Cinta di Tadarus Puisi

0
272
Tadarus Puisi Pekan Ke-2 (Foto: Dian Dearyana)

Oleh: Redaksi

[Bandung, 9 September 2019] Setelah satu pekan lalu Tadarus Puisi dibuka pertama kali di markas Newsdifabel.com, hari Minggu kemarin adalah tadarus kedua. Peserta yang datang berjumlah dua kali lipat dari sepekan lalu sehingga pengkajian tentang puisinya lebih banyak variasi gagasan, kritik, dan usulan.

Tradisi dalam Tadarus Puisi ala Majelis Sastra Bandung adalah menulis puisi, membagikannya ke tiap peserta, lalu membahas puisi masing-masing. Pembahasan dan pendiskusian distimulasi oleh Kyai Matdon. Selain itu, tiap peserta forum juga boleh menyampaikan gagasan, kritik, dan usulan.

Pertemuan kedua ini membahas puisi bertema cinta. Cinta untuk sang kekasih. Dalam semesta ini, cinta adalah bunyi yang tak berkesudahan, selalu hangat dibicarakan, menghadirkan getir atau riang ketika cinta tertambat dalam sukma.

Mengenai tema dan konten, sebuah puisi bebas menentukan dirinya sendiri. Penulisan puisi menjadi bebas bahkan ketika ia di luar logika, atau bahkan sangat rasional. Semua sah-sah saja.

Di pertemuan kedua ini ada wajah baru yang belum bisa berpartisipasi di hari pertama. Salah satunya Kang Ogest. Menurutnya, “Acara sangat bagus, agar kemampuan dalam literasi/menulis puisi bisa lebih terasah, dan mendapatkan ilmu untuk membuat karya lebih baik lagi. Apalagi ada mentornya yaitu Kyai Matdon dan Teh Ratna.”

Baca juga: Ada Tadarus Puisi di Markas Newsdifabel.com

Selalu ada pelajaran baru dari tadarus ini, termasuk bagaimana menghadirkan puisi yang enak diungkapkan. Meskipun setiap penilaian orang tentang puisi bisa bermacam-macam, Kyai Matdon mengingatkan bahwa perlu menghindari intensitas repetisi dalam penulisan puisi. Puisi tidak harus panjang, tidak juga harus pendek, yang penting puisi itu sudah dianggap selesai oleh penulis. Ukuran selesainya sebuah puisi hanya bisa ditakar oleh penulisnya sendiri.

“Karena, ternyata ada ilmunya untuk membuat puisi yang bernyawa, tidak asal jadi. Manfaat lain adalah bisa menambah persaudaraan yang sehobi.” tutur Kang Ogest sambil duduk di atas kursi rodanya.