Dari Celebes ke Jawa, Yugianti Berlayar Mengikuti Angin Takdir

0
380

Penulis: Delia  

Newsdifabel.com — Hari bersejarah itu dicatat kalender sebagai Hari Kebahagiaan, bukan Senin, Selasa, Rabu, atau lainnya. Hari yang tak bisa dilupakan oleh seorang difabel bernama Yugianti. Ia berasal dari pulau yang dahulu disebut Celebes, sekarang Sulawesi, tepatnya Manado, salah satu bagian dari empat kepulauan sunda besar. Dikelilingi oleh laut dalam, empat semenanjung, dan tiga teluk membuat Sulawesi memiliki wisata bahari yang cantik menawan.

Perjalanan Yugianti (42) dimulai ketika ia menempuh pelatihan rehabilitasi sosial di PSBN Tumou Tou, Manado, yang saat ini sudah menjadi BRSPDSN Tumou Tou, Manado. Pada saat itu Yugianti mendengar informasi adanya tes Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk ditempatkan di Kementerian Sosial Republik Indonesia. Karena rasa penasaran, Yugianti pun mencoba mengirimkan berkasnya melalui jalur formasi SMU Tunanetra. Setelah itu ada pengumuman kelulusan berkas yang menyatakan bahwa Yugianti berhasil lolos ke tahap selanjutnya yaitu tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Saat itu pelaksanaan tes untuk peserta CPNS Indonesia bagian timur dilakukan di balai pelatihan yang ada di kota Makassar.

Ia mengikuti tes yang menguras hati, tenaga, dan pikiran dengan menempuh perjalanan jauh dari Manado sampai Makassar. Setelah tes selesai, Yugianti kembali melanjutkan pelatihannya di PSBN Tamou Tou, sambil menunggu hasil tesnya.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, setelah dua tahun Yugianti menyelesaikan pelatihannya di PSBN Tamou Tou, ia mendengar informasi bahwa namanya tertulis dalam pengumuman peserta yang lolos CPNS.

Syahdan, ia girang tak kepalang. Senyumnya membumbung ke angkasa raya, tentu diiringi ucapan syukur yang membahana. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa lulus CPNS.” puji Yugianti pada pemilik semesta.

“Setelah itu, untuk melakukan pendaftaran ulang, saya diantar almarhum ayah saya ke Jakarta, tepatnya di Salemba. Selama enam bulan di sana kami tinggal di tempat bibi, mulai dari pemberkasan ulang serta orientasi di sekitar Jabodetabek bersama rekan-rekan CPNS yang lulus. Setelah selesai pra jabatan ternyata saya ditempatkan di Badan Percetakan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso sampai saat ini, sekarang sudah ganti nama menjadi Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) Abiyoso.”

Perempuan dengan satu anak ini mengaku sering masuk angin dan sakit ketika pertama kali menginjak bumi pasundan pada Mei 2007. “Saya sering menggigil kedinginan saat mandi, soalnya, kan, Sulawesi itu cuacanya panas sekali, berbeda dengan Cimahi yang sangat dingin pada saat itu, tapi lama-lama saya bisa beradaptasi dan menyesuaikan.”

Pada saat Yugianti bekerja di sana, ia tak merasakan adanya perbedaan antara pegawai difabel dengan pegawai nondifabel, bahkan kepala BPBI sangat baik kepadanya sampai memberikan mess tempat tinggal sementara karena Yugianti tidak memiliki tempat tinggal, teman, kerabat bahkan sanak saudara. Tapi hal ini tidak berlangsung lama karena mess yang ditempati Yugianti merupakan hak khusus untuk kepala BPBI. Setelah sstu minggu mengenal dan berorientasi di sekitar tempat kerjanya, akhirnya Yugianti mendapat kos-kosan selama tiga bulan. Dengan adanya mutasi pegawai, ada rumah dinas yang kosong, kepala BPBI meminta Yugianti menempatinya.

Setelah lama berada di Cimahi, Yugianti mendapatkan pengalaman tentang perbedaan budaya dalam bermasyarakat, termasuk bahasa. Sebagai staf editor, ia harus menyesuaikan diri dengan bahasa sunda.

“Suatu ketika saya sedang bekerja bersama teman-teman, teman saya berkata, udah teh ngerapiinnya nanti dulu, kita ngopi bareng. Saya pun menjawab, maaf teh saya nggak biasa ngopi, saya sukanya minum teh. Sontak membuat seisi ruangan tertawa, ternyata dalam bahasa sunda ngopi itu artinya ngemil, saya pun akhirnya ikut tertawa juga.”

Pegawai BLBI Abiyoso yang berhasil kami hubungi via telepon di kediamannya yang berjarak 100 meter dari gedung BLBI ini bercerita bagaimana cara dia mengatur waktu antara pekerjaan ibu rumah tangga dan staf kementerian sosial. Sempat katanya menggunakan jasa asisten rumah tangga tapi selalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehilangan barang dan lain-lain. Setelah itu akhirnya Yugianti kapok menggunakan jasa asisten rumah tangga.

“Biasanya selepas kerja saya membersihkan dan merapikan rumah kemudian menyiapkan bahan masakan yang akan dimasak besok pagi. Setiap pagi saya bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan suami dan anak saya. Setelah itu saya mandi dan bersiap berangkat ke kantor, kalau misalnya tidak sempat sarapan di rumah, saya suka membawa bekal untuk dimakan di kantor.”

Pepatah bijak mengatakan “dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Menurut Yugianti, ada dua pesan moral yang wajib dimiliki seorang perantau. Pertama, harus mengikuti aturan, baik umum maupun adat istiadat di mana kita berada. Kedua, jangan sering bergantung kepada orang lain, berusahalah untuk menunjukkan kemampuan yang kita bisa sesuai kapasitas diri, dengan demikian, adanya kita di tengah masyarakat tidak menjadi beban, tetapi justru kita mampu berkontribusi kepada mereka sehingga masyarakat tidak lagi mendiskriminasi dan menganggap difabel sebelah mata.