mendapat beasiswa dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Ditemui di kediamannya, Desa Penusupan, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Sabtu, 3 Maret yang lalu, terpantau gadis brkursi roda itu tengah asik menggambar. Rahma menghentikan aktivitas menggambarnya, setelah banyaknya tamu yang datang ke rumahnya. Rombongan dari UMP di antaranya. Mereka mengaku terinspirasi dengan semangat yang dimiliki Rahma.

“Kita lihat semangatnya bagus dengan kondisi saat ini masih perlu mendapatkan pengobatan dia punya talenta yang bagus. Ditunjukkan dengan karya-karya gambarnya yang bagus,” Kata rektor UMP, Jebul Suroso, saat ditemui di tempat dan waktu yang sama.

Dengan melihat ini, pihaknya akan memberikan beasiswa pendidikan di UMP hingga lulus menjadi sarjana. Nantinya, dimungkinkan akan masuk di jurusan desain komunikasi visual.

“Ini anak berbakat, dan kami tidak mau anak yang berbakat tidak bisa meraih masa depan. Jadi yang bersangkutan untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi di UMP. Dari awal hingga nanti diwisuda kami gratiskan,” Terangnya.

Menggambar menjadi aktivitas yang selalu menyenangkan bagi Rahma. Anak gadis buah hati pasangan Slamet Riyadi dan Sulasih ini selama 4 tahun terakhir berteman akrab dengan aktivitas gambar-menggambar. Hal ini bermula saat dirinya jatuh sakit hingga membuat kedua kakinya tidak dapat difungsikan. Hal ini juga yang memaksa Rahma untuk mengerjakan segala aktivitasnya di dalam rumah. Namun, kondisi ini tidak lantas membuat gadis 18 tahun itu patah arang. Dirinya enggan meratapi penyakit yang dideritanya sejak 4 tahun lalu itu. Waktu luangnya di rumah Rahma jadikan kesempatan emas untuk mengasah hobi dan bakatnya, yaitu menggambar.

“Rasanya senang mendapatkan beasiswa. Setidaknya ada jalan untuk meraih cita-cita saya untuk mengembangkan hobi menggambar. Saya ucapkan banyak terima kasih,” Tutur Rahma.

Difabel atau non difabel, waktu yang diberikan tuhan adalah sama. Dua puluh empat jam. Bedanya, untuk apa modal 24 jam tersebut? Apakah habis untuk menggali potensi diri? Ataukah habis hanya untuk sekedar mengisi hari dengan hal sia-sia. Sekedar melintas waktu begitu saja karena merasa tidak meminta dilahirkan ke dunia. Atau bahkan mungkin bisa habis hanya untuk meratapi nasib. Berduka dan sibuk mengutuki diri yang tidak sempurna. Karena pada hakekatnya, tidak ada satu manusia pun yang sempurna. Untuk itu, mari belajar pada Rahma yang telah bangkit dan siap berlari songsong masa depan meski dengan kaki yang tidak lagi berfungsi.

Sumber: Detik.com