Keberpihakan Brie Larson “Captain Marvel” pada Difabel dan Perempuan

0
441

Oleh: Asri Vidya Dewi, S.Si., S.H.

[Bandung, 13 Maret 2019] Sejak dirilis 8 Maret lalu, trailer film Captain Marvel besutan Marvel Cinematic Universe terus bertebaran di media online. Film ini, dikatakan oleh pengamat, adalah jembatan menuju End Game, sekuel keduanya Avenger setelah Infinity War, yang akan rilis pada April 2019 mendatang.

Nama Brie Larson mulai menanjak sejak ia dinobatkan sebagai aktris terbaik dalam Academy Award dua tahun lalu. Semasa kecil, Brie adalah perempuan introver, hingga dia memilih home schooling alias bersekolah di rumah secara privat.

Larson sudah akrab dengan dunia seni peran sejak usia sembilan. Dia pernah menjadi tamu undangan termuda dalam American Conservatory Theater di San Fransisco. Selain jago akting, peraih piala Oscar kelahiran 1 Oktober 1989 itu juga memiliki gagasan inklusi sosial. Dalam tur jumpa persnya, Brie mengajak penulis perempuan difabel bernama Keah Brown. Di media sosial, Brie menyatakan berkomitmen bahwa dalam tur jumpa persnya akan dibuat seinklusif mungkin.

Keah Brown adalah seorang jurnalis, penulis lepas, dan aktivis. Dia telah menulis tentang hidup dengan cerebral palsy di Teen Vogue, dan mengajarkan bagaimana cara mencintai diri sendiri, mencintai tubuh kita dengan kondisi apapun. Dia adalah lulusan sarjana dalam bidang jurnalisme dari Universitas Negeri New York di Fredonia.

Keah kini ditunjuk oleh Brie Larson untuk menemani tur kelilingnya paska Captain Marvel tayang, termasuk meminta agar yang mewawancarainya adalah Keah Brown. Kesempatan itu tidak disia-siakan, Brown langsung setuju dan mengatakan bahwa penunjukan itu adalah peluang terbesar yang hadir dalam karirnya. “Tidak biasanya ada yang ingin mengambil jurnalis difabel untuk mewawancarai.” ungkap Brown di Indiewire.com.

Sudah setahun lalu, Brie mengamati tiap ada wawancara bersama pers, termasuk kritikus film, tidak ada orang yang difabel. “Jadi, saya berbicara dengan Dr. Stacy Smith di USC Annenberg Inclusion Initiative, yang mengumpulkan penelitian untuk mengonfirmasi hal itu. Bergerak maju, saya memutuskan agar hari-hari Saya bersama pers bisa lebih inklusif.”

Tak hanya inklusif, Brie Larson juga mendukung kesetaraan jender. Larson pernah menjadi bahan pembicaraan di tajuk utama dalam pemberitaan ahun lalu karena menyebut ketidakseimbangan jender dalam dunia kritik film. Saat menerima penghargaan di Crystal+Lucy Awards, Larson menyebut kurangnya keterwakilan yang setara di antara para kritikus sebagai “masalah yang terus bergejolak.” Dia berharap, dengan perannya dalam Captain Marvel bisa digunakan untuk berkampanye tentang kesetaraan jender di lingkungan Hollywood.

Brie Larson berperan sebagai Carol Danvers, salah satu pahlawan terkuat galaksi, dan bergabung dengan Starforce, sebuah tim elit militer Kree. Carol sebagai orang terkuat ketika bumi terjebak dalam perang antar dua ras alien. Berlatar di tahun 1990-an, Captain Marvel adalah petualangan yang serba baru dari periode yang sebelumnya tak terlihat dalam sejarah Marvel Cinematic Universe. Film yang disutradarai Anna Boden dan Ryan Fleck ini berdurasi 128 menit digarap oleh Marvel Studios.