Cerita Mudik: Gema Takbir Keliling di Pekalongan

0
163

Oleh: Dera Sofiarani

[Pekalongan, 5 Juni 2019] Momen Idulfitri selalu dijadikan ajang silaturahmi bagi semua umat muslim, dimana momen ini digunakan untuk saling memaafkan antara satu dengan yang lainnya. Selain momen lebaran yang ramai di kalangan keluarga, malam takbiran pun menjadi sangat ramai dan mempunyai ciri peayaanya di daerah masing-masing.

Tak terkecuali di daerahku, Pekalongan, Jawa Tengah. Malam takbiran di kotaku adalah salah satu malam yang dinantikan oleh semua orang, karena di malam takbiran ini, kami memperingatinya dengan cara yang unik. Pawai obor dilaksanakan oleh masyarakat Pekalongan berkeliling di jalan kota. Di sinilah letak keunikanya, dimana beberapa orang menggunakan satu truk berukuran medium membawa sound system bertenaga disel untuk menyuarakan gema takbir. Di dalam satu truk berisikan kurang lebih 8- 10 orang, termasuk supir.

Banyak sekali orang-orang yang antusias mengikuti takbir keliling tersebut, ada yang membawa perlengkapan seperti toa, terompet, dan berdandan semenarik mungkin. Aku juga turut mengikuti acara takbir keliling ini. Saat kami semua berjalan menggunakan truk berukuran sedang, orang-orang yang lain tak mempermasalahkan mengenai siapa yang turut berpartisipasi, termasuk teman-teman difabel. “Ya nggak apa-apa, kan kita semua bareng-bareng jalannya, nggak usah takut,” begitu ucap salah satu temanku saat kami akan melakukan perjalanan dari kota Pekalongan hingga Kabupaten Kajen.

Personel Polisi dan Tentara juga turut berpartisipasi mengamankan demi kelancaran serta kenyamanan peringatan takbir keliling itu. Hampir di setiap gang dan persimpangan di seluruh Kota Pekalongan setidaknya dijaga oleh 12- 15 orang gabungan dari polisi dan tentara, tujuannya agar memberikan keamanan yang lebih dan mengurangi kemacetan yang kemungkinan akan timbul.

Hal ini disambut positif oleh seluruh warga Pekalongan. Menjadi difabel netra tak membuatku malu akan semua hal yang ingin aku lakukan, karena aku percaya bahwa ketika kita yakin akan kemampuan kita dalam bersosialisasi, maka orang tak akan segan untuk mengerti bagaimana seharusnya mereka mengerti.