Dengan Keripik Makaroni, Rahim Ingin Difabel Berwirausaha

0
263

Penulis: Ramadhan Bayu Pratama

Newsdifabel.com — Wirausaha kini menjadi pilihan bagi banyak orang untuk mendapatkan tambahan uang. Lalu bagaimana dengan difabel netra, apakah mereka bisa berwirausaha? Sangat bisa, apalagi di zaman teknologi canggih seperti saat ini, hanya dengan menggunakan media sosialnya, difabel netra dapat melakukan pemasaran dan bisa melakukan kegiatan jual beli dengan konsumen.

Tentu seperti kawan kita satu ini, Rahim namanya, pemuda asal minang yang sudah menamatkan kuliah magister di Universiyas Pendidikan Indonesia (UPI) menuturkan pengalamannya saat melakukan pengabdian pada masyarakat. Pemuda berkulit sawo matang ini menuturkan pengalamanya saat ia mengajarkan kepada siswa-siswi difabel netra cara memasak makroni menjadi makanan camilan yang enak, kriuk di lidah, dan disukai banyak orang.

Soal tampilan produk, kemasan ia desain sendiri dimana kemasan tersebut akan membuat para penikmat cemilan malas berkedip dan aneka manipulasi rasanya bisa menarik minat pembeli.

Saat ditanya tujuan dari pengabdian yang ia lakukan, Rahim sambil menyeruput kopi hitamnya mengatakan bahwa pengabdian tersebut ia lakukan untuk memberikan pembelajaran kepada siswa-siswi difabel netra agar memiliki kemauan dan kemampuan melakukan kegiatan wirausaha dari memproduksi, pemasaran, dan pembukuan.

Ruang produksi Macarowel milik Rahim

Dari pengalamanya, Rahim mengajak siswa difabel netra usia remaja yang terdiri dari 13 orang, kemudian Rahim melakukan asesmen untuk melihat potensi dan kemampuan teman-teman difabel netra, lalu ia bagi ke dalam beberapa tim sesuai dengan potensi, kemampuan, dan kenginannya.

“Selanjutnya, siswa-siswi difabel netra belajar mencuci makaroni, setelah bersih, mereka dibagi dalam beberapa tim seperti tim memasak, dimana alat penggorengannya didesain khusus agar aman dan mudah diakses oleh difabel netra, memiliki alat ukur yang dapat diatur agar difabel netra dapat mengetahui seberapa lama bila makaroni yang digorengnya sudah matang. Sedangkan kompor yang digunakan adalah kompor listrik karena lebih aman digunakan oleh difabel netra”, tutur Rahim.

Lalu kelompok lainnya adalah tim yang bertugas memberi bumbu pada makaroni yang sudah matang dimana terdapat beberapa aneka rasa seperti balado, jagung bakar, original, dan lainnya lalu ada tim yang bertugas membungkus makaroni ke dalam kemasan yang sudah disediakan serta ada tim yang bertugas melakukan pemasaran dan pembukuan.

Pemasaran dilajukan secara luring dan daring. Sedangkan pembukuan dilakukan dari mulai menghitung besaran modal yang digunakan untuk membeli barang, alat, dan bahan apa saja yang sudah dibeli hingga dari bahan tersebut menjadi berapa bungkus makaroni yang siap untuk dijual. Begitu pula setelah dipasarkan, tim pembukuan harus menghitung dan mencatat berapa bungkus makaroni yang sudah laku dijual, kemudian mencatat keuntungan dari penjualan tersebut.

E-poster Macarowel (Macaroni Bawel)

Dari pengalamanya memproduksi camilan makaroni bersama siswa-siswa difabel netra itu, Rahim yang dibimbing oleh dosennya menuturkan bahwa penting memberikan pembelajaran vokasional seperti cara memproduksi camilan makaroni tersebut agar setelah lulus sekolah siswa difabel netra memiliki kemampuan dan kemauan berwirausaha agar mereka dapat mandiri secara ekonomi ketika sudah terjun hidup di tengah masyarakat.

Sambil tersenyum, pria yang seorang penggemar film India ini juga menyampaikan, akan terus membimbing sampai siswa-siswi difabel netra tersebut benar-benar bisa mandiri dalam memproduksi dan memasarkan camilan makaroninya. Sungguh pengalaman yang inspiratif sekali, semoga harapan Rahim agar difabel netra dapat berwirausaha dan mandiri secara ekonomi dapat terwujud.