Berenang di Samudera Pemberitaan Difabel (Bagian I)

0
797

Penulis: Siti Latipah

Newsdifabel.com — Ari seorang pewarta yang memulai profesinya di penghujung tahun 90-an. Dirinya menjadi jurnalis buletin eksternal sebuah kampus swasta di kota kembang Bandung bernama Klik pada tahun 1999.

“Waktu itu bayaran saya per terbit buletin Rp75.000. Lumayan buat nambah jajan sebagai mahasiswa tahun 1999.” kata Ari saat diwawancari Newsdifabel.

Setahun kemudian, Ari mengembangkan sayap di dunia jurnalistik dengan bergabung di perusahaan media yang dikenal dan diakui oleh pemerintah dan masyarakat. Hingga menginjak awal tahun 2021, dirinya telah kenyang memakan asam-garam pemberitaan. Secara garis besar, Ari lebih condong memilih jurnalistik radio.

“Saya suka mendengarkan radio dari dulu dan menjadi teman selama dua tahun menganggur akibat tidak lolos UMPTN. Terus kedua, saya didikan dari kakek yang seorang tentara, bahwa radio mempunyai kekuatan untuk meraih pendengar di pelosok dan memiliki sejarah di kemerdekaan RI.” ujar Ari memaparkan alasan mengapa dirinya begitu tertarik dengan radio.

Sekitar tahun 2007, Ari bertemu dengan teman-teman difabel dan melakukan liputan kepada mereka.

“Pertama ketemu sama Teh Cucu dari Bilic (Bandung Independent for Living Center). Terus, pas ada acara di Gedung Sate yaitu kantornya gubernur Jabar, waktu itu Dani Setiawan. Ketemu sama disabilitas daksa yang juga pengurus atletik, bekas anggota tentara, tentang kesetaraan hak kalau gak salah waktu itu pas wawancara. Lupa saya namanya. Pokoknya pake kruk orangnya, dan ngomongnya semi ngebentak. Posturnya tinggi. Terus, dilanjut saat saya menghubungi Kang Hendar sebagai Humas Wyataguna Bandung. Liputan pertama saya adalah soal teman-teman disabilitas netra yang memproduksi hasta karya berupa keset dan lap tangan rajut,” Ari bercerita awal mula menulis berita mengenai difabel.

“Kalau ditanya perasaan, mah, ya pasti kagok (sungkan—red) pas pertama karena takut salah dalam penyampaian kata. Atau membuka obrolan. Takut menyinggung, lah, pada intinya. Hal itu berlaku untuk disabilitas daksa. Beda lagi dengan disabilitas netra. Kalau ketemu harus disentuh, atau dengan suara, narasumber sudah dapat mengenali kita atau gimana. Lebih kaget lagi pas ketemu Kang Suhendar yang diketahui awalnya disabilitas netra tapi usai diwawancarai ngasih kartu nama ke saya. Kaget, dong! ‘Lah, bacanya gimana,’ kata saya dalam hati, karena kartu namanya bukan dari huruf Braille. Lebih kaget lagi pas masuk ke Wyataguna. Ada orang yang sedang kejedot pohon sama tiang yang ada di sana. Waktu itu belum ada kanopi ETC. Kalau siang hareudang (gerah—red), kalau hujan, ya, langsung basah. Tapi balik lagi ke soal orang yang kejedot. Mereka enggak nyesel atau gimana, gitu. Kalau sakit mah pasti kayaknya, tapi malah ketawa-ketawa. Tapi sekarang, mah, udah biasa dengan perilaku keseharian mereka. Untuk teman disabilitas rungu mungkin harus ada interaksi yang lebih intens lagi, karena jarang melakukan wawancara dengan mereka.” lanjut Ari panjang lebar.

Ari mengaku bahwa, tidak ada beda saat melakukan liputan di kalangan masyarakat umum dan disabilitas. Pada dasarnya sama saja sebagai tugas jurnalis, intinya untuk mencari informasi guna mengedukasi dan memberikan hiburan. Namun, cara memperolehnya harus dengan pendekatan sosial dan budaya yang berlaku di tempat itu.

“Hanya saja kalau di masyarakat umum, kita bisa menggunakan bahasa tubuh semisal mengerutkan dahi bila ada jawaban dari narasumber yang kurang mengerti. Nah, itu tidak bisa dilakukan ke narasumber disabilitas netra. Atau kita melontarkan pertanyaan secara verbal ke disabilitas rungu, harus ada pendamping khusus tentunya. Paling itu saja, selebihnya menurut saya sama saja, sih.” papar Ari.

Awal-awal melakukan peliputan mengenai difabel, Ari kebingungan. Dirinya tidak tahu siapa yang harus dihubungi jika ingin mencari berita tentang difabel. Setelah ada jalan untuk melakukannya, laki-laki yang sudah lebih dari 20 tahun aktif di dunia jurnalistik ini ragu, apakah masyarakat difabel mau untuk diliput olehnya. Perasaan sedikit tidak nyaman juga pernah Ari rasakan di masa-masa awal dirinya terjun meliput langsung difabel.

“Orang-orangnya melihat kehadiran kita seperti melihat orang asing. Enggak mau disebut memusuhi, mah. Pikiran saya waktu itu langsung menangkap bahwa, pantes dimarjinalkan kalau sikap mereka ada orang yang tidak senasib langsung bersikap begitu. Kebanyakan, sih, stigma dan prasangka buruk terhadap jurnalis kendalanya.” Ari mengungkapkan kendala yang dialaminya selama melakukan liputan terhadap difabel.

Adapun isu difabel yang pernah diangkatnya adalah mengenai hasta karya difabel netra, jasa pijat-memijat, demonstrasi difabel, tehnologi untuk difabel, pendidikkan, olahraga, ekonomi, ekspedisi alam bebas, dan aksesibilitas ruang publik.

“Seharusnya pemerintah dan masyarakat diharapkan lebih mengerti persoalan yang dihadapi oleh difabel. Apalagi dengan teknologi informasi saat ini yang dapat memudahkan seseorang mengaksesnya. Tapi, kan, sebagian besar kelompok masyarakat kita itu lebih memilih having bukan doing. Lebih memilih mengumpulkan gelar pendidikkan yang banyak daripada mempraktikkannya. Lebih memilih jabatan seabgreg, tanpa menggunakannya sebagai kemaslahatan umat. Jadi, ayo, kita gebrak terus.” ajak Ari.

Pada akhirnya dirinya berharap bahwa, berita atau informasi yang ditayangkan berdampak pada perubahan. Tak terkecuali untuk difabel.

“Jadi jurnalis itu hanya tiga kuncinya. Anti kezaliman, anti kemiskinan, dan anti ketidakadilan,” Ari mengutip kata-kata jurnalis senior Indonesia, Rosihan Anwar.

“Di luar yang tiga itu, seperti keahlian dan lain sebagainya bisa dicari dalam pendidikkan atau durasi perjalanan pengalaman. Sama halnya saat liputan difabel. Apa yang dituturkan oleh kelompok difabel dan ternyata harus dibela, ya, kita liput. Kalau kelompok difabelnya korup terhadap tuntutan yang semula, ya, kita tinggalin. Kalau saya, mah, prinsipnya gitu. Jadi, tidak ada harapan apa-apa bagi jurnalisnya. Hanya menyuarakan ketidakadilan, kezaliman, dan tindakan tidak manusiawi terhadap kelompok difabel. Mudah-mudahan ada perubahan menuju yang lebih. Namanya juga ikhtiar dan perjuangan.” pungkasnya.

Baca:

Berenang di Samudera Pemberitaan Difabel (Bagian II—Terakhir)