Cerpen: Melukis Nasib Cinta

0
468

Penulis: Sovian Tri

“Awas, Hel”! Bum! Bola itu mengenai kepala Rahel. Gadis itu sedikit meringis kemudian melempar balik bola ke tengah permainan. Rafi yang melihat Rahel memegangi kepalanya, segera menghampiri gadis itu.

“Sorry, Hel! Kamu gak apa-apa, kan?”

Sementara Rahel hanya menggeleng sambil melanjutkan pekerjaannya menyirami bunga.

Rumah kediaman orang tua Rafi memang sangat luas. Pada bagian belakang, selain menggenang biru kolam renang, juga ada sebuah lapangan yang biasa dipakai Rafi dan kawan-kawannya bermain basket atau futsal. Di bagian samping, ada taman berbagai jenis bunga dilengkapi kolam air mancur berisi ikan warna warni.

Rahel seorang putri dari Bi Marni. Asisten rumah tangga yang telah bekerja lebih dari 10 tahun. Saat itu Bi Marni datang ke rumah keluarga Rafi untuk menggantikan posisi ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Padahal, dia juga baru memiliki seorang putri, bayi itu terpaksa dirawat oleh ibunya di desa. Sementara lelaki yang jadi suaminya pergi entah kemana. Laki-laki itu bertindak pengecut dengan alasan malu memiliki anak yang cacat.

Secara fisik memang tak ada yang gandjil dari diri Rahel Anastasia. Gadis berkulit langsat itu memiliki kecantikan yang bisa dibilang di atas rata-rata. Tubuhnya yang semampai, ditambah lehernya yang jenjang, serta lesung pipitnya yang memukau saat dia tersenyum, sudah pasti membuat siapapun akan terpesona. Di samping itu, Rahel tumbuh sebagai pribadi yang santun dan disukai banyak orang.

Semua itu tak lepas dari campur tangan Mamah Rafi. Dia menyayangi Rahel seperti anak sendiri. Dia memang sudah memiliki anak, namun tiga-tiganya adalah laki-laki. Dan saat Bi Marni meminta izin agar bisa membawa serta Rahel ke rumahnya, dia menerima dengan antusias.

Pernah perempuan baik hati itu membawa Rahel kecil ke berbagai tempat terapis bicara. Namun nihil, pita suara anak itu sudah dinyatakan tak bisa berfungsi secara permanen. Biarpun begitu, Rahel tetap tumbuh jadi anak periang. Dia dan Rafi selalu menghadirkan suasana ramai di rumah itu. Usia mereka yang hanya terpaut hitungan minggu, membuat mereka begitu tergantung satu sama lain. Walaupun begitu, Bi Marni tetap mengajarkan pada putrinya agar bisa menempatkan diri di tengah-tengah keluarga baik hati itu.

Saat memasuki usia sekolah, orang tua Rafi mendaftarkan Rahel ke sebuah SLB yang khusus menangani anak-anak difabel wicara. Tentu saja Bi Marni benar-benar merasa berutang budi. Dia berjanji, akan menghabiskan seluruh tenaganya guna mengabdi pada mereka.

Setelah lulus dari sekolah dasar, dengan saran dari kepala sekolah, Rahel didaftarkan ke sebuah sekolah lukis. Bakat melukis anak itu memang sangat menonjol. Tak heran, di usianya yang masih belia, dia sudah menorehkan banyak penghargaan dari berbagai kompetisi melukis.

Kemarin, saat Rafi berulang tahun ke-16, Rahel menghadiahi lukisan super keren bergambar seorang laki-laki yang sedang memasukkan bola ke ring dengan sangat sempurna. Bukan main senangnya laki-laki itu. Padahal, dia tak pernah menyadari, bahwa Rahel yang kini adalah buntut dari sebuah peristiwa di masa kanak-kanak mereka.

Kembali ke masa lalu. Pulang dari sekolah, seperti biasa, Rafi akan menjemput Rahel ke SLB. Namun hari itu tak biasanya, Tak ada Rahel di kantor satpam tempat dia biasa menunggu. Akhirnya anak laki-laki itu turun dari mobil dan berjalan menuju kelas.

Saat tiba di depan kelas Rahel, dilihatnya dua orang perempuan merobek dan menginjak-injak buku gambar yang dia kenal itu milik Rahel. Sementara, Rahel, tengah duduk di sudut ruangan sambil menutupi wajahnya. Dengan bahasa isyarat, Rafi menghardik dua perempuan hingga hampir menangis.

Rafi berjongkok di hadapan Rahel, menurunkan tangan gadis kecil itu dan mengusap airmatanya dengan jari tangannya sendiri.

“Jangan khawatir, Hel! Aku akan menjaga kamu.”

Sementara Rahel menatap serpihan buku gambarnya dengan tatapan sedih, tiba-tiba Rafi teringat sesuatu. Dikeluarkannya sebuah benda dari dalam tas sekolahnya lalu diulurkan ke tangan Rahel. Sebuah buku dengan judul besar: “Kamu adalah pelukis impian”.

