Cerita tentang Kawan

0
366
Foto: http://www.caleidoscope.in

Oleh: Dera |

[Bandung,  13-09-2018] Mungkin di antara kita semua pernah merasakan hal yang paling menyedihkan dalam hidup. Sepahit-pahitnya hidup tentu memiliki setitik manis jika kita bisa membalikkan situasi sebab, setiap cahaya selalu menghadirkan bayang-bayang hitam, bukan? Dan hidup mengajarkan pada kita bahwa benturan adalah titik-tolak kita melompat ke depan. Entahlah, harus seperti apa perasaan saya ketka saya menceritakan sebuah kisah hidup yang dialami oleh teman saya.

Sedikit penjelasan tentang saya dan teman saya, kami sama-sama disabilitas, hanya bedanya teman saya mengidap disabilitas tunarungu sejak lahir, namun teman saya masih diberikan sisa pendengaran, dan untuk mengoptimalkanya, dia pun harus menggunakan alat bantu dengar, Dia juga masih mampu berbicara, walaupun menurut kebanyakan orang, cara berbicaranya kurang jelas, tapi jika kita lebih mendengarkanya, masih cukup jelas. Mungkin kami sudah tak bertemu  lebih dari 7 tahun, sampai saat saya mudik ke kampung halaman, tiba-tiba teman saya mengirim pesan melalui Facebook, dan singkat cerita, kami saling berbalas pesan. Saya tidak menyangka ketika teman saya datang ke rumah dan mengajak saya pergi ke suatu taman yang ada di kota saya, dia bilang ‘Nanti aku yang minta ijin sama orang tua kamu. Olis aku mau cerita, gak akan sampai larut malem, kok, sampai jam 10 malem aja aku anter kamu pulang lagi.’

Setelah kami sampai di taman kota, dia bercerita sangat panjang kepada saya, dia menjelaskan bahwa dia bercia-cita ingin menjadi pebisnis via daring, dan ingin menjadi seorang desainer. Namun semua impiannya tertinggal sebagai mimpi saja karena orang tuanya tidak memberikan kepercayaan bahkan tidak memberikan dukungan sama sekali kepadanya. Justru orang tuanya selalu menganggap bahwa dia adalah anak bodoh yang suka berkhayal. Keinginannya hanya satu, meminta modal yang jumlahnya tidak banyak, itupun tidak diberikan oleh kedua orang tuanya. Tak salah, kan, jika dia mengatakan ‘Di rumah itu urusannya udah masing-masing, aku malahan jarang di rumah, pusing, selalu gak dikasih kepercayaan, selalu dibilangin aku bodoh, apalagi gak bisa apa-apa, karena aku gak bisa denger dan gak bisa bicara jelas, tapi, kan, aku hidup, dan aku punya perasaan juga.’ Entahlah, mungkin ini terjadi karena pemikiran yang masih ada di kota-kota kecilkah?

Dari pertemuan dengan teman saya, kita (dan ini tidak bermaksud menggurui) harus bisa mengambil hikmah. Situasi di dalam lingkaran keluarga teman saya itu memang terlihat tidak menguntungkan bagi teman saya. Entah mengapa bisa begitu namun, dalam pemikiran saya, fakta tersebut membuat kita terlecut, dan terus menyadari bahwa, penyandang disabilitas harus berjuang untuk terus membangun syarat-syarat agar bisa mengoptimalkan kemampuannya. Selain itu, terus memberikan edukasi pada masyarakat agar berlaku setara dan tidak diskriminatif terhadap disabilitas.

Dan pada akhirnya, dari pengalaman hidup teman saya, ada dua hal yang kesimpulan, pertama, bersyukurlah untuk kita, penyandang disabilitas, memiliki orang tua yang tulus menyayangi, dan turut mendukung tercapainya cita-cita kita. Kedua, berilah kesempatan yang sama dan adil untuk disabilitas, dan jangan hancurkan impiannya hanya karena fisiknya berbeda secara kegunaan.