Cerita dari Tempat KKN

0
657

Oleh: Dera Sofiarani

[Bandung, 21 September 2018] Mungkin sama seperti anak kampus difabel lainya, salah satu hal yang paling terpikirkan selain bagaimana cara mengikuti setiap mata kuliah, hal selanjutnya yang sering terpikir adalah bagaimana nanti saat kita akan menghadapi KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang biasanya dilakukan mahasiswa atau mahasiswi tingkat akhir. Jujur saja, saya tak bisa membayangkan saat harus menyesuaikan lagi dengan 45 mahasiswa yang terbagi dari setiap program studi.

Saya adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pasundan, Bandung. Saya dan teman-teman ditempatkan di salah satu desa yang berada di daerah Majalengka. Sejak hari pertama tiba, rasa cemas mulai muncul. Saya berpikir bagaimana dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman yang lain, dan bagaimana cara menjelaskan keadaan saya agar nantinya teman-teman tidak merasa terrepotkan oleh keadaan saya.

Akhirnya saya memutuskan menceritakan keadaan saya pada salah satu teman yang juga sebagai ketua bidang kesenian. Keesokan harinya, kami mulai mengenal satu-sama-lain, dan saya pun mulai menceritakan keadaan saya sebagai seorang tunanetra low vision. Banyak di antara teman-teman saya yang antusias mendengarkan cerita saya. Bahkan sering muncul pertanyaan-pertanyaan penasaran seperti; bagaimana cara seorang tunanetra menggunakan laptop dan hand phone berbasis android. Kemudian ada kejadian yang menurut saya sedikit lucu ketika muncul pertanyaan dari teman saya, “Keren juga, ya, terus bisa ‘nggak, sih, mesen Grab, kalau bisa, kuy ah ke alun-alun.” Saya pun menjawab “Iya bisa, dong.” sambil mematikan layar dan menyalakan voiceover. Saya pun memesankan Grab motor untuk teman saya.

Semenjak hari itu, semua teman-teman saya mulai mengerti keadaan saya. Kegiatan demi kegiatan yang kami lalui mulai menunjukkan rasa kenyamanan untuk saya dan teman-teman, bahkan ketika kami harus pulang pukul 11 malam dikarenakan harus mendekorasi panggung untuk perpisahan. Perjalanan dari posko desa menuju rumah tempat kami tinggal membutuhkan kurang lebih 20 menit jika berjalan kaki. Sepanjang jalan menuju posko, suasana begitu gelap gulita sehingga mengharuskan kami menggunakan senter. Sambil tak melepaskan genggaman tangan seorang teman, kami berjalan beriringan hingga kami semua tiba di rumah.

Satu pelajaran yang dapat saya ambil dari cerita ini adalah, saya belajar untuk tidak menutupi kekurangan saya pada orang lain, dari sini pula akan muncul sebuah keikhlasan dari orang lain yang dengan tulus membantu kita. Kita harus terlibat membuat segalanya menjadi mungkin karena inilah saatnya kita memberikan diseminasi dengan praktik tentang inklusi sosial. Bisa dimulai dari proses hidup kita sendiri.

Saya mendengar seorang sastrawan besar Indonesia pernah berkata, ‘Dengan memulai, kita sudah mneyelesaikan separuh pekerjaan’.