Buku Elektronik Menjawab Terbatasnya Akses pada Buku Braille

0
345

Oleh: Rido

[Bandung, 18 Oktober 2020] Membaca buku adalah aktivitas yang menyenangkan, apalagi jika yang dibaca adalah bacaan yang kita gemari. Selain itu, banyak membaca juga akan makin menambah wawasan, keluasan berfikir, dan ilmu pengetahuan yang pasti sangat berharga bagi kita. Dengan membaca sebuah buku, kita dapat mengetahui betapa kayanya negeri ini. Mulai dari kekayaan hasil buminya, ragam flora dan faunanya, keindahan alamnya, bermacam suku, bahasa, budaya, agama, dan sebagainya.

Melalui halaman-halaman buku yang kita baca pula kita bisa mengetahui apa pun yang ada di negeri lain. Maka dari itu, tidaklah terlampau berlebihan bila buku sering diibaratkan sebagai jendela dunia yang menggambarkan betapa besar manfaat buku bagi umat manusia.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi digital, sebuah buku di masa kini tidak lagi hanya berbentuk cetak berbahan kertas, tapi sudah bermetamorfosis menjadi buku elektronik (e-book) dengan berbagai format dokumen yang praktis dan simpel dibawa kemanapun, dibaca oleh siapapun, dan kapanpun kita mau. Keberadaan buku digital saat ini sangat dirasakan manfaatnya oleh pembaca buku, di antaranya dari kelompok difabel. Mereka tinggal mencari buku yang diinginkan di toko buku daring lewat gawainya, dan tidak perlu repot-repot pergi ke perpustakaan atau toko buku konvensional yang mayoritas belum memperhatikan aspek aksesibilitas yang sudah semestinya disediakan untuk difabel.

Pesatnya perkembangan digitalisasi buku ini juga yang sangat dirasakan efek positifnya oleh Ido, seorang difabel netra dari Kota Bandung. Ido menjelaskan, dulu sebelum datangnya era buku digital, difabel netra sangat kekurangan bacaan berkualitas. “Kami sukar sekali mendapatkan buku-buku yang diinginkan karena terbatasnya jumlah buku yang diterbitkan dengan huruf braille,” ungkapnya. Dia juga menambahkan bahwa tak jarang dirinya merasa sedih karena sering sekali ia tidak bisa membaca buku idaman yang ingin dibacanya saat itu disebabkan buku yang diinginkan tidak tersedia dalam bentuk braille.

“Membaca buku bermutu cuma ada dalam angan saya,” kenang Ido.

Besarnya biaya untuk mencetak ulang sebuah buku ke dalam huruf braille boleh jadi salah satu penyebab terbatasnya ketersediaan buku bagi kalangan difabel netra di Indonesia. Ambil contoh, untuk mencetak ulang satu mushaf Al-Qur’an biasa (30 juz) menjadi Al-Qur’an berhuruf braille, dibutuhkan biaya sekitar Rp1,5 juta. Jadi, bisa dibayangkan berapa dana yang diperlukan untuk mencetak ulang jutaan judul buku ke dalam bentuk buku berhuruf braille?

Kini dengan makin banyaknya e-book yang bisa dengan mudah diakses oleh siapapun di internet lewat gawai yang dimilikinya, sedikit banyak telah berhasil meminimalisir problem besar di kalangan difabel netra yang sekian lama menerpa mereka. Cara mendapatkannya pun sangat mudah. “Tinggal nyalakan telepon genggam, lalu klik e-book atau Google Play Book. Di sana sudah tersedia banyak judul buku dari berbagai penulis yang bisa dibeli dengan cepat dan mudah”, ujar pria 39 tahun ini dengan semangatnya.

Ido melanjutkan penjelasannya bahwa untuk mengunduh buku gratisan ia biasanya dimulai dengan berselancar ke website penyedia buku dari luar Indonesia seperti Pdfdrive.com, Z-library, Project Gutenberg, dan lain-lain. Pertanyaannya, bagaimanakah cara difabel netra membaca e-book?

Saat ini sudah banyak pengembang aplikasi yang menaruh respek dengan pengguna gawai dari kalangan difabel. Di antara sekian banyak pengembang tersebut salah duanya adalah PT. Hyperionics Technology. Pengembang asal Amerika ini membuat aplikasi pembaca e-book untuk difabel netra bernama @Voice Aloud Reader. Penggunaannya pun cukup mudah. “Tinggal cari file e-book yang dimaksud, lalu klik pilih @voice setelah muncul jendela pemberitahuan di layar. Tunggu beberapa detik untuk proses loading dokumen.

“Setelah selesai loading, @voice akan membacakan buku yang sudah diklik, dan kita tinggal mendengarkan isi buku yang dibacakan oleh mesin pembaca layaknya mendengarkan audio book“. Sejak dirilis pada 8 Januari 2013, @Voice Aloud Reader sudah diunduh oleh 5 juta lebih pengguna di Play Store.

Aplikasi pembaca buku berikutnya adalah @Voice Dream Reader. Piranti lunak besutan PT. Voice Dream ini memiliki kesamaan cara kerja dan tampilan dengan @Voice Aloud Reader. Keduanya cukup aksesibel digunakan oleh pengguna difabel netra dalam membaca buku, dan dapat membaca e-book dengan bermacam format file seperti pdf, epub, doc, txt, dan lain-lain.

“Jadi, sekarang saya bebas mau baca buku apapun dan dari karya siapapun,” pungkas Ido pada Newsdifabel.com.

Voice Dream Reader bisa dibeli di Play Store bagi pengguna Android, dan App Store untuk pengguna iPhone. Sampai sejauh ini, @Voice Aloud Reader dan Voice Dream Reader adalah piranti lunak yang paling banyak digunakan oleh sebagian besar difabel netra untuk membaca e-book, sebab keduanya masih yang paling unggul aksesibilitasnya daripada aplikasi pembaca buku lain.