Buku itu sengaja dibelikan Rafi saat berbelanja peralatan sekolah di sebuah mall bersama mamahnya. Buku itu berisi bentuk-bentuk gambar yang cantik, dengan teknik melukis yang diuraikan dengan bahasa anak-anak. Tiba-tiba lamunan masa lalunya buyar.

“Woy! Fi! Ayo lanjutkan lagi, nih! Belum kelar lo udah pacaran!” Teriak Rio yang jengkel kepada Rafi karena bercakap-cakap dengan Rahel.

“Lo yang tendang bolanya tadi, harusnya lo minta maaf sama si Rahel!”

“Duh, duh, duh! Perhatian amat sama Rahel, terus si Selia anak kelas IPA 3 mau lo apain?”

“Hus! Sembarangan.” jawab Rafi sambil buru-buru berjalan mendahului Rio.

“Asik, asik, ada yang jatuh cinta, nih.” ledek Rio sambil tertawa-tawa.

Sementara, di belakang punggung mereka, ada sepasang mata yang menatap tak percaya. Selang untuk menyemprot bunga sampai terjatuh di bawah kakinya. Mungkin hanya dia dan Tuhan, yang tahu betapa besar perasaan gadis itu untuk Rafi. Meskipun dia ta menyadari, bahwa yang dirasakannya itu adalah rasa yang diciptakan bagi seorang perempuan kepada laki-laki. Yang Rahel tahu, Dia akan merasa tercubit hatinya, jika melihat Rafi bersama teman-teman perempuannya.

Beberapa bulan kemudian, rumah besar itu terlihat ramai. Banyak anak muda yang berkumpul dengan penampilan terndi. Malam itu adlah malam perpisahan Rafi dengan teman-temannya. Besok pagi Pemuda itu akan terbang menuju negeri pamansam untuk menempuh pendidikan di sana.

Rahel sibuk membantu para pelayan mempersiapkan pesta agar berjalan dengan lancar. Gadis itu mencoba menutupi kesedihan karena akan berpisah dengan pemuda yang sudah sekian lama mengisi hari-harinya. Pesta berjalan dengan meriah. Rahel sedikit terhibur dengan ikut larut dalam pesta tersebut, meskipun dia di sana hanya bertugas menyiapkan minuman dingin dan meletakannya di setiap meja.

Saat dia tengah berjalan menuju sebuah meja, tiba-tiba kakinya olehng dan air ditangannya tumpah. Bukan main kagetnya dia, sebab air berwarna merah muda itu mengotori gaun seorang gadis yang hendak menolongya.

“Aaaaa”. Cepat Rahel meminta maaf dengan isyarat tangannya. Sambil tersenyum manis gadis itu menepuk-nepuk bahunya. “Jangan khawatir, aku tak apa-apa. Nanti bisa kubersihkan.

Betapa iri Rahel kepada gadis itu. Selain wajahnya yang sangat cantik, dia juga begitu baik hati.

Menjelang larut malam, pesta itu mulai sepi. Satu persatu teman-teman rafi mulai meninggalkan tempat. Rahel sendiri sibuk membereskan halaman belakang yang disulap jadi ruang pesta tersebut. Saat itu dia berpapasan dengan Rio yang baru keluar dari toilet.

“Hai, Hel! Jangan sedih yah Rafi enggak ada. Kan masih ada gue”. Selorohnya sambil mengerlingkan mata.

Rahel hanya tersenyum sopan kemudian berlalu menuju dapur.

Setelah semuanya selesai, Rahel mencari keberadaan Rafi. Tadi dia masih melihat anak muda itu melambai-lambaikan tangan kepada teman-temannya di ambang pintu gerbang. Namun suasana di halaman depan pun sudah sunyi.

Tiba-tiba dia merasa ada handphon yang bergetar di kantong celananya. Ternyata itu adalah handphone Rafi yang tadi dititipkan kepadanya. Khawatir itu telepon penting, Rahel mencari Rafi ke seluruh rumah. Namun di kamar tidurnya pun sepi.

Akhirnya dia melangkah ke taman di samping rumah, dan dari jarak beberapa meter dia melihat Rafi di sana. Namun dia tak sendiri. Pemuda itu tampak berdiri berhadapan dengan seorang gadis cantik, yang tadi ketumpahan air dari tangannya.

Gadis itu tampak sedang menangis. Air matanya mengalir yang cepat-cepat dihapus oleh jemari Rafi. Adegan selanjutnya adalah, jatuhnya kepala si gadis ke dekapan milik Rafi.

Saat itulah, nntuk pertama kalinya Rahel merasa ada ujung pisau yang merobek jantungnya. Dengan gemetar gadis itu bersandar pada tiang, berharap mendapat kekuatan. Sungguh Rahel yang malang, cintanya bertepuk sebelah tangan.

