Dengan Ember Bekas, Edi Sundara Menjadi Seniman Karawitan Sunda [Bagian I]

0
380

Penulis: Rido

Newsdifabel.com — Setiap manusia yang diciptakan ke alam dunia pasti dianugerahi talenta oleh Yang Maha Kuasa sebagai bekal untuk menunjang perjalannannya dalam mengarungi luasnya samudera kehidupan. Bakat pemberian Tuhan itu ada yang sudah dibawanya sejak dilahirkan, dan ada yang baru muncul melalui proses penempaan lebih dahulu. Itulah hibah yang diberikan Tuhan kepada kita makhluknya secara cuma-cuma dan tanpa diminta.

Adalah Edi Sundara, seorang difabel netra yang mempunyai multi talenta di bidang seni karawitan sunda, bidang yang telah sukses melambungkan namanya di kalangan difabel netra khususnya, dan masyarakat umumnya. Sebagai difabel netra, Edi dikaruniai bakat musikalitas dan keahlian cukup komplit. Dia nyaris dapat memainkan semua waditra (alat dalam seni karawitan sunda) dengan cekatan dan sama baiknya, tidak kalah dibanding orang non difabel yang memiliki kemampuan sama dengannya. Hal itulah yang membuat dia dikagumi oleh kawan sesama difabel netra maupun non difabel.

Salah satu bakat yang dimilikinya dan paling menonjol adalah keterampilan memainkan kendang sunda. Edi sangat fasih memainkan alat musik tradisional yang menitikberatkan pada teknik pukulan tangan ini dengan rapi dan nyaris tanpa cela. Ketangkasannya memainkan alat perkusi khas daerah pasundan ini sungguh mengagumkan dan luar biasa. Tak jarang orang yang menyaksikan akan terhipnotis dan terpukau dibuatnya.

Dalam sebuah perbincangan ringan, lelaki yang kesehariannya bekerja di SLB/NA Bandung ini berkenan menuturkan kisah dan sedikit keresahannya kepada Newsdifabel.com.

Sejak usia kanak-kanak, Edi kecil memang sudah punya kegemaran untuk bermain alat perkusi. “Saya dari sebelum sekolah sudah hobi main kendang”, Edi mengawali kisahnya.

Ia melanjutkan, saat itu dirinya bermain kendang secara otodidak pada awalnya, tentu saja kendang yang dimainkan bukan kendang sebenarnya. Ia sering menggunakan apa saja yang ada di rumahnya supaya bisa dijadikan media untuk menyalurkan kesenangannya itu.

“Kaleng dan ember bekas yang paling sering jadi korban dipake saya buat main kekendangan/kendang bohongan sama teman-teman”, ujarnya sambil bercanda.

Beruntung, ada seseorang yang dengan jeli melihat dan menaruh perhatian khusus terhadap potensi besar yang ada padanya. Secara saksama orang itu mengamati perkembangan si Edi kecil, hingga orang yang ternyata adalah kakeknya itu membelikan Edi satu kulanter (kendang kecil) untuk sekedar memotivasi semangatnya dan makin mengembangkan cara bermain kendangnya yang tentu masih apa adanya.

Sejalan berputarnya waktu dan bertambahnya usia, tibalah masanya Edi kecil harus memasuki jenjang pendidikan yang membuat ia mesti berpisah dengan kawan sekegemaran dan sepermainan di kampung halaman, bahkan keluarga dan orang tua pun akhirnya ditinggalkan.

Kondisi dirinya yang seorang difabel netra menyebabkan ia harus menjalani pendidikan di lembaga yang khusus memberikan pendidikan kepada difabel netra, (SLB/A), dan SLB Negeri Sumedang adalah sekolah pertamanya. Di sinilah awal titik tolak seorang Edi Sundara, yang nantinya akan membawa sebuah perubahan besar dalam kehidupannya kelak di kemudian hari.

Di sekolah inilah ia mulai menerima tempaan dan godokan dari lingkungan pendidikan yang selanjutnya akan semakin memunculkan potensinya dalam seni tradisional, terutama bakatnya dalam bermain kendang.

“Alhamdulillah, di SLB saya ketemu banyak teman sesama disabilitas netra yang satu hobi dengan saya”, ujar Edi melanjutkan kisahnya. “Apalagi di situ ada perangkat gamelan yang lengkap dan ada kendangnya juga. Sudah, tambah senang saya”, katanya.

Takdir pun kemudian mempertemukan Edi kecil dengan mentornya yang berperan besar dalam menggali bakat seni Edi Sundara. Darinya lah, Edi banyak mendapatkan fondasi yang sangat dibutuhkan untuk mempelajari dan menekuni seni karawitan sunda, khususnya kendang hingga saat ini.

Dialah Haji Darmin, tokoh yang diakui oleh Edi sebagai salah seorang yang paling berjasa dalam hidupnya. Bersama Haji Darmin, ia mendapatkan teknik dasar dalam hal bermain kendang dan mendalami seni karawitan lewat jalan belajar gamelan degung yang merupakan salah satu genre dari karawitan sunda.

“Saya mulai dibimbing beliau pas saya kelas VI di SLB Sumedang”, kenang Edi.

Pak Darmin adalah peletak batu pertama bagi saya untuk menapaki tahap selanjutnya dalam mempelajari kendang dan seni karawitan”, ujarnya lagi.

Masih menurut Edi, walaupun Haji Darmin tidak mengajarinya cara bermain alat perkusi tradisional sunda ini secara eksklusif, tapi ia tetap sangat merasakan manfaat ilmu yang diperoleh dari beliau.

Karakter dari gamelan degung sendiri yang cenderung lembut dan mendayu-dayu membuat Edi ketika itu tidak terlalu dituntut oleh sang guru supaya mempunyai keterampilan lebih dalam memainkan kendangnya. “Saya waktu itu belajar gamelan degung sama Pak Darmin di sekolah. Dari situ saya dapat teknik dasar bermain kendang”, tutur Edi.

Demikianlah, Edi Sundara yang tengah beranjak remaja mulai meniti tangga sejarah kehidupannya tahap demi tahap. Itulah kiranya ketentuan Tuhan yang sedang dijalankan oleh Edi.