[Cerpen] Jannah

0
640

Penulis: Siti Latipah

Bandung Utara, 2003. Dingin. Sedingin hati Jannah yang tengah berduka. Malam kemarin, saat jangkrik-jangkrik mulai bernyanyi, saat rintik hujan basahi bumi, saat insan-insan lelap dalam dekapan mimpi, Jannah menerima untaian kata-kata tajam yang menusuk hati.

“Suamimu tak akan kembali, suamimu gugur, hilang di hutan pedalaman Aceh Utara.” Jannah bergeming. Tak mau percaya dengan kabar yang baru saja diterimanya. Telepon pintarnya masih berkedip-kedip. Huruf demi huruf terus dipandanginya. Jannah seakan sedang merapal doa dari bait-bait puisi cinta untuk Sang Maha Pencipta.

“Suamimu tak akan kembali, suamimu gugur, hilang di hutan pedalaman Aceh Utara.” Air mata Jannah menetes hanya satu tetes saja, tak sampai membasahi pipinya. Matanya mengerjap, lalu menyapu barisan nomor di kotak sang pengirim pesan.

Jari telunjuk Jannah yang lentik menyentuh simbol panggilan di layar telepon pintarnya. Hening, sepi, tak ada nada apapun di speakernya. Jannah mengulang beberapa kali, tetap sunyi. Smartphone itu seolah mengejeknya, mengolok-oloknya. Jannah semakin gundah. Ia lalu hanya menyentuh tanda tanya di kotak pesan dan mengirim pesan ke nomor yang sama. Tak terkirim. Pesannya menunda. Entah sampai kapan. Sampai bayinya lahir mungkin. Hm, sampai bayinya lahir? Jannah tersentak, kepalanya menunduk, memandangi perutnya yang mulai membuncit.

Dalam fikirannya berlari-lari dua sosok bayi. Ya, bayi kembarnya yang tidak lama lagi akan lahir. Dua bayi kembar yang tampak jelas saat USG minggu kemarin. Dua bayi kembar yang mungkin tidak akan pernah mendengar azan pertama dari bibir ayahnya. Bayi kembar yang mungkin tidak akan pernah merasakan kuatnya dekapan ayah, tegasnya bimbingan dan didikan ayah, serta hangatnya keluarga utuh yang menjadi sayap- sayap saat mereka besar kelak. Jannah lunglai. Kakinya lemah tak mampu digerakan. Tangannya bergetar, telepon pintar di genggamannya jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping. Hati Jannah pun demikian. Hancur, hancur, hancur.

Dengan segenap tenaga yang masih tersisa Jannah beranjak menuju kamarnya. Kasur bersprai merah tampak rapih dan bersih. Meja kerja lebar berhias foto seorang prajurit gagah dan tampan tampak tersenyum kepadanya. Jannah bergegas menghampirinya. Jannah tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari sosok prajurit di dalam bingkai manis itu. Tangannya sibuk mencari-cari sesuatu di laci meja. Jannah terburu-buru. Tampak wajah tak sabar dan kekhawatiran semakin dalam.

Tangan Jannah masih mengaduk-aduk laci ketika terdengar dering telepon di laci bawah. Dengan wajah sedikit ketakutan, Jannah membuka laci bawah, lalu: “Halooo,” Jari telunjuk kirinya menekan tombol. HP model lama itu tak memberikan sedikit ketenangan. Seseorang di seberang sana hanya terdiam. Jannah hanya dapat mendengar desir angin dan keresak sinyal yang kadang terganggu. Tidak lebih dari 15 detik kemudian sambungan telepon pun putus. Jannah mematung, HP masih menempel di telinganya. Ia seolah ingun suara yang telah akrab di telinganya tiba-tiba ada. Berbicara tentang kebenaran, tentang kejelasan satu hal.

Masihkah ia di dunia ini? Atau telah tegakah ia pergi dan tidak akan pernah kembali? Tapi HP itu tak mengerti keingninannya. HP itu hanya bergetar sekali tanpa nada dering lalu diam lagi. Jannah menatap layarnyaa. Satu panggilan tak terjawab. Dengan kegelisahan penuh, Jannah meletakan HP-nya. Ia tidak melihat siapa yang menghubungi HP-nya karena hanya satu orang saja yang mengetahui nomor di HP lamanya itu. HP pertama yang ia punya sekaligus HP bersejarah yang banyak menyimpan SMS-SMS manis semasa ia dan suaminya masih dalam tahap pendekatan. Hati Jannah basah terendam cucuran air mata yang kini tak mampu lagi dibendungnya.

