Betulkah Bandung Aksesibel?

0
477
Foto: www.pikiran-rakyat.com

Oleh: Indra

[Bandung, 9 Oktober 2018] Kenyamanan dalam mengakses fasilitas publik seperti merasa aman untuk berjalan kaki di atas trotoar, lapangan kerja yang luas, pelayanan transportasi yang mudah, adalah tiga hal yang menjadi harapan setiap warga Kota Bandung. Begitu pula dengan Arwanto, seorang tunanetra warga Bandung ini juga memiliki harapan yang sama. ‘Berjalan di trotoar yang aman dan nyaman memang harapan setiap warga perkotaan. Terlebih warga disabilitas netra seperti saya. Namun, masih banyak teman-teman disabilitas netra yang belum merasakan kenyamanan saat mengakses fasilitas publik di Kota Bandung. Contohnya, seperti trotoar di jalan Pajajaran dari arah perempatan Pabrik Kina menuju PSBN Wyata Guna yang rusak. Trotoar sepanjang jalan itu sangat tidak nyaman dipakai terutama oleh disabilitas netra.

Sebenarnya, banyak di daerah lain yang kondisi trotoarnya sama. Tepat di tengah-tengah garis petunjuk jalan untuk tunanetra ada pohon, tiang, bahkan lubang. Ini sangat membahayakan, bukan?’ ujar Arwanto (39 tahun), saat ditemui di sela-sela kegiatannya mengikuti pelatihan jurnalistik. Laki-laki yang sehari-harinya bekerja sebagai fasilitator di salah satu panti sosial bina netra di Bandung ini juga mengeluhkan perihal lapangan pekerjaan yang belum dapat diakses oleh teman-teman disabilitas netra di Bandung. Arwanto menuturkan bahwa, kesempatan bekerja di perusahaan swasta seperti di bidang perbankan, perhotelan, jasa layanan antar barang, dan lain-lain, masih belum menerima seperti halnya di Ibukota Jakarta. Misal, di Jakarta, sudah banyak teman-teman disabilitas netra yang bekerja sebagai telemarketing, operator telefon di beberapa stasiun televisi swasta, perusahaan otomotif, jasa layanan antar barang, front office hotel, dan lain-lain. Jika di Ibukota saja ada yang sudah bisa, kenapa di sini tidak?

Selanjutnya, dia bercerita tentang beberapa pengalaman teman-teman disabilitas netra saat mengakses transportasi umum di Kota Kembang tercinta. ‘Ketika menyetop angkot, banyak yang berhenti di tengah-tengah jalan. Hal ini sangat membahayakan teman-teman disabilitas netra untuk bermobilitas dengan mandiri menggunakan transportasi umum.’ katanya. ‘Tapi, di era digitalisasi seperti sekarang ini, sudah banyak teman-teman yang beralih ke layanan transportasi online. Selain harga jasanya yang jauh lebih murah, faktor kenyamanan dan keamanan pun terjamin. Kita bisa dijemput langsung di depan rumah, kantor, sekolah, kampus, bahkan di tempat ramai seperti di lobi mall, hotel, rumah sakit dan lain-lain. Fasilitas chat dan call driver yang tersedia di aplikasi transportasi online sangat memudahkan teman-teman disabilitas netra untuk berkomunikasi langsung dengan pengemudi yang akan menjemput. Komunikasi langsung sepanjang perjalanan pun meringankan beban psikologi pengguna transportasi online ini, karena dia tidak khawatir akan tersesat atau salah jalan. Salah turun angkot, atau salah menyetop angkot, adalah hal yang lumrah dalam dunia disabilitas netra. Akan tetapi, dengan model transportasi online, hal tersebut dapat diminimalisir. Transportasi online cerminan tercapainya model trasportasi harapan warga perkotaan sekaligus warga disabilitas netra di kota-kota besar seperti Bandung.’

Harapan ke depan dari seorang Arwanto, sebagai salah satu warga kota Bandung, menginginkan pemerintah Kota Bandung dapat lebih memperhatikan kebutuhan dasar teman-teman disabilitas, apapun jenis kedisabilitasannya, agar hak-hak mereka dapat terpenuhi, seperti warga Kota Bandung yang lainnya, sehingga tidak ada lagi ditemukan kata diskriminasi di kota yang konon mengklaim ramah HAM ini.