Difabel Butuh Panduan Protokol Kesehatan

0
46

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 28 September 2020] Kasus terdampak Covid-19 semakin bertambah. Model kebijakan new normal yang telah diberlakukan untuk beberapa wilayah kembali ditinjau ulang. Bahkan kita dibingungkan dengan istilah-istilah pemberlakuan konsep new normal: PSBB, PSBB Mikro, AKB.

Imbauan terhadap protokol kesehatan pun terus digaungkan berbagai pihak, physical distancing (jaga jarak) dan social distancing (pembatasan sosial) serta menggunakan masker menjadi hal yang diwajibkan. Termasuk kepada masyarakat difabel.

Menurut Yudi Yusfar, ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI), dampak pandemi bagi difabel sangat terasa, baik dampak psikologis dan sosial ekonomi.

Psikologis kejiwaan, seperti dampak maraknya berita di media yang dapat memengaruhi keresahan, kekhawatiran kalau menular, terpapar, meninggal tidak bisa dilayat, dikuburnya khusus, dan adanya penolakan penguburan oleh masyarakat, itu berdampak psikologis yang terjadi di masyarakat termasuk pada difabel.

“Apalagi bagi mereka yang merasa serba kesulitan, secara kejiwaan jadi merasa serba salah,” tutur Yudi.

Adanya physical distancing (jaga jarak) lebih baik diam di rumah, sedang yang sudah memiliki keluarga ada kewajiban mencari nafkah di luar. Mereka yang mencari nafkah di luar akan sangat berpengaruh pada kejiwaan bukan untuk diri pribadi saja tapi pada keluarga. Untuk mereka yang memiliki profesi tertentu dan bisa menggunakan elektronik, teknologi, mereka bisa work from home (WFH).

Dampak sosial ekonomi, model adanya social distancing (pembatasan sosial) itu pada awalnya orang yang tadinya banyak menolong, jadi enggan mendekati karena harus jaga jarak dan lebih sering di rumah. Ini menjadi salah satu gambaran dari pembatasan bersosialisasi.

“Banyak relawan-relawan yang biasa membatu organisasi-organisasi, mereka jadi lebih sering di rumah. Seperti reader yang semula bertatap muka untuk membantu membacakan tulisan awas pada difabel netra, sekarang via voice not atau email. Ini efek dari social distancing atau pembatasan sosial,” katanya.

Dari ekonomi, yang biasanya langsung mengadakan transaksi jual beli, layanan jasa, sekarang lebih ke delivery order. Kehidupan harus terus berjalan, tetapi ada yang tidak bisa dilakukan seperti kondisi yang normal. Upaya yang bisa dilakukan harus seefektif mungkin.

Menurut pendapat Yudi, untuk mengatasi semua dampak tersebut, pertama ajakan untuk berdoa minta perlindungan dari Allah Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, pemikiran mengajak masyarakat melalui organisasi untuk edukasi. Contoh melalui pengajian via daring, agar pikiran tidak panik dan tetap jernih, agar emosional dikendalikan, bukan dihilangkan. Ketiga, dari diri sendiri melakukan pola hidup bersih dan sehat. Keempat, bertindak dan berprilaku se-efektif mungkin saat bepergian, tinjau ulang penting atau tidaknya, bisakah via telepon, misalnya. Lalu, mendorong siapa saja untuk mencari informasi pada lembaga yang bisa dipercaya agar terhindar dari berita hoaks.

Upaya penyuluhan tentang physical distancing atau jaga jarak dan social distancing atau pembatasan sosial bagi difabel netra penting dilakukan agar mereka tidak menyalahi aturan protokol kesehatan.

Seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Kemudian, saat melakukan perjalanan sebab adanya protokol tersebut, difabel netra dapat lepas dari gandengan pendampingnya. Akan tetapi, pendamping yang non difabel harus mampu mengarahkan mereka secara deskripsi. Misal, menyampaikan gambaran seperti “awas di depan ada lubang”, atau menggunakan intruksi untuk mengarahkan dengan tepat seperti ke arah kiri dan kanan.

Lebih baik lagi, dalam kondisi jalan yang rata atau ada guiding block agar mudah menggunakan tongkat, sehingga pendamping bisa berjarak dari difabel netra. Suara pendamping juga tidak perlu terlalu keras atau berteriak, tidak selalu perlu menggandeng, cukup menarasikan.

“Lingkungan yang memosisikan kita, sebab belum tentu saat kita digandeng pun belum tentu benar. Saya menolak digandeng dengan alat bantu tambang, pendamping di depan dan difabel netranya di belakang dengan saling berpegang pada tali tambang. Akan lebih baik pihak berwenang membuat panduan untuk difabel netra. Kalau tidak bisa, semoga kami bisa membuatnya untuk itu. Walaupun harus digandeng asal tetap menggunakan masker dan setelahnya langsung mencuci tangan atau gunakan hand sanitizer,” papar Yudi.

Panduan dari pihak berwenang yang sudah dikeluarkan memang ada untuk difabel yang berada di panti. Itu pun lebih ke bagaimana pelayanan terhadap mereka, tidak khusus tentang pemetaan physical distancing atau jaga jarak dan social distancing atau pembatasan sosial bagi difabel. Dan belum ada untuk itu.

“Harusnya ada, baik panduan untuk yang di dalam panti atau yang ada di tengah lingkungan. Belum ada panduan bagaimana caranya untuk mandiri dalam physical distancing atau jaga jarak dan social distancing atau pembatasan sosial, bagaimana caranya kita bergerak secara mandiri,” ungkapnya.

Yudi juga mengimbau untuk para difabel, secara batiniah, banyak berdoa, berpikiran jernih, tidak panik, upayakan pola hidup sehat, utamakan yang perlu dan penting saat ke luar rumah, protokol kesehatan harus dilaksanakan.

“Butuh panduan physical distancing dan social distancing untuk difabel. Terutama untuk difabel di lingkungan luar, secara detil dan disosialisasikan ke tempat publik. Panduan tersebut mestinya dibuat oleh pemerintah dan pihak terkait,” pungkas Yudi.