Dari Belajar Manyalakan Komputer Hingga Bisa Edit Video

0
408

Penulis: Siti Latipah 

Newsdifabel.com — Teknologi untuk difabel netra masuk ke Indonesia seperti banjir bandang yang datang tiba-tiba. Konon katanya dengan teknologi ini difabel netra dapat mengoperasikan komputer. Dapat mengakses Microsoft Word, yang artinya, difabel netra bisa melakukan tulis-menulis secara mandiri. Membaca buku melalui electronic book, dan masih banyak lagi hal lain yang dapat dilakukan.

Namanya Ai Cahyati. Difabel netra, ibu dari satu orang putri bernama Dara Pramesti Hanania. Ai tertarik sekali dengan kemajuan teknologi untuk difabel netra. Saat itu, satu hal yang paling membuat dirinya begitu ingin mempelajari teknologi untuk difabel netra adalah dapat berselancar di dunia maya. “Menarik sekali.” Pikirnya.

Awal tahun 2005, Ai datang ke tempat belajar komputer untuk difabel netra di kawasan Bandung. Teman-teman difabel netra banyak yang ingin mempelajari hal baru. Efeknya, ibu muda ini harus menunggu giliran hampir berbulan-bulan hanya sekedar untuk belajar menyalakan dan mematikan komputer dengan bantuan screen reader.

Meskipun hanya belajar hal tersebut, dirinya mengaku senang sekali. Selain menyalakan dan mematikan komputer, guru komputernya saat itu memberi bonus materi cara membuka Microsoft Word. Berbekal kemampuan mengetik sepuluh jari yang sudah Ai kuasai sejak duduk di bangku SMA, dia nekat memperdalam komputer bicara sendiri.

Menyelusuri tombol-tombol yang ada di keyboard komputer satu per satu. Menanyakan fungsi-fungsi dari tombol-tombol yang ada kepada teman-teman. Kemampuan bahasa Inggris Ai yang bagus, sangat membantu. Screen reader dengan synthesizer eloquence (penyintesis ucapan) sedikit banyak menghambat teman-teman difabel netra dalam belajar komputer saat itu.

Satu tahun setelah mempelajari komputer bicara secara mandiri, Ai dapat berselancar di dunia maya. Yahoo Messenger favoritnya, menjadi jembatan komunikasi antar negara. Dirinya banyak menemukan teman dari berbagai belahan dunia.

Semakin hari perkembangan teknologi semakin menjadi. Ketertarikan perempuan berbadan imut akan kemajuan teknologi pun seiring sejalan. Ai selalu haus akan hal-hal baru yang dapat diakses dengan screen reader. Setelah Yahoo Messenger dan Friendster, muncul Facebook dan sosial media lainnya. Sudah tentu difabel netra dapat mengaksesnya. Dari tahun ke tahun, ada saja kejutan yang diberikan oleh sang teknologi untuk difabel netra. Pada tahun 2014, Ai mulai mengenal audio recording. Suaminya yang memperkenalkannya. Suami Ai mengetahui hobi istri tercintanya itu. Ai suka sekali bernyanyi. Dengan mengenal audio recording, mimpinya serasa terwujud.

“Aku akan menjadi artis yang memproduksi karyanya sendiri. Hehe,” Ucap Ai bercanda.

“Suami mengajariku dasar-dasar recording dengan bantuan screen reader tentu saja. Karena dia pun bernasib sama denganku. Kami pasangan difabel netra. Seperti halnya memperdalam komputer bicara, audio recording pun aku dalami sendiri. Suami akhirnya membelikan peralatan audio recording, microphone dan sound card. Suami mengetahui bahwa, aku ingin sekali menguasai teknologi untuk difabel netra lalu rekam-merekam. Dalam hal ini, aku lebih mudah mendapat referensi. Dengan berselancar di google atau mencari tutorial di YouTube karena aku sudah terbiasa menggunakan komputer.”

