Dengan Ember Bekas Edi Sundara Menjadi Seniman Karawitan Sunda [Bagian Terakhir]

0
489

Penulis: Rido

Newsdifabel.com — Sekian lama dibimbing Haji Darmin, Edi kemudian dipertemukan dengan pribadi yang nantinya sangat berperan dalam menempa bakat dan meningkatkan potensinya. Dia adalah Ono S. Gunaya, seorang dalang wayang golek termasyhur di Sumedang pada jamannya. Dari Ono lah, ia banyak memperoleh ilmu dan teknik bermain kendang yang sangat dibutuhkan.

“Waktu itu, kami ditawari buat belajar seni padalangan oleh beliau”, Edi melanjutkan kisahnya. Edi mengungkapkan, dia bersama teman-teman sesama difabel netra membentuk satu grup gamelan wayang dan mereka dididik langsung oleh Ono.

“Saya dan teman-teman terus diarahkan menurut potensinya. Ada yang belajar mendalang, ada yang ke gamelan. Saya sendiri diprioritaskan buat mendalami kendang”, Edi menjelaskan.

Dalang yang baik hati ini akhirnya resmi menempa Edi dan kawan-kawan di padepokan miliknya tanpa memungut biaya sepeser pun. “Kami bukannya bayar, malah dikasih makan sama Pak Ono kalo beres latihan”, ujar Edi sambil tertawa.

Belajar Gamelan Wayang

Edi yang sebelumnya hanya belajar gamelan degung yang permainannya cenderung lebih lembut dan tidak memerlukan pola tertentu, kini mau tidak mau harus beradaptasi. Jika dalam gamelan degung seorang juru kendang tidak terlalu diwajibkan memiliki keterampilan khusus untuk memainkan kendang, tapi pada gamelan wayang, seorang pemain kendang diharuskan mempunyai teknik dan kaparigelan (keterampilan) lebih saat memainkan kendangnya.

Hal itu disebabkan karena banyaknya tokoh dalam wayang yang masing-masing punya watak dan pembawaan yang berbeda, sehingga juru kendang dituntut untuk dapat mendeskripsikan karakter tiap tokoh lewat pola permainan kendang yang sesuai dengan wayang yang sedang dimainkan oleh sang dalang.

Nah, di sinilah problem mulai muncul. Edi yang difabel netra tentu mengalami sedikit hambatan dalam hal visualisasi yang menyebabkan ia agak sukar menjabarkan apa yang dikehendaki oleh mentornya.

Ono yang tidak memiliki basis dalam hal pendidikan siswa berkebutuhan khusus menggunakan metode yang biasa diterapkan untuk melatih anak didiknya yang normal dalam membimbing Edi. Selain itu, dalang sepuh ini termasuk golongan orang yang teguh memegang tetekon (aturan baku dalam seni karawitan), sehingga menjadikan kendala berikutnya bagi Edi.

Baca: Dengan Ember Bekas, Edi Sundara Menjadi Seniman Karawitan Sunda [Bagian I]

“Kalau di wayang, pola kendang untuk mengiringi gerakan tokoh satu dengan lainnya itu beda. Contohnya, pola kendang untuk mengiringi ibingan atau tarian yudistira itu ‘nggak sama dengan pola untuk mengiringi ibingan bima. Begitu juga dengan pola kendang untuk arjuna, semar, sastrajingga, dan lainnya itu punya pola dan suasana sendiri-sendiri, itu masalah yang kami alami”, Edi mengungkapkan kesulitannya.

Ia lalu meneruskan, “Nggak jarang saya dilempar pemukul sama Pak Ono kalo pola kendang saya ‘nggak sinkron sama gerakan tokoh wayang yang dimainkan beliau”.

Di tengah kondisi semacam itu, timbul lah inisiatif dari pak dalang untuk meminimalisir kesulitan yang sedang menerpa Edi. Langkah yang dilakukan adalah dengan merekam setiap Edi dan kawan-kawan saat sedang berlatih gamelan, supaya dapat didengarkan kembali oleh mereka bila selesai latihan. Oleh sang dalang, Edi juga diberikan banyak referensi berupa kaset-kaset lakon atau cerita wayang dari dalang lainnya, untuk menambah perbendaharaan teknik permainan kendangnya dan dapat lebih cepat menguasai tarian serta gerakan tokoh wayang yang akan dipelajari.

Trik berikutnya, Edi bersama teman seangkatannya oleh sang guru disarankan untuk membentuk sebuah grup gamelan wayang yang dalam praktiknya nanti seorang dalang tidak lagi memerlukan properti sebagaimana biasanya. Jadi, dalang hanya bertugas sebagai penutur lakon yang diceritakan tanpa menggunakan instrumen wayangnya untuk menggambarkan tokoh yang sedang dikisahkan. Cara ini dimaksudkan agar anak didiknya yang difabel netra lebih mudah dalam menyesuaikan antara pola kendang dan gamelan, dengan tokoh wayang yang sedang dituturkan.

