Ciptakan Lapangan Kerja, Difabel Daksa Patahkan Stigma

0
261

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 3 September 2020] Berawal dari hobi akhirnya menjadi sumber yang menghasilkan, seperti itulah gambaran individu difabel daksa, Hendra Jaya (39) asal Bandung Jawa Barat. Usahawan muda yang sukses di bidang sablon dan konveksi ini ternyata tidak memiliki latar belakang pendidikan atau keterampilan khusus di bidang fesyen.

Hobi membuat gambar yang semula berupa kucing, rupanya membawa keberuntungan tersendiri. Disainnya yang diterapkan pada kaos dengan cetak sablon, banyak dilirik peminat. Hingga peluang tersebut dijadikan usaha jasa makloon, dan berkembangan menjadi konveksi sejak tahun 2015 silam. Semua berproses secara otodidak dan menjadi salah satu lapak pembuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar yang notabennya mereka adalah non difabel.

“Awalnya dari hobi yang suka gambar, terus suka terima jasa maklun juga, lambat laun terus dikembangan bersama teman untuk membuat konveksi,” ucap Herdra.

Sebagai langkah perdananya, Hendra memiliki lima orang karyawan. Dua untuk bagian sablon, dua lainnya untuk bagian jahit dan satu orang teknisi. Di saat pandemi ini, konveksinya tetap mempekerjakan semua karyawannya yang sudah mencapai sepuluh orang, ditambah ia dan rekan usahanya.

“Semua karyawan yang bekerja hingga saat ini non difabel, dan (semua) laki-laki, mereka asal dari Tasik dan Garut. Hanya saya yang difabelnya,” jelasnya.

Meski sebagai pemilik yang juga seorang difabel daksa, Hendra memiliki kepribadian yang mandiri. Setiap hal yang dirinya merasa mampu melakukan dan mengerjakannya sendiri, pantang dirinya memberi perintah pada karyawan. Sikap tersebut justru menuai simpati dan rasa hormat dari semua pekerjannya. Bukan sekedar dihargai sebagai sosok difabel yang sudah mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada non difabel, kemandirian Hendra pun menjadi pujian tersendiri di mata semua orang sekitarnya.

Dituturkan Hendra, awal perjalanan usahanya ia mendapat order dari Jakarta yang kebetulan menyukai desain kucing. Hingga akhirnya menjalar ke motif lain sesuai dengan pesanan dan menjadi pelanggan. Semua dilakukan bertahap, berproses, merambat, bahkan untuk membeli bahan-bahan pun dilakukan sendiri dengan mengandalkan motor yang dimilikinya. Dengan jumlah karyawan yang dimilikinya saat ini, Hendra menyebutkan produksi yang bisa dihasilkan per hari mampu hingga 1.500 bahkan 2.000 sebelum masa pandemi. Sehingga sebanyak apa pun order yang diterimanya mampu terpenuhi tanpa meleset dari kontrak kerja yang disepakati.

“Intinya kita jangan malas, terus berusaha, jangan hanya berdiam diri saja. Teruslah bergerak agar ada kegiatan dan penghasilan,” katanya.

Selama hampir lima tahun berjalan usahanya, ‘Encus Corp’ brand perusahaan yang dikelola Hendra di kawasan Antapani Bandung, sudah mendapat order dari berbagai wilayah di tanah air. Di antaranya dari Batam, Papua, Makasar, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bawa Barat, dan dari dalam Kota Bandung sendiri. Ragam produk yang pernah diproduksinya selain kaos adalah kemeja, topi, sepatu, naju berbahan jean, tas dam lainnya.

Di masa pandemi tiba, sekitar tiga atau empat bulan diawal usahanya sempat mengalami limit nol order dan semua karyawan pun dipulangkan dahulu. Hendra juga menyampaikan, usaha yang dibukanya murni dari modal pribadi bersama satu rekannya, dan belum pernah mengikuti atau mendapatkan bantuan permodalan dan sejenisnya dari program pemerintah.

Meski demikian, Hendra tetap optimis dan berharap apa yang sudah dilakukannya dapat menjadi sebuah motivasi dan semangat untuk masyarakat sekitar. Banyaknya usia remaja yang masih menganggur, membuat Hendra terpacu untuk terus mengembangan dan mempertahankan usahanya di tengah pandemi.

“Sejak awal pandemi karyawan sempat dipulangkan tiga hingga empat bulan karena tidak ada kerjaan, dan baru mulai dapat order lagi sekitar Agustus kemarin. Omset rata-rata per bulan yang didapatkan bersih sekitar lima hingga delapan juta rupiah, tinggal dibagi dua dengan teman,” kata Hendra.

Dengan kegigihan Hendra Jaya yang mampu membuktikan keberhasilannya di bidang usaha, berharap memacu semangat sesama difabel untuk lebih percaya diri. Mengikis stigma negatif dan tidak lagi dipandang sebelah mata adalah misi tersendiri yang ingin disampaikan Hendra melalui semua kegiatannya. Selain sukses dalam usahanya, ia juga memiliki keluarga utuh yang dikaruniai tiga orang anak. Dan kini Herdra pun mengembangkan bakat lain yang dimilikinya sebagai atlet bulutangkis di bawah naungan NPCI Kota Bandung.

“Saya pernah dipandang sebelah mata oleh lingkungan, bahkan sering diragukan dalam banyak hal yang dilakukan. Sedikit demi sedikit dan perlahan saya terus bergerak dan membuktikannya,” pungkas Hendra.