Bisakah Tunanetra Pulang ke Rumah?

1
331
Foto: www.fineartamerica.com

Oleh: Indra |

[Cirebon, 14 September 2018] Siapa sih manusia yang tidak punya tempat tinggal atau yang biasa disebut rumah? Seorang tunanetra pun tentunya memiliki rumah. Banyak di antara teman-teman tunanetra usia sekolah yang pulang ke rumah, dan ada juga yang tinggal di asrama. Asrama biasanya terletak tak jauh dari sekolah.

Kali ini Newsdifabel.com akan memberi informasi bagaimana cara tunanetra pergi-pulang ke sekolah atau ke tempat-tempat lain sendiri saja tanpa harus merepotkan orang lain. Yuk, simak sampai selesai! Cara ini sangat mujarab, lo, jika dipraktikkan oleh disabilitas netra dengan sungguh-sungguh. Mari kita simak apa yang mereka lakukan agar dapat bermobilitas sendiri terutama saat ingin pergi-pulang ke rumah sendiri, dari sekolah atau tempat kerja: Pertama, sebelum seorang disabilitas netra mencoba pulang sendiri ke rumah, terlebih dahulu dia harus menghafal rute perjalanan dari sekolah, tempat kerja atau tempat aktivitas rutin sehari-harinya menuju rumah. Hal ini akan meminimalisir terjadinya salah jalan (tersesat). Kedua, sebelum berangkat, terlebih dahulu menanyakan berapa ongkos yang harus disiapkan kepada orang tua, teman atau saudara, agar uang yang dibawa untuk ongkos tidak kurang. Ketiga, jangan lupa membawa tongkat putih dan alat komunikasi, demi memperlancar perjalanan. Kelima, jangan malu bertanya ketika ragu-ragu mencari jalan yang seharusnya ditempuh.

Nah, cara-cara di atas akan dipraktikkan dalam langkah-langkah berikut :

Pertama, jangan lupa membaca doa sebelum melakukan perjalanan.

Kedua, siapkan ongkos, untuk tunanetra total (tidak dapat melihat apa pun) dianjurkan agar bertanya kepada orang yang ada di sekitar mengenai berapa saja pecahan uang, lalu pisahkan. 

Ketiga, gunakan tongkat putih sebagai alat bantu berpindah dari rumah ke tempat pemberhentian angkot, atau sebaliknya.

Keempat, ketika sudah sampai halte atau tempat pemberhentian angkot, alangkah lebih baik meminta bantuan orang untuk memberhentikan angkot yang akan dinaiki. Namun, jika tidak ada orang, maka tunggu hingga ada angkot yang berhenti mendekati, dan sebaiknya langsung bertanya memastikan bahwa betul itu angkot yang akan dinaiki.

Kelima, ketika sudah di dalam angkot, alangkah baiknya berbicara kepada supir di mana harus berhenti. Beritahukan ciri-ciri yang sudah dihafalkan, seperti nama gang, bangunan umum, pasar, dan lainnya. Namun, jika jarak yang harus ditempuh lebih dari satu kali naik angkot, maka beri tahu supir, di mana angkot yang akan dinaiki selanjutnya, seperti di terminal atau halte.

Keenam, jika kita sudah hampir sampai di tempat tujuan, siapkan uang yang nantinya akan kita berikan kepada supir atau kondektur.

Ketujuh, jika sudah turun dari angkot, alangkah baiknya kembali menggunakan tongkat putih untuk membantu bermobilitas.

Kedelapan, jika merasa tak yakin, maka bertanyalah kepada orang-orang yang dijumpai untuk memberikan informasi ke mana jalan yang benar. Namun, jika tidak ada orang yang dijumpai, maka bisa menelefon keluarga untuk meminta arahan sesuai jalan yang benar.

Terakhir, ketika di perjalanan, diusahakan banyak bertanya kepada orang, berdoa, dan konsentrasi, agar tidak tersesat.

Semoga cara tersebut bermanfaat bagi teman-teman disabilitas netra yang belum pernah atau kurang berani pergi-pulang sendiri tanpa dijemput oleh keluarga. Hal ini sangat penting agar terpupuk kemandirian. Bagi anggota keluarga yang masih belum mengizinkan tunanetra bermobilitas sendiri, maka lebih baik memantau selama di perjalanan. Berikan kepercayaan penuh kepada saudara-saudarinya yang tunanetra bahwa mereka juga mampu bermobilitas sendiri.

Cara di atas merupakan paparan bagi tunanetra yang bermobilitas dengan angkutan umum. Meskipun kini sudah marak transportasi online, namun ini akan menjadi pengalaman yang sangat menantang dan berkesan, karena sangat berbeda ketika menggunakan jasa transportasi online dan angkutan selain online.