Dampak Pandemi Covid 19 Terhadap Profesi Difabel Netra

0
185

Oleh: Indra Rukmana Putra

[Cirebon, 7 April 2020] Wabah Covid-19 yang melanda di tanah air sejak akhir lalu lalu, mulai berimbas pada perokonomian masyarakat secara global. Termasuk warga difabel yang memiliki profesi layanan jasa pijat refleksi.

Hampir satu bulan terakhir ini, efek pandemi Covid-19 mengakibatan menurunya penghasilan masyarakat yang mengandalkan pekerjaannya sebagai buruh harian lepas. Terutama sangat dirasakan oleh mereka yang berprofesi sebagai sopir angkot, jasa ojeg konvensional maupun ojek online, layanan jasa pijat refleksi, serta pedagang keliling. Ini sangat dirasakan setelah pemerintah Indonesia menghimbau kepada seluruh masyarakat agar diam di rumah masing-masing dan tidak melakukan aktivitas diluar rumah yang melibatkan banyak orang.

“Menurunnya penghasilan pun dirasakan juga oleh para difabel netra yang bermata pencaharian sebagai terapis pemijat, karena berkurangnya pelanggan,” ujar Lamsu (49) pemijat tunanetra asal Tukmudal Sumber Cirebon, saat dihubungi oleh Newsdifabel via telepon Sabtu lalu (28/3/2020)

Lamsu, yang juga sebagai pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Cirebon Raya bidang ketenaga kerjaan menuturkan, biasanya dalam sehari dirinya mendapat pelanggan terpis pijat hingga tiga pasien. Akan tetapi, sejak adanya wabah ini dalam sehari saja satu pasien kadang ada, kadang tidak ada sama sekali. Diakui Lamsu, kondisi ini mempengaruhi pemenuhan kebutuhan keluarganya, seperti untuk makan sehari-hari, keperluan anak sekolah dan kebutuhan lainnya.

“Rata-rata secara umum, kami para tunanetra yang berprofesi sebagai terapis pijat itu mendapatkan lima puluh ribu rupiah dari satu pasien,” tutur Lamsu.

Dari setiap pendapatan tersebut, para terapis pijat tunanetra harus membagi dua penghasilannya jika mereka mengontrak tempat untuk membuka klinik pijatnya. Sebagian untuk membayar sewa kontrakan, sebagian lagi baru digunakan untuk keperluan keluarga di rumah.

Senada dengan Lamsu, di hari yang sama melalui telpon kepada Newsdifabel, terapis pijat dan ibu rumah tangga asal Jagasatru Pekalipan Cirebon, Yani (47) difabel netra yang juga menyampaikan keluhan yang sama. Sebagai terapis pijat, Yani terakhir mendapatkan satu orang pasien yang hendak dipijat sekitar Rabu lalu (18/3/2020) setelah itu belum ada lagi pasien yang meminta untuk dipijat.

“Saya menjadi tulang punggung keluarga, anak juga masih kecil. Apa lagi ini pekerjaan yang saya bias andalkan untuk menafkahi keluarga tanpa harus meminta-minta kepada orang lain” kata Yani.

Ia berharap agar pemerintah bisa memperhatikan para tunanetra yang mencari nafkah untuk keluarga dengan cara memberikan layanan jasa pijat. Supaya mereka tidak terbebani dengan menurunnya pasien jasa pijat. Terlebih, bagi mereka yang belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah daerah, atau pemerintah pusat, seperti Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) maupun Program Keluarga Harapan (PKH) seperti dirinya.

Selly Andriany Gantina, anggota Dewan Perwakilan Rakyat di tingkat pusat (DPR RI) Komisi VIII yang membidangi Agama, Sosial dan Kebencanaan, saat ditemui Newsdifabel (4/4/2020) menyampaikan rasa keprihatinannya, atas pengaruh pandemi Covid-19 yang menimpa perokonomian masyarakat secara universal.

“Prihatin, but life goes on. Tentu sangat disayangkan informasi tesebut benar. Sebagai multiplier effect dari kepanikan menghadapi virus Covid-19 ini. Saya prihatin dengan nasib kawan-kawanku yang tunanetra, mereka yang kehilangan ruang dan matapencaharian karena pandemi ini” kata Selly.

Ia pun menambahkan, pemerintah sudah melakukan pemusatan perhatian soal pandemi ini. Ada pergeseran cukup signifikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) khususnya APBN perubahan. Menurut Sally, sekarang pos keuangan yang tidak mendesak digeser untuk penanganan wabah corona, juga pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di daerah-daerah mulai direlokasikan. Tujuannya untuk hadirkan layanan yang maksimal bagi masyarakat yang terdampak pademi ini.

Selly, yang juga merupakan mantan Wakil Bupati Cirebon ini berjanji kepada para difabel netra, akan mencoba memperjuangkan mereka untuk masuk dalam golongan yang layak mendapatkan bantuan sosial sebagai bagian dari stimulus ekonomi pemerintah.

“Pandemi ini memang mengusik perekonomian kita, tapi tidak sampai mengusik semangat perjuangan kalian. Life goes on. Saya berjuang dalam ranah kebijakan publik, kalian tetap berjuang mengaktualisasi diri dengan karya terbaik,” ungkap Selly.

Dirinya juga tetap berharap kepada masyarakat difabel netra yang terkena dampak Covid-19 secara ekonomi agar tetap semangat, tidak berkecil hati menghadapi konsidi sekarang.

Dari pemantauan Newsdifabel, melalui media jejaring sosial facebook dan grup whatsapp, banyak difabel netra yang terkena dampak pandemi Covid-19. Khususnya bagi mereka yang memiliki profesi sebagai terapis pijat ikut merasakan dampak tersebut. Bukan hanya difabel netra yang ada di daerah Cirebon, mereka yang tinggal di Bandung, Jakarta, Bekasi dan kota lainnya, juga banyak yang merasakan berkurangnya pendapatan harian mereka, bahkan kehilangan penghasilan akibat klinik pijat tempat mencari nafkah mereka sepi pengunjung