Esok paginya Rahel terbangun dengan kepala yang sakit. Dia duduk di tempat tidur sambil mengenang kembali kejadian malam tadi. Setelah melihat adegan itu, dia berlari ke kamarnya kemudian menangis sejadi-jadinya. Tak lupa dia memeluk sebuah buku kesayangannya yang sudah cukup usang karena dibaca setiap waktu.

Buku dengan judul Kamu Adalah Pelukis Impian itu hadiah istimewa dari Rafi beberapa tahun lalu.

Diraihnya buku yang berada di atas bantalnya. Tiba-tiba matanya menangkap ada tulisan yang baru di halaman depan bukunya.

“Hel, aku pergi. Saat aku kembali, aku ingin melihatmu sudah jadi pelukis yang hebat. Sorry, tadi malam aku masuk kamarmu buat ambil handphone. Jaga diri kamu baik-baik.

Tiba-tiba air mata gadis itu kembali tumpah. Dia sampai lupa kalau pagi ini Rafi terbang ke Amerika. Ibunya pasti sudah membangunkannya sejak tadi. Namun karena dia begitu lelap, akhirnya Rahel ditinggalkan ke bandara.

Lima tahun kemudian.

Suasana galeri lukis itu sudah sangat ramai pengunjung. Berbagai lukisan indah terpajang di setiap sudut ruangan. Mendatangkan decak kagum dari setiap mata yang memandang.

Seorang gadis tampak tengah dikerumuni oleh wartawan. Ada seorang laki-laki yang menjadi penerjemah karena gadis pemilik galeri itu seorang difabel wicara. Namun  tak mengurangi setiap detail jawaban yang diterjemahkan oleh lelaki muda di sampingnya itu.

Saat itulah beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Membuat Rahel langsung berdiri dan cepat-cepat dihampirinya orang-orang tersebut. Ada mama dan papa Rafi yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri.

Bergantian mereka memeluk tubuh Rahel sambil mengucapkan kata selamat. Sementara di belakang mereka terlihat Rafi yang penampilannya sudah lebih dewasa. Ada juga kedua kakaknya yang datang bersama pasangan masing-masing.

Melihat pemuda yang sangat dirindukannya itu, Rahel hendak menghambur ke pelukannya. Namun tiba-tiba urung, karena matanya menangkap sesosok gadis cantik di belakang pemuda tersebut.

“Hel, sini, peluk gue.”

Pemuda itu yang malah merentangkan tangannya, membuat Rahel terpaku di tempat. Akhirnya dengan cangggung dia mengulurkan tangan kepada Rafi. Menyadari sikap Rahel yang kaku, gadis di belakang Rafi kemudian berpamitan hendak melihat-lihat galeri.

Di depan sebuah lukisan Rahel dan Rafi menghentikan langkah. Dengan bahasa isyarat yang masih dihafalnya, Rafi membuka percakapan dengan gadis itu.

“Akhirnya mimpi lo jadi nyata. Selamat, ya, Hel, gue bangga sama lo.” Begitu puji Rafi sambil mengacak-acak rambut Rahel.

“Makasih, Fi. Ini juga berkat kamu dan keluarga kamu yang selalu mendukung aku. Tanpa kalian, mungkin aku ini cuma jadi gadis cacat tanpa guna.” Kini Rahel tak dapat menyembunyikan perasaannya. Dia mulai ingin menangis.

Tiba-tiba dari arah belakang tedengar suara mama Rafi memanggil mereka.

“Raf, kita jalan sekarang, yuk! Keburu sore. Rahel tak apa-apa, kan, kami tinggal? Atau mau ikut?

Rahel cepat menggeleng. Dia berpura-pura tersenyum kepada orang-orang di hadapannya. Rahel tahu, bahwa mereka akan langsung pergi ke sebuah butik, untuk fiting baju pesta pertunangan Rafi dan gadis impiannya.

Sebelum meninggalkan Rahel, Selia, gadis cantik yang sebentar lagi akan lulus dari kedokteran itu memeluk Rahel erat. Dengan meneguhkan hati, Rahel membalasnya sambil tersenyum tulus.

Dalam pesta pertunangan yang sakral itu, Rahel berdiri di hadapan pasangan tersebut. Dia berperan sebagai pembawa cincin pertunangan. Digigitnya bibir kuat-kuat saat dari jarak sangat dekat, Rafi yang pernah berjanji untuk selalu menjaganya itu menerima cincin dari tangannya, lalu memasangkannya di jari manis Selia. Disusul oleh kecupan mesra di bibir gadis itu.

Turun dari panggung, Rahel berjalan menuju toilet. Dia berjanji bahwa malam ini adalah tangis terakhirnya. Dia sudah cukup membuktikan cintanya kepada Rafi, dengan menjadi pelukis sesuai harapan pemuda itu.

Kini cinta yang ditanamnya sejak lama, memang selamanya tak akan pernah terucapkan. Meskipun begitu, mencintai Rafi dalam diam, adalah hal terindah dalam hidupnya.