Blind Moms Community Mendaki Curug Layung

0
71

Oleh: Siti Latipah

[Bandung, 25 Desember 2019] “We are blind moms, we are happy moms!” Dengan yel-yel tersebut, 9 orang difabel netra yang tergabung dalam Blind Moms Community membakar semangat jelajahi alam di kawasan wisata Curug Layung yang terletak di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dipandu dua orang pendamping, mereka mendaki undakan-undakan berakar, meraba dedaunan dan pepohonan di sepanjang rute perjalanan, seberangi sungai, melewati jembatan licin berbatu, bahkan naik melalui sky walk pohon yang curam.

“Seneng banget bisa gabung hiking sama blind moms. Kita jadi bisa interaksi langsung dengan daun-daun yang belum pernah kita tahu, Cuma pernah denger namanya aja. Nah, kemarin pas hiking raba langsung, jadi tahu, deh. Daun kadaka misalnya,” ujar Yuni atau sering dipanggil Bunda Shakila.

“Seru, apalagi pas naik sky walk pohon. Kita sih enjoy aja. Padahal mungkin yang lihat deg-degan, bisa gak kita melewati itu. Eh, dengan pemandu yang luar biasa, kita bisa juga melewati itu. Sampai-sampai, orang yang ada di bawah pada tepuk tangan pas kita berhasil turun dari sky walk itu. Dengan hiking ini, saya jadi punya pengalaman, gambaran yang kongkrit bagaimana kondisi dan kontur alam Curug Layung. Saya bisa bercerita utuh kepada kesayangan saya, Shakila.” Bunda Shakila melanjutkan.

Baca juga: Bagaimana Blind Mom Mengajarkan Warna pada Anaknya

Erni garnia atau Mama Gibran bercerita, “Awalnya sih gak nyangka bakal seru banget. Naik-naik ke jembatan pohon, nyebur di sungai, merayap di jembatan, ah pokoknya rame! Efeknya, saya jadi lebih berani, lebih percaya diri. Ternyata, seorang difabel netra bisa juga kok hiking kaya yang lain. Saya dan beberapa teman denger langsung ada orang yang komen, ngapain atuh ya, gak bisa lihat main ke sini. Duh, yang begini ini yang berpikir bahwa, difabel netra hanya boleh diam di rumah. Takut celaka dan sebagainya. Mungkin mereka kasihan lihat kita hiking berbaris ke belakang, pegang tongkat masing-masing, tapi itulah kreatifitas, ide cerdas, alternatif positif agar kita bisa interaksi langsung dengan alam. kesejukan alam, keinahan, kekayaan, kedamaian alam, dan kebahagiaan yang ditawarkannya juga berhak kita nikmati, kan?”

Jaka Hendra Purnama, salah seorang dari dua pendamping mengatakan bahwa, dirinya mau menerima tawaran menjadi pendamping teman-teman difabel netra dari Blind Moms Community adalah karena ingin berbagi pengalamannya menjelajahi alam terbuka, terutama kepada teman-teman difabel netra. Selain itu, basis pendidikan yang memang hobi hiking itu adalah pendidikan khusus, jadi, dirinya mempunyai bekal untuk itu.

Saat dikonfirmasi mengenai risiko yang mungkin terjadi kepada teman-teman difabel netra ketika hiking, Jaka mengungkapkan, “Kalau risiko sih sama saja dengan non difabel yang hiking. Gak ada beda. Justru perbedaan yang mencolok bukan pada resiko, tapi saatp pelaksanan hikingnya. Kalau teman-teman non difabel kan bisa langsung lihat kondisi yang akan dilalui, seedangkan tman-teman difabel netra harus dijelaskan terlebih dahulu apa yang akan dilalui. Kondisi sungai berbatu, jembatan licin, dan lain-lain. Langkah teman-teman difabel netra benar-benar diarahkan pijakannya. Di situlah pentingnya tongkat putih, untuk meraba-raba pijakan dan apa yang ada di sekitar. Tidak ada persiapan khusus untuk menyiapkan perjalanan mereka. Karena yang paling penting adalah saat dalam pelaksanannya. Adapun persiapan dari para moms yang menjadi peserta hiking adalah persiapan umum atau SOP yang memang harus dipersiapkan oleh semua yang akan melakukan hiking. Bedanya hanya pada tongkat putih saja, karena itu, kan, memang benda wajib untuk teman-teman difabel netra.”

Semua yang gabung hiking saat itu adalah Mama Cika, Mama Fauzan, Mama Gifa, Mama Dharma, Bunda Tiara, Bunda Shakila, Mama Gibran, Bu Ria, dan Bu Ijah. Mereka mengaku senang dan ingin hiking kembali. Mereka ingin merasakan langsung hal-hal yang lebih menantang. “Ke Rinjani atau sekalian Jaya Wijaya, yuk!”, bu Ria berkelakar di sela-sela perjalanan mereka melintasi Curug Layung.

Baca juga: Menjadi Smart Mom dengan Smartphone

Mereka juga sepakat bahwa, tawa, canda, dan segala yang ditawarkan alam adalah juga hak difabel netra. Kekhawatiran, rasa kasihan, decak kagum, bahkan menertawakan keberanian para difabel netra saat menjelajah alam lumrah adanya. Namun, semoga dengan perjalanan Blind Moms Community mengenal alam Curug Layung bisa mengubah stigma bahwa, difabel netra lebih baik diam saja di rumah, jangan mengundang bahaya.

Editor: Barr