Coffee Testing Day

0
200

Oleh: Pandu

[Bandung, 14 Juli 2019] Kopi adalah salah satu komoditas primadona nusantara yang diincar bangsa-bangsa luar hingga tega melakukan penjajahan. Perang karena kopi juga pernah terjadi antar kerajaan-kerajaan di Nusantara. Pada masa sekitar abad ke-14, keberadaan perkebunan kopi arabika di Toraja dibawa oleh pedagang Arab. Pada masa itu, pedagang dari Jawa datang ke daerah ini membawa emas, porselen, tembikar, dan kain untuk ditukar dengan kopi. Tahun 1800-an, Kerajaan Toraja mendominasi komoditas pasar kopi, saat itulah terjadi apa yang disebut sebagai Perang Kopi I hingga berlanjut ke Perang Kopi II. Perburuan kopi masih terjadi hingga sekarang karena memang aroma dan kenikmatan kopi begitu nikmat. Kini, kopi masih menjadi primadona. Banyak sekali warung dan kafe kopi yang menyajikan macam-macam jenis kopi. Jawa Barat adalah salah satu daerah penghasil kopi pilihan dunia. Dan ketertarikan kopi juga hinggap di masyarakat difabel. Ini sebuah kenyataan baru dimana difabel dengan tangkas meracik kopi dalam acara bertajuk Coffee Testing Day.

Tepat pada hari Jumat pukul 11 siang, acara “Coffee Testing Day” dilaksanakan untuk yang kedua kalinya. Ini merupakan program dari kelas barista BRSPDSN Wyata Guna Bandung bekerjasama dengan Siloam Center for The Blind. Meski keadaan cuaca saat itu panas menyengat, tetapi respon dari pengunjung sangat antusias, serta para siswa barista pun bersemangat menawarkan beragam menu minuman seperti ice caramel mochachino yaitu campuran caramel, cocoa, kopi susu. Ada juga ice beries yaitu hasil campuran rose berry strawberry yoghurt. Menu tersebut menjadi salah-satu dari 100 cangkir yang ditawarkan kepada pengunjung yang ngantri dengan tertib.

Menurut Cheisia Legi, instruktur kelas barista mengatakan, “Tujuan dari kegiatan ini yaitu agar para siswa bisa paham beberapa hal sistematis kerja tim, dan membuat minuman dengan kapasitas cukup besar serta memperkenalkan kepada para pengunjung bahwa difabel juga bisa menjadi barista”.

“Minuman ini sangat segar, tepat waktunya di siang hari yang panas ini dan semoga siswa barista bisa lebih berinovasi lagi”, ujar Sinaga yang merupakan pegawai dari BRSPDSN Wyata Guna.

Salah satu siswa dari kelas barista, Yuniarti Saadah mengatakan, “Kesannya saya merasa bahagia, senang, bangga bisa kerja tim dan merasakan dunia kerja yang nyata. Pesan saya untuk para pengunjung, budidayakanlah dalam mengantri serta berikan   kejujuran tentang review minuman yang dicoba”.

Acara tersebut tentu sangat penting, dan sekaligus ingin menunjukkan bahwa difabel juga bisa membuat secangkir kopi yang nikmat. Secara kualitas juga tak kalah, dan siap bersaing di dunia minuman kopi untuk tambahan rezeki.

Saya jadi teringat sebuah puisi dari penyair kondang Joko Pinurbo tentang kopi dan rezeki yang bunyinya begini: “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

Selamat menyeruput kopi.