Cinta itu Buta, Cinta itu Tuli?

0
985
Foto: www.wired.com

Oleh: Barr

[Bandung, 11 Desember 2018] Selamat hari disabilitas internasional untuk 785 juta difabel dunia. Kelompok minoritas-banyak yang masih terdiskriminasi.

Cinta, adalah kata yang paling sering disebut dan dibahas, di saat bersamaan, paling sering dilupakan. Jika kita melihat warta tindak kriminal, pembunuhan, pemerkosaan, kerusuhan etnis, baku hantam antar golongan, diskriminasi ras, diskriminasi fisik, lalu kita sadar, saat-saat seperti itu, kita mempertanyakan, tiadakah mereka mempunyai cinta? Cinta bisa dikategorikan menjadi dua: cinta erotis dan cinta non-erotis. Cinta erotis biasanya secara biologis disertai kepentingan reproduksi dengan pasangan. Cinta non-erotis jauh lebih luas subjeknya, terutama yang berhubungan dengan kehidupan alam dan sosial-masyarakat.

Banyak orang bilang, cinta itu sesuatu hal yang abstrak, susah dijelaskan. Eits, jangan tergesa-gesa menyimpulkan begitu. Kini, dengan berkembangnya sains, manusia punya kemampuan mengeksplorasi hal-hal yang dahulunya belum bisa diketemukan sebab-akibatnya. Para ilmuwan neuroscience telah lama meneliti bagaimana respon saraf otak manusia ketika ada reaksi asmara.

Dalam situsnya Harvard University, The Graduate School of Arts and Sciences, dijelaskan secara sains bagaimana cinta terjadi.

Menurut tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Helen Fisher di Rutgers, cinta romantis dapat dipecah menjadi tiga kategori: nafsu, ketertarikan, dan kemelekatan. Setiap kategori ditandai oleh sekumpulan hormon sendiri yang berasal dari otak; Testosteron dan estrogen mendorong nafsu; dopamin, norepinefrin, dan serotonin menciptakan daya tarik; dan oksitosin dan vasopresin yang memediasi perlekatan. Hipotalamus otak memainkan peran besar, dalam hal ini, merangsang produksi hormon. Dophamine, oxytocin, dan vasopressin semuanya dibuat di hipotalamus, daerah otak yang mengontrol banyak fungsi vital serta emosi (emosi bisa berupa perasaan kasmaran). Nafsu dan ketertarikan mematikan korteks prefrontal otak, yang mencakup perilaku rasional.

Bagi yang pernah jatuh cinta, pasti pernah merasakan kondisi dan rasa yang serupa. Selama berabad-abad, orang mengira, semua datang dari hati. Konotasi hati dalam makna ini bukan liver. Dan entah kenapa selalu ada istilah hatiku berdebar-debar ketika melihat senyum dan kerling matamu. Juga ada perasaan tidak enak makan, aliran darah terasa mengalir-mendesir, tangan begitu dingin dan, jika rindu hadir, ada yang terasa menusuk di area dada. Kondisi di atas terjadi pada banyak orang, kita mengira bahwa cinta (dan sebagian besar emosi lain—marah atau patah hati) muncul dari hati yang dirasakan di area dada. Padahal hati (liver) secara biologis berada di rongga perut sebelah kanan, di bawah diafragma. Ternyata, cinta adalah tentang proses otak beserta semua zat kimia yang bekerja di dalamnya. Yang bisa membuat orang membuat kesalahan atau tindakan tak terduga, melebihi kesanggupan yang dilakukan manusia secara normatif. Misal, kita bisa melakukan hal bodoh yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan, bisa membuat orang melakukan apapun demi memenangkan cinta. Dalam hal yang lebih ekstrem, orang bisa melukai diri sendiri demi cinta, bahkan bisa berakibat kematian.

Lalu, buta dan tulikah cinta?

Sekali lagi, konotasi buta dan tuli bermakna bahwa ekspresi cinta seseorang bisa punya akibat yang tidak logis (berwatak destruktif baik pada diri sendiri atau orang lain). Cinta semacam itu adalah keliru. Masih banyak contoh percintaan yang agung, mulia dan hangat. Manusia yang sudah merdeka dan bebas dalam mentakzimi cinta tentu tak akan memandang bagaimana bentuk fisik pasangan yang dicintainya. Dan inilah percintaan yang mulia dan indah. Mereka adalah manusia yang punya kemampuan membebaskan cinta dari belenggu normalitas fisik. Kejahatan yang paling mengerikan di dunia kita adalah konstruksi tentang idealisasi tubuh. Mereka tidak tahu bahwa cinta yang indah (dan itu sangat logis) adalah cinta yang terbebas dari konstruksi awam. Apa konstruksi awam yang harus kita bebaskan? yaitu definisi cantik dan jelek, tampan dan jelek. Konstruksi itu dibangun dari ide-ide jahat tentang idealisasi tubuh.

Orang sering bilang cinta itu buta dan tuli. Kalimat itu seolah-olah sedang menyimpulkan bahwa untuk mencintai tak butuh logika. Lalu, kenapa pengibaratan itu diasosiasikan dengan kondisi disabilitas? Dalam ilmu bahasa, kita mengenal yang namanya majas. Bahasa Indonesia ada sekitar 59 jenis majas. Dari 59 jenis majas tersebut, dibagi dalam 4 kategori: majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, majas penegasan. Masing-masing kategori memiliki turunannya.

Buta biasanya dilekatkan sebagai kiasan, misal, anggota dewan yang dalam kebijakannya tidak melihat fakta di lapangan. Senada dengan kata tuli. Dalam hal ini, buta dan tuli adalah sebuah metafora, yaitu pemakaian suatu kata bukan dengan arti sebenarnya, melainkan sebagai kiasan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Ketulian dan kebutaan seseorang dalam makna metafora (kiasan) sering digunakan juga dalam karya sastra seperti puisi, teater, prosa. Kita memiliki banyak bahasa metafora, itu hak sastra.

Menyoal cinta, Amedeo Clemente Modigliani (pelukis masyhur kelas dunia berkebangsaan Italia) membuat satu lukisan perempuan. Kisah pendeknya, Modi jatuh cinta pada perempuan. Dalam kisahnya yang difilmkan (berjudul Modigliani), Modi melukis wajah perempuan itu dengan mata-kosong berwarna hitam-penuh. Lalu dia menjelaskan dengan kalimat, yang menurut saya begitu romantis, kira-kira begini: “When I know your soul, I will paint your eyes”. Posisi penjelasan itu adalah sebuah pembalikan bahwa mata hanya akan bisa dijelaskan ketika jiwa dari cinta diketemukan. Dengan kata lain, jiwa adalah mata. Jiwa lebih tajam dari mata.

Jadi, tugas kita sekarang adalah membebaskan cinta dari konstruksi jahat ide-ide normatifitas tubuh. Terutama bagi disabilitas, kalian memiliki tubuh yang indah, dan cinta kalian itu mulia. Bercintalah jangan takut-takut agar kau tak menyalahkan dunia.