Berkali-kali Jannah menelepon nomor suaminya. Tapi, tak ada jawaban. Dan sekarang, setelah puluhan kali, Jannah mencobanya, nomor itu sudah tak aktif. Dan tak akan pernah aktif lagi.

Tengah malam. Jannah masih saja terjaga. Matanya yang bening tampak kosong. Bibirnya yang indah tak lagi merekah. Jannah berbaring di sofa panjang. Tangan kirinya dijadikan bantal. Tangan kanannya memegang HP berlayar sentuh penuh. Jari-jari Jannah tak bergerak. Jannah menatap lurus pada layar HP itu. Bibirnya bergumam lirih. Jannah seolah ingin telepon pintar itu dapat menyerap setiap kata yang diucapkannya. Dan samar kata-kata sarat makna meluncur tanpa tepi. Mengalir tanpa batas. Entah bermuara di laut bagian mana.

“Sayapku terbakar tak berabu. Menyisakan jutaan pilu. Di palung terdalam kalbuku. Sayapku hilang tak berjejak. Sisakan ribuan isak. Di sudut-sudut sukmaku yang telah semakin rusak. Sayapku patah. Sisakan sakit yang tak mampu kubantah.”

Terdengar hela panjang nafas di samping kanan Jannah. Tetes air mata jatuh bagai gerimis membasahi piama longgar yang dikenakan Jannah. “Ibu, berapa puisi lagi? Sudah hampir 17 tahun ibu seperti ini. Berbaring, gak peduli Rose, gak peduli Jasmine. Ibu!”, seorang gadis cantik berwajah mirip Jannah tersedu sendiri.

Jannah tak bergeming sedikitpun. Tak terganggu oleh tangisan anak gadisnya. Bibirnya terus bergumam.

“Jika pintu-pintu surga terbuka, dan jiwa terlepas dari raga, akankah kutemui sang perwira gagah perkasa? Sang pahlawan hati, yang telah berikanku cinta sejati. Cinta yang akan kujaga hingga akhir nanti.”

Seulas senyum tanpa arti menghias bibir Jannah lalu menghilang terhalang awan mendung yang sejak 17 tahun menutupinya. Jannah terdiam sesaat. Di fikirannya menari-nari sosok yang teramat dirindukannya. Jannah terluka. Di hamparan juwanya tak tersisa warna indah dunia. Hanya bening air mata dan hitam kenangan akan suaminya saja yang masih ada. Lukisan kenangan-kenangan indah hanya muncul sekelebat saja dan hanya melahirkan senyum ganjil.

***

Seragam putih abu tampak pas di badannya yang tak kurus, tak gemuk. Rambutnya tergerai panjang tak berhias apapun. Jannah muda begitu berenergi. Senyum tak pernah meninggalkan bibir cantiknya. Mata siswa tak pernah bosan menatapnya. Jannah sering kali membuat para siswi iri. Jannah yang smart tampak berapi-api di lapangan luas SMA Bakti Mulia. Di belakangnya terpampang angkuh spanduk berukuran besar. “Stop Child Abuse!

Kampanye penolakan kekerasan pada anak menjadi tema. Tahun-tahun ketika Jannah SMA, kekerasan pada anak marak terjadi. “Stop Child Abuse!” kembali Jannah lantang berteriak. Orasinya membakar semangat teman-temannya. Di tengah lautan putih-abu yang sedang berkampanye itu tampak seorang laki-laki yang hanya terdiam di lantai 2 gedung. Kamera di genggamannya

mengarah penuh kepada Jannah. Laki-laki itu tak lain tak bukan adalah suami Jannah di masa depan. Ia mengenakan jaket bertuliskan “Unit Kegiatan Mahasiswa, Fotografer Amatir Tak Jarang Membuat Anda Ketar-Ketir”.

Inilah kali pertama ia menemukan cintanya, Jannah.

Love at the first sight“.