Berenang di Samudera Pemberitaan Difabel (Bagian II—Terakhir)

0
759

Penulis: Siti Latipah

Newsdifabel.comAdi, namanya. Terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 2004. Bandung TV (2004–2012), TVRI Jabar (2012–sekarang), Ponpeparnas2016.com (2016), Konijabar.or.id (2018–2019), Ubahlaku.id (2020), adalah sederet perusahan media yang pernah menaunginya.

Saya lupa, sekitar tahun 2012, 2013,” kata Adi menjawab pertanyaan kapan dirinya pertama kali meliput berita mengenai isu difabel.

“Sangat bangga, karena bisa menyampaikan informasi kepada masyarakat bahwa rekan-rekan penyandang disabilitas juga mampu berprestasi dalam berbagai hal.” lanjutnya.

Adi mengaku, melakukan liputan yang narasumbernya difabel tidak banyak berbeda dengan melakukan liputan lainnya, relatif sama pelaksanaannya. Mempelajari istilah ataupun klasifikasi yang berkaitan dengan difabel, termasuk mempelajari karakteristiknya masing-masing, adalah tantangan yang harus Adi hadapi saat terjun meliput isu difabel. isu yang mengangkat tema kesetaraan, perhatian, terutama dari pemerintah, serta fasilitas umum yang ramah difabel adalah isu-isu yang paling menarik baginya.

“Saya berharap, dengan adanya pemberitaan mengenai disabilitas, teman-teman disabilitas namanya bisa terangkat berdasarkan kemampuan dan prestasi yang dimilikinya.” Adi mengungkapkan harapannya.

Pria yang telah lama berkecimpung di dunia jurnalistik itu berharap agar pemerintah memberikan perhatian yang sama kepada difabel. Jangan sampai muncul isu ketidaksetaraan perlakuan pemerintah kepada warganya.

Cerita pengalaman berenang di samudera berita difabel juga datang dari seorang jurnalis senior, Oris, begitu ia akrab disapa. Pintu gerbang jurnalistik Oris ia buka sejak mengenyam pendidikkan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Bandung pada 2006. Jurnalis yang pernah bekerja di Harian Bandung Ekspres (Jawa Pos Group), dan sampai sekarang aktif di Beritabaik.id ini, pertama kali melakukan peliputan kepada difabel saat dirinya aktif di Detik.com sekitar tahun 2010. Difabel netra yang menjadi narasumber pertamanya.

“Di awal-awal, perasaan yang ada dalam benak saya adalah iba. Saya rasa ini hal wajar ketika orang yang tidak banyak gaul sama disabilitas, kemudian tiba-tiba gaul sama mereka. Banyak hal berbeda yang saya temui, buat saya, hal baru. Jujur, sebelumnya saya enggak pernah kepikiran ngobrol sama kalangan disabilitas. Saya terlalu takut menyinggung, maklum rada baperan saya, mah. Tapi, lama-lama, mah, mulai terbiasa dan bisa menyesuaikan diri dengan mereka,” Oris bercerita.

“Secara umum, sih, enggak ada perbedaan. Tapi, kadang ada beberapa hal teknis yang agak sulit. Misalnya, wawancara teman tuli. Saya butuh orang yang bisa jadi penerjemah. Kalau enggak ada penerjemah, jujur, saya enggak bisa wawancara. Sebenarnya bisa via chat WA, tapi saya lebih suka wawancara langsung. Jadi, harus ngakalin pas kebetulan ada yang bisa bahasa isyarat, baru bisa saya wawancara teman tuli. Kalau untuk teman disabilitas lain, sih, enggak ada masalah teknis. Paling kendalanya lebih pada pergulatan batin, sih. Karena sampai sekarang saya kadang masih berkutat dengan pertanyaan ‘Kalau nanya ini bakal tersinggung enggak, ya‘. Kalau orangnya udah kenal dan cukup dekat, saya bisa lebih enak. Kalau orangnya baru kenal, saya harus meraba-raba dahulu, baru dikasih pertanyaan yang agak sensitif setelah menjalin keakraban. Kalau kesulitan, saya cuma ngerasain satu, sih, (yaitu—red) wawancara teman tuli. Karena sampai sekarang, saya enggak bisa pake bahasa isyarat. Terus, paling saya harus kasih penjelasan ke teman disabilitas atau ke keluarganya yang kurang melek media karena kadang image yang terbangun itu biasanya disabilitas yang diangkat oleh media hanya sisi memprihatinkannya. Jadi, kadang mereka agak kurang berkenan juga kalau saya wawancara.” lanjut Oris panjang lebar.

Harapan Oris terjun meliput isu difabel sederhana saja. Ia berharap, difabel memiliki kepercyaan diri besar dan bisa menjadi inspirasi banyak orang. Dan, jika ada masalah, Oris berharap masalah yang ada dapat diselesaikan dengan mendorongnya melalui berita. Segala hal terkait difabel membuat Oris tertarik. Satu hal yang paling ia hindari adalah menjual kesedihan dari difabel. Karena, baginya, difabel itu selalu memiliki kelebihan dan sisi menarik dari kehidupannya.

“Disabilitas harus lebih bisa diterima dan diberi kesempatan, sebab disabilitas itu punya berbagai kemampuan yang sebenarnya bisa diberdayakan. Faktanya, disabilitas ini masih menjadi kaum yang terpinggirkan, termasuk dalam urusan mencari kerja.” ujar Oris menutup perbincangan.

Pada akhirnya, pemberitaan mengenai isu difabel harus selalu digemakan. Derap langkah dan suara difabel dalam setiap upaya, usaha, dan karya yang dilahirkannya adalah semata untuk menyingkirkan ketidaksetaraan. Melalui jembatan pemberitaan, diharapkan gaung keberadaan difabel yang sama-sama terlahir sebagai manusia, dapat diterima masyarakat secara wajar, tidak lebih, apalagi kurang.

Baca:

Berenang di Samudera Pemberitaan Difabel (Bagian I).