Bergaya dengan Jilbab tanpa Bercermin ala Low Vision

0
48

Oleh: Siti Latipah

[Bandung, 3 Desember 2019] Tidak salah jika cermin merupakan faktor utama penunjang dalam bersolek. Ketika bersolek dengan berbagai jenis make up, termasuk saat akan memakai jilbab, benda bernama cermin selalu dicari. Bahkan, banyak sekali perempuan membawa cermin di tasnya. Namun, ada satu hal yang tampak tidak umum. Apakah itu? Itu adalah fakta bahwa, jika tidak semua wanita membutuhkan cermin ketika berhias termasuk ketika memakai jilbab.

“Saya Erni Garnia, saya low vision, difabel netra yang masih punya sisa penglihatan. Dulu, sih, sisa penglihatannya jauh, jadi masih bisa ngaca. Masih kelihatan pantulan saya di cermin. Jadi, pas mau pake jilbab, ya ngaca. Tapi kalau sekarang, emang, sih, masih kelihatan, cuma gak jelas. Ya, percuma ngaca juga. Mendingan gak ngaca sekalian. Terus kalau nyocokin warna jilbab dan bajunya sih masih bisa, kan masih kelihatan.”

Erni melanjutkan ceritanya dengan semangat. “Saya suka pakai jilbab bermotif. Jadi gak takut tuh untuk gak matching. Kalau misal warnanya kelihatan saru, biasanya pas beli, saya cerewet ke penjual atau ke teman yang bareng belanja. Warna dasar jilbabnya apa, motifnya apa, salur-salur, bunga-bunga, atau abstrak. Nah, saya tanya juga motifnya warna-warnanya apa aja. Saya gak suka pakai jilbab langsungan. Saya lebih suka pakai fasmina atau jilbab persegi empat. Saya gak takut pakai peniti. Pakai jarum pentul juga gak takut. Cuma saya lebih suka pakai peniti. Dan betul, sekarang saya gak butuh cermin pas saya pakai jilbab,” tutur perempuan cantik usia 35 tahun itu.

“Oh ya, kalau pas mata saya kumat dan gak bisa kelihatan apa-apa, biasanya saya akan tahu jilbab itu warna apa dari tekstur bahannya, atau dari bentuknya.” Erni mengakhiri ceritanya perihal pengalamannya saat mengenakan jilbab.

Selain Erni, ada juga yang bersedia membagi pengalamannya saat mengenakan jilbab. Perempuan berhijab yang cantik itu bernama Ayu Kirana. Teh Ayu, begitu dirinya akrab disapa, adalah seorang difabel netra total. Berbeda dengan Erni, Teh Ayu sama sekali tidak dapat melihat.

“Saya memilih jilbab itu yang warna-warnanya netral. Hitam, putih, abu-abu. Kalau nyocokin dengan bajunya, biasanya saya pakai baju warna-warni, terus celananya item, atau celananya yang sewarna dengan jilbabnya. Saya juga punya jilbab selain warna tadi. Tapi, ketika mau pakai, saya tanya dulu sama anak saya warna apa itu. Saya gak mau ribet, sih, orangnya. Jadi milih yang simpel-simpel aja. Terus saya nyari aman. Biar orang yang lihat juga nyaman.” kata Ayu Kirana.

Ada juga tips membedakan warna jilbab dari seorang teman difabel netra total, artinya tidak dapat melihat sama sekali.

“Aku, sih, kalau punya tiga jilbab misalnya, warnanya beda, tapi bentuk, ukuran dan tekstur kainnya sama, itu suka dikasih tanda. Contoh, aku punya warna item, putih, sama merah. Nah, ketiga jilbab itu bentuknya sama, ukurannya sama, teksturnya juga sama. Aku akan kasih peniti kecil di ujung jilbab putih tadi. Nah di jilbab yang item, aku kasih peniti yang agak besar. Baru di jilbab yang warna merah, aku gak kasih apa-apa. Gitu, caranya.” ujar Yugi, seorang ASN di sebuah instansi pemerintahan.

Luar biasa, semangat perempuan-perempuan cantik ini untuk tetap tampil percaya diri. Memang pakaian bukan identifikasi baik atau buruk, namun kemuliaan hati dan tindakan kita pada sesama manusia dan alam yang menentukan.