“Setelah kurang lebih satu minggu mengulik hal tersebut, akhirnya aku dapat meng-cover sebuah lagu dengan software audio recording yang bernama Sonar. Meski hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan, tapi sebuah lagu milik The Bangles yang berjudul Enternal Flame dapat kunyanyikan dan kurekam sendiri. Sampai saat ini, aku masih ingat lagu pertama yang aku cover, lalu direkam sendiri.” tutur Ai, panjang lebar.

Sungguh perjuangan belajar yang menghasilkan suatu kebanggaan tersendiri. Sejak saat itu, Ai rajin meng-cover lagu. Sudah 70 lagu lebih yang berhasil dinyanyikannya. Mulai dari meng-cover lagu Vina Panduwinata sampai Diana Ross. Mulai dari Maudi Ayunda sampai dengan Lewiss Capaldy. Saat ramadhan tiba, dirinya akan meng-cover lagu religi. Tidak jarang Ai membantu teman-teman difabel netra lain melakukan recording.

”Sebenarnya, aku telah memiliki channel YouTube sejak tahun 2010. Saat itu, hanya beberapa video saja yang aku unggah. Itu pun video produk yang aku jual. Baru sekitar tahun 2015, aku mulai aktif mengisi channel YouTube dengan video cover yang aku buat sendiri. Awalnya, video cover lagu yang aku unggah tidak bergambar. Hanya berupa tulisan judul lagu dan layar yang berwarna hitam. Aku bernyanyi dalam gelap. Layar monitor seperti mengejekku. Hehe.” Ai bercerita.

Karena Ai ingin sekali video youtubenya enak dilihat, dirinya berpikir, bagaimana caranya agar video yang diunggahnya bergambar dan bagus dipandang. Mbah google solusinya. Ai kembali berselancar di dunia tanpa batas itu. Banyak software video editing yang ditemukannya. Ai memilih software yang aksesibel dengan screen reader. Pilihannya jatuh pada Windows Movie Maker, karena hanya itu yang akses dengan screen reader yang Ai gunakan yaitu JAWS (Job Access With Speech).

Pertama menggunakan Windows Movie Maker, Ai hanya dapat menggabungkan foto dan audio saja. Lama-kelamaan, dirinya greget ingin bisa membubuhkan lirik pada video cover yang dibuatnya. Tutorial tentang hal tersebut akhirnya Ai dapat dari seorang difabel netra asal Amerika. Dasar-dasar pembuatan video lirik akhirnya dapat dikuasainya. Untuk hal-hal lain seperti membuat background, mengubah warna, membuat deskripsi dan lain-lain, dirinya pelajari secara mandiri. setelah Ai dapat mengoperasikan Windows Movie Maker, video cover ibu yang hobi bernyanyi itu lebih menarik dari sebelumnya. Sekarang, sudah tampil lirik lagu sekaligus foto dirinya.

“Awal membuat channel YouTube, aku hanya mempunyai sedikit subscribers. Setelah aku banyak meng-cover lagu dan mengunggah video yang ramah penglihatan, subscribers meningkat. Sekarang sudah ada sekitar kurang lebih seribu empat ratus subscribers.” Ujar Ai.

Selain kanal YouTube pribadinya, Ai juga mengelola kanal YouTube putri semata wayangnya. Konten YouTube putrinya berisi kegiatan sehari-hari. Seperti saat Dara bermain dan belajar. Mulai dari mengambil video sampai memberi efek audio Ai lakukan sendiri tanpa penglihatan.

Saat ini, Ai bergabung dengan satu komunitas yang di dalamnya beranggotakan ibu-ibu difabel netra. Komunitas tersebut bernama Blind Mom’s. Ai pun melakukan audio dan video editing untuk komunitasnya itu. Dirinya senang sekali, karena dengan kemampuan yang dimiliki, Ai dapat sedikit memberikan kontribusi untuk Blind Moms yang dicintainya itu.