“Pak Ono menyuruh kami membuat grup gamelan untuk mengiringi wayang catur. Jenis wayang seperti ini ternyata ‘nggak terlalu sulit buat saya dan teman-teman ketimbang bentuk pagelaran wayang pada umumnya”, Edi menjelaskan.

Dengan metode ini, Edi akhirnya tidak lagi mengalami kendala berarti ketika menjalani latihan dan dapat menyerap dengan baik ilmu yang diberikan oleh gurunya. Sayang, masa bulan madu Edi dengan mentornya yang seorang dalang itu tidak bertahan lama. Usia Ono yang semakin lanjut adalah salah satu faktor yang menyebabkan ia harus berpisah dengan dalang yang telah sukses mengasah talentanya.

Ilmu yang didapatkan Edi dari belajar karawitan degung dan wayang sungguh menjadi keuntungan tersendiri dalam meningkatkan keahliannya bermain kendang sampai sekarang. Kelebihannya, ia jadi sangat fleksibel memainkan alat musik tradisional ini dengan pola apa saja, dari yang klasik seperti kliningan, atau kendang ala jaipong dan bajidoran, ataupun pola dangdut koplo, bahkan menggabungkannya sekaligus tanpa ada rintangan yang berarti.

Hal itu membuatnya sering diajak bermain bersama oleh berbagai grup kesenian baik dari kalangan sesama difabel netra maupun non difabel dalam berbagai acara. Namun sayangnya, belakangan muncul fenomena yang membuat ayah tiga anak ini merasa resah atas kelangsungan hidup alat musik tradisional, khususnya kendang yang sangat dicintainya.

Seni Tradisi dan Kemajuan Teknologi

Maraknya teknologi digital di masa kini tak urung menyentuh dunia musik terutama musik tradisional, dan organ adalah wujud nyata dominasi instrumen musik digital terhadap alat musik manual. Dengan hanya bermodal sebuah alat musik organ, seseorang bahkan sudah bisa merancang sendiri komposisi atau pola permainan kendang yang diinginkannya tanpa sedikitpun memeras otot dan otak. Efeknya tentu saja dapat mematikan eksistensi para pemain kendang manual yang masih menggunakan inteligensinya dalam bermain. Itulah yang membuat Edi Sundara merasa prihatin dan gundah.

Edi mengungkapkan bahwa bagaimanapun ceritanya alat musik akustik akan mengalami kesulitan bila dihadapkan dengan instrumen digital. Dan itu adalah kenyataan pahit bagi para pelaku seni tradisi, utamanya para pemain kendang yang kurang menguasai alat musik digital ini.

Walau demikian, Edi menyarankan kepada seluruh pelaku seni tradisional khususnya para pemain kendang supaya tetap kreatif dan inovatif menyikapi keadaan yang sedang terjadi. “Salah satu caranya adalah dengan terus meningkatkan kualitas permainan kita”, Edi mengutarakan.

“Terus ikuti perkembangan teknik permainan kendang, dan jangan gengsi menerima masukan dari orang lain, karena itu akan membuat kita lebih maju dan berkembang”, lanjutnya.

Edi kemudian mengimbau kepada masyarakat Jawa Barat khususnya masyarakat sunda, agar terus bersama-sama memelihara, melestarikan, dan mengembangkan seni gamelan maupun seni bermain kendang yang hampir punah ini supaya selalu terjaga dan tidak musnah begitu saja.

“Kita jangan sampai malu untuk belajar seni karawitan”, katanya. Ia juga menambahkan, hendaknya masyarakat dapat menerima dengan sebaik-baiknya jika ada seorang musisi difabel netra yang ingin bergabung dengan salah satu grup kesenian di kalangan non difabel selama yang bersangkutan memenuhi kriteria, baik itu dari aspek talenta maupun segi etikanya.

Edi juga mengajak kepada rekan-rekannya sesama difabel netra agar terus mencintai musik tradisional utamanya seni karawitan dengan berbagai jenisnya, karena itu akan sangat menunjang bagi mereka yang mempunyai talenta dalam bermain kendang. Ia pun berpesan kepada seluruh pemain kendang difabel netra supaya selalu cerdas, berpikir keras, kreatif, senantiasa melahirkan teknik bermain yang baru untuk dapat bersaing dengan masifnya perkembangan digitalisasi alat musik saat ini.

“Kita jangan kalah sama teknologi! Jadikan teknologi itu penunjang permainan kita”, Edi mengakhiri kisahnya.