Cerita Tunanetra Paska Gempa di Palu

0
358
Foto: www.tirto.id

Oleh: Indra Rukmana

[Palu, 8 Oktober 2018] Alam memiliki caranya sendiri untuk bergerak. Pengaruh alam terhadap kehidupan terjadi secara spontan, sebagian lagi karena reaksi alam atas intervensi manusia seperti, banjir dan tanah longsor. Selain karena intervensi manusia, ada gerak alam yang hanya bisa diprediksi manusia, tapi tak bisa ditentukan. Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Donggala dan Kota Palu pada Jumat, 28 September 2018 lalu adalah bukti kita masih terlalu kecil di hadapan alam semesta. Indonesia berduka karenanya, bahkan mendapat perhatian dari negara-negara lain. Guncangan dahsyat itu terjadi pukul 18.02 Wita, membuat panik semua warga difabel maupun non difabel.

Salah satu warga difabel netra bernama Azizah (17) mengisahkan kepada Newsdifabel.com saat dihubungi pada Kamis (4/10) via telefon. Ketika terjadi gempa, Azizah sedang berada di rumah temannya yang juga tunanetra, lokasinya di Kecamatan Palu Barat, untuk latihan dalam rangka Festival Palu Nomoni 2018, kebetulan sekali gempa terjadi saat hari pertama festival itu dilaksanakan. Saat itu Azizah dan ketujuh temannya yang semua tunanetra berada di dalam rumah saat gempa datang mengguncang. Azizah dan ketujuh teman tunanetranya merasa kesulitan saat mau keluar dari dalam rumah. Dengan bersusah payah, beberapa dari mereka bisa menyelamatkan diri dengan saling berpegangan. Sebagian tunanetra mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan benda keras yang jatuh akibat guncangan. Beruntung beberapa di antara mereka bisa selamat melewati guncangan hebat meski dengan perasaan panik dan penuh kesulitan.

Setelah Azizah dan ketujuh teman tunanetra
tersebut berhasil keluar rumah, banyak warga sekitar yang berkerumun di luar. Ketika
kondisi sudah mulai tenang, Azizah dijemput oleh orang tuanya untuk dievakuasi
di tempat yang lebih aman, beruntung keluarga Azizah pun selamat, begitu pun
adik Azizah yang juga penyandang disabilitas netra.

Kondisi terakhir di hari ke-6 paska gempa, Azizah
menuturkan kepada Newsdifabel.com bahwasannya belum adanya bantuan apa pun yang
datang menghampiri di lingkungan tempat tinggal Azizah, baik makanan, minuman,
air bersih, dan sebagainya. Jaringan komunikasi mulai membaik meskipun belum
lancar sepenuhnya. Azizah berharap bantuan segera datang ke lingkungan tempat
tinggalnya.

Dia berharap semoga ke-7 teman tunanetranya dalam keadaan sehat, dan bisa bertemu kembali. Kepada pemerintah, Azizah berharap, ke depannya perlu memikirkan dan bertindak agar kegiatan sosialisasi tanggap bencana bagi disabilitas dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Pasalnya, disabilitas merasakan sangat kesulitan ketika ada bencana seperti gempa bumi datang melanda. Dengan adanya sosialisasi ini harapannya bisa membantu teman-teman disabilitas bersiap menghadapi bencana. Selain itu, butuh peningkatan teknologi peringatan dini bencana gempa bumi dan tsunami sebagai bagian dalam proses mitigasi untuk meminimalisir korban.