Dedikasi Herlinda Safitri Pelatih Ten Pin Bowling

0
349

Oleh: Irvan Arimansyah

[Bandung, 8 Oktober 2020] Bowling adalah olahraga menggelindingkan bola dengan memakai satu tangan, mengarah ke pin yang berjumlah 10 buah. Itulah alasan olahraga ini dinamakan Ten Pin Bowling. Ten Pin Bowling termasuk olahraga permainan. Jika dalam satu gelindingan pemain bisa menjatuhkan seluruh pin, maka dinamakan strike. Jika pin tidak bisa dijatuhkan dalam sekali gelindingan, maka pemain diberi peluang sekali lagi guna menjatuhkan pin yang tersisa. Jika sesudah dua kali masih terdapat pin yang tersisa, maka ini dinamakan open frame (missed). Semua hasil dari setiap satu gelindingan bola, akan dihitung sebagai angka yang didapat dalam masing-masing frame. Pin akan kembali dibentuk seperti semula untuk frame selanjutnya.

Di Amerika, olahraga bowling dipopulerkan oleh orang-orang Belanda yang datang ke negara tersebut sekitar tahun 1600-an. Sebelum dikenal sebagai olahraga bowling, permainan ini mempunyai nama “dutch pins”. Di negeri Belanda sendiri, permainan bowling diangkut oleh orang Inggris pada awal tahun 1100-an.

Diambil dari Wikipedia, Indonesia baru mengenal bowling pada tahun 1970. Pada 1983, Achmad Thahir selaku Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi saat itu secara resmi mengenalkan istilah bowling. Beliau pun menjabat sebagai Ketua Panitia Kejuaraan bowling antar klub guna memperebutkan piala Presiden Soeharto.

Seiring berjalannya waktu, olahraga bowling semakin dikenal dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Begitu pun dengan masyarakat difabel. Pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) Riau 2012, untuk pertama kalinya olahraga bowling menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Antusias para penyandang difabel terhadap olahraga bowling sangat tinggi, ini terbukti dari banyaknya pemain bowling difabel yang lahir setelah gelaran Peparnas Riau 2012.

Ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016 memunculkan satu sosok perempuan yang mampu membawa tim atlet bowling Jawa Barat menjadi juaara umum pada cabang olahraga tersebut. Herlinda Safitri namanya. Di tangan mantan atlet bowling yang sekarang aktif menjadi pelatih bowling paralimpik ini, tim bowling Jabar dapat mempersembahkan banyak medali emas untuk Jawa Barat pada pesta olahraga 4 tahunan tersebut (Peparnas 2016).

“Saya mulai melatih secara umum dari tahun 2004, saat ‘nggak jadi atlet lagi. Ngelatih non disabilitas udah 16 tahunan. Awal terjun melatih untuk disabilitas itu awalnya jadi pelatih untuk atlet disabilitas daksa. Lalu, almarhum bapak (suami Linda) yang juga sama seperti saya, ngelatih disabilitas juga bilang kalau ada atlet disabilitas netra. Awalnya, sih, bingung, gimana ini. Akhirnya saya mau, tapi pertama kali ngelatih, saya biarkan atlet-atlet ini main, lalu saya amati dari belakang. Ini untuk mendapatkan kepercayaan juga dari atlet. Karena ‘kan antara pelatih dan atlet itu harus saling percaya. Atlet percaya sama pelatihnya. Itu yang penting.”

“Pelan-pelan saya masuk, memperkenalkan diri dan akhirnya bisa nyambung. Saya awam tentang disabilitas saat itu. Tapi seiring waktu, saya dapat membimbing, melatih, dan mengarahkan. Saya belajar juga dari atlet-atlet disabilitas yang saya latih.” jelas perempuan 60 tahun tersebut.

Linda memaparkan bahwa, ada kesulitan yang beragam baik saat melatih atlet non disabilitas, atau atlet disabilitas. Keduanya memiliki kesulitan tersendiri. Atlet disabilitas pun berbeda tingkat kesulitannya. Difabel netra contohnya. Mereka lebih mengandalkan pendengaran saat berlatih dan atau bertanding. Konsentrasi mereka akan terhambat jika ada kebisingan di sekitar mereka. Misal, penonton yang teriak terlalu keras. Ini sangat berpengaruh. Atlet dengan difabel netra menjadi kurang fokus karenanya.

“Kesulitan secara umum sih ‘nggak ada. Sama saja. Itu karena saya sudah biasa dengan atlet-atlet disabilitas. kalau untuk perlakuan saya terhadap atlet non disabilitas dan disabilitas ‘nggak ada beda. Sama saja. Hanya beda teknik melatih saja. Tapi, kalau untuk menegur, atau ketegasan jika ada yang harus ditegasin sih, sama. ‘Nggak mentang-mentang saya ngelatih atlet disabilitas lantas saya memperlakukannya beda, itu sih ‘nggak. Semuanya saya perlakukan sama,” tutur Linda.

“Untuk teknik sendiri, jangankan untuk yang disabilitas dan non disabilitas, untuk sesama disabilitas pun berbeda. Disesuaikan dengan jenis kedisabilitasan dan kemampuan per individunya. Ya, meskipun secara umum tekniknya sama, misal, bola ketika dilempar itu harus lurus, tapi untuk atlet disabilitas netra itu ‘nggak mudah. Satu atlet disabilitas netra yang satu dan yang lain itu ‘nggak sama. Yang satu lebih mudah melempar lurus, yang satu sulit. Nah, ini PR untuk saya bagaimana memberikan teknik dan arahan yang tepat.” tambahnya.

Bagi Herlinda Safitri, menjadi pelatih atlet paralimpik melahirkan kebanggaan tersendiri, saat masyarakat umum merasa heran dengan kemampuan atlet-atlet difabel yang bisa bermain olahraga mahal yang satu ini. Banyak pertanyaan muncul karenanya. Bagaimana cara melatihnya? Selain itu, Linda juga merasa terus bersemangat berada di antara atlet-atlet difabelnya. Di usianya yang tidak lagi muda, perempuan hobi olahraga ini merasa senantiasa berjiwa muda dan terus bersemangat guna menyuntikkan kekuatan untuk atlet-atletnya.

Linda, di tahun 2020 ini dipercaya melatih tim atlet bowling paralimpik Kota Bandung untuk persiapan gelaran pesta olahraga Pekan Paralimpik Daerah Jawa Barat (Peparda Jabar